Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-26



Ziko terus melanjutkan aksinya, dia bukannya berhenti malah semakin bergairah, bagaimana tidak, wajah Cindy yang imut membuat Ziko ingin terus merengkuhnya, "sial! Aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku," gumam Ziko dalam hati, Ziko terus ******* bibir Cindy, ******* yang awalnya perlahan kini semakin tak terkendali, ketika tanpa disangka Ziko mendengar lenguhan sang istri, tangannya pun tidak tinggal diam, sekilas Ziko melihat piama Cindy tersingkap, Ziko meraba perut Cindy yang halus dan putih itu, hingga naik kegunung kembar sang istri, tangan Ziko cukup lama bermain main disana.


Ketika tangan Ziko ingin membuka pengait bra Cindy, tiba-tiba Ziko menghentikan aksinya, dia tidak ingin dianggap brengsek oleh Cindy, mengingat dia sendiri yang tidak ingin pada wanita itu awalnya, Ziko segera masuk kedalam kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya.


"entah kenapa aku ingin memiliki dia seutuhnya, ada apa denganku, apa ini cinta, tapi sepertinya tidak akan mungkin" batin Ziko, Ziko meninju tembok didekat kaca wastafel itu, ingin keluar takut tidak bisa mengendalikan diri, "sial!"


Akhirnya Ziko keluar, tanpa melihat Cindy, Ziko segera mengambil bantal dan tidur disofa yang ada dikamarnya, mana mukin Ziko akan terus dikamar mandi, mengingat malam yang semakin larut, apa lagi dirinya besok harus bekerja.


Sedangkan diclub malam, Tesha masih bekerja, karena Club yang cukup ramai, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, sekilas Tesha melihat asisten bosnya yang masih disana dan dalam keadaan mabuk, "kami bekerja siang malam demi sesuap nasi, sedangkan dia dengan mudahnya menghabiskan uang ditempat seperti ini, apa semua orang kaya seperti itu" gumam Tesha yang masih setia memandang Devan yang didampingi para wanita disebelahnya, "ah sudahlah Sha, untuk apa kamu peduli, dia hanya bosmu ditempat kerja," Tesha segera melanjutkan pekerjaannya dan berlalu dari sana, namun tiba tiba dia menghentikan langkahnya, ketika melihat salah satu dari wanita itu memberikan sesuatu diminuman Devan, "apa yang mereka berikan, apa itu obat," gumam Tesha dalam hati.


Tesha berjalan menghampiri Devan dan duduk disana, "mbak dipanggil bos," bohong Tesha, pada kedua prempuan itu.


"Ada apa mami memanggil kita?


"Tidak tahu, mungkin ada yang penting," tanpa menunggu lama kedua perempuan itupun pergi untuk menemui bosnya.


"Semua rencana kita gagal untuk menjeratnya," yang diangguki pula oleh temannya.


"Obat apa yang mereka campurkan pada minuman pak Devan,"gumam Tesha, Tesha membantu Devan untuk berdiri dan membawanya keluar dari tempat itu, bahkan Tesha masih menggunakan seragam kerjanya, "meskipun