Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-66



"Apa wanita itu yang membuatmu pergi?" Genta memulai pembicaraan dengan Cindy yang sejak tadi hanya diam saja, entah kenapa mood Cindy jadi buruk setelah melihat Rena, namun Cindy sadar statusnya sekarang tidak sama lagi.


"Tidak!"


"Siapa yang kamu bohongi? Kita besar bersama, kakak sangat tahu sifatmu ataupun ketika kamu tidak baik-baik saja."


"Jika kakak sudah tau untuk apa bertanya lagi," grutu Cindy sambil memajukan bibirnya, dimana itu justru terlihat lucu dimata Genta, Genta justru mengingat saat-saat mereka masih kecil dulu.


Sedangkan di mobil Devan, Ziko terus mengomeli Devan, sedangkan Rena justru terkekeh geli mendengar pertengkaran kedua sahabatnya ini.


"Sudah-sudah, kamu tidak ada gunanya marah sama Devan Zik, kamu yang cemburu kenapa jadi uring-uringan pada kita" protes Rena pada Ziko yang tidak berhenti mengomel.


"Seharusnya kalian tadi tidak muncul, setidaknya aku bisa satu mobil dengan istriku" umpat Ziko pada kedua sahabatnya ini, dan Ziko yakin Cindy akan salah faham padanya, karena ada Rena bersamanya dan Devan.


"bagaimana kalau istriku cemburu pada Rena, kamu kan tahu sendiri dulu aku pernah meminta bantuan wanita gila ini."


"hey hati-hati kalau bicara, dan apa kamu yakin, Cindy masih mencintaimu, dia saja sudah punya pria lain disisinya, sukurin" Rena justru membuat Ziko terdiam, mendengan kata pria lain.


"Ya sudah turun sana, kamu bisa berhentikan mereka, dan ikut mobilnya" ujar Devan dengan entengnya, karena Devan malas mendengar perdebatan di dalam mobilnya, apa Devan tidak paham kalau bosnya ini gengsinya tinggi.


"Ah sudahlah, cepat ngemudinya, jangan sampai kita ketinggalan mereka," akhirnya Ziko lebih memilih memejamkan kedua matanya dari pada terus berdebat dengan Devan dan Rena.


1jam berlalu, kini semua rombongan sudah sampai di sebuah pantai yang sangat indah, kedua anak kembar itu sangat menyukai air dan pasir, itu sebabnya Cindy dan Genta sering membawa mereka ke pantai.


"Anak-anak sedang berganti baju bersama para babysitternya, lebih baik kamu juga begitu" Genta memberikan sebuah tas yang berisi baju ganti Cindy, dimana Ziko menyaksikan semua itu, Ziko semakin yakin jika keduanya ada hubungan, Ziko mengepal tangannya kuat karena marah, marah karena dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bahkan kami belum bercerai, bagaimana bisa Cindy menikah lagi dan memiliki sepasang anak kembar" gumam Ziko dengan suara yang disertai kekesalan, entah kenapa rasanya Ziko ingin sekali menghajar pria itu, pria yang Ziko kira suami Cindy.


Ziko berlalu dari sana, dia tidak sanggup melihat keromantisan istrinya dengan pria lain, dia berjalan tanpa tujuan, ingin pulang tapi enggan, kalau gak pulang kok makan hati, tiba-tiba pandangan Ziko melihat Azzura dan Azzam yang sedang main pasir, Zikopun berjalan menghampiri keduanya dan memilih duduk disana.


"Biar aku yang menemani mereka" tanpa menunggu jawaban pangasuh anak-anaknya, Ziko langsung mengajak anak kembar itu bermain pasir, hingga mereka bertiga tertawa lepas.


Dari kejauhan Cindy menyaksikan itu, dia tersenyum tanpa berniat mendekat, karena dia ingin menyaksikan moment ini walaupun hanya sebentar, "karakter kalian sama seperti Dady kalian." Gumam Cindy, Cindy berlalu dari sana untuk membeli makanan ringan, dan mengantarkan pada kedua anak kembarnya.


"Dia suka sekali roti kering, kalau tidak berubah," ujar Cindy pada dirinya sendiri, setelah membeli makanan ringan Cindy kembali berjalan menghampiri kedua anak kembarnya.


"Hallo anak Mommy, apa kalian lapar hem?" Cindy duduk diantara mereka, padangan Cindy sempat bersirobot dengan Ziko, Cindy tersenyum demi mengurai kegugupannya, sungguh dia merasa canggung.


Beginilah kalau masih saling Cinta namun berpisah, maka akan merasa grogi satu sama lain, kisahnya tidak akan pernah usai.


"Ini untuk anda, mungkin anda menyukainya," Cindy menyodorkan roti kering itu pada Ziko, namun Ziko sama sekali tidak berniat menerimanya, justru Ziko malah memperlihatkan tangannya yang kotor.


Cindy menghembuskan nafasnya panjang, "baiklah, nanti bisa anda ambil jika lapar," Cindy kini beralih menyuapi makanan ringan kepada kedua buah hatinya yang masih asyik dengan pasir ditangannya.


Akhirnya mau tidak mau Cindy memberikan makanan ringan pada Ziko, tanpa mau berdebat, hatinya tidak bisa berbohong jika dirinya bahagia dengan hal ini, hanya saja Cindy juga sadar siapa dirinya bagi Ziko.


"Uh kenapa wajahku gatal sekali, apa aku boleh minta tolong," pinta Ziko pada Cindy, Ziko mendekatkan wajahnya pada Cindy, dia akan memanfaatkan keadaan ini.


Sedangkan Cindy tidak menjawab, dia langsung melakukan keinginan Ziko, jantungnya mulai berdegup kencang, Cindy menarik tangannya kembali karena dia tidak sanggup, namun sayang, tangan itu langsung di cekal oleh Ziko, hingga keduanya saling memandang dalam diam, tangan Ziko menyusuri pipi mulus nan putih sang istri, dia rindu hal-hal kecil bersama Cindy.


"Maafkan aku..." lirih Ziko, pandangan matanya tidak lepas terus memandang wajah cantik Cindy, dia ingin menikmati wajah cantik di hadapannya ini, agar dia bisa selalu mengenangnya.


"Kak,,,"


"Iya sayang ini kakak,,,"


Cindy langsung tersandar dan menjauhkan tubuhnya dari Ziko, "maafkan."


"Aku yang salah sayang, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"


Cindy hanya mengangguk, pandangan Cindy kini beralih pada kedua anaknya yang tengah bermain dengan para pengasuhnya.


"Apa mereka anak kandungmu?" Ini yang ingin Ziko tanyakan sejak tadi, karena Ziko tidak yakin jika Cindy sudah menikah lagi, apa lagi mereka masih berstatus suami istri.


"Iya, Azzura dan Azzam adalah anak kandungku, aku melahirnkan 2tahun yang lalu," memang benar apa yang Cindy katakan, namun Cindy tidak memberi tahu tepatnya kapan dan ayahnya siapa.


"Apa kamu bahagia?"


"Sangat, aku sangat bahagia, bahkan luar biasa bahagia" ujar Cindy, "meskipun kebahagian itu tidak lengkap tanpamu," batin Cindy lanjutnya.


"kapan?" Ziko mendunduk, berarti benar apa yang iya perkirakan, jika sang istri sudah menikah lagi.


"apanya?" tanya Cindy bingung, bagaimana tidak bingung, dia merasa pertanyaan Ziko seperti ambigu.


"kita masih suami istri, bagaimana mungkin kamu sudah menikah lagi"


Cindy melongo mendengar perkataan Ziko, "siapa yang menikah lagi, dan apa katanya tadi, masih suami istri" batin Cindy.


"omong kosong apa yang kakak katakan, aku sudah tanda tangan surat perceraian kita saat akan pergi," ya Cindy masih mengingat jelas surat perceraian yang iya titipkan pada mamah Nisa untuk Ziko.


"sumpah, aku tidak menemukan surat cerai apapun, itu tandanya kita masih sah suami istri." ujar Ziko, Ziko mana mau bercerai dengan Cindy, wanita yang sangat iya cintai.


"jangan bercanda kak, tidak lucu," Cindy berdiri dan berlalu dari sana, namun baru selangkah tangannya sudah ditarik oleh Ziko hingga Cindy terjatuh dipangkuan Ziko yang masih duduk diatas pasir.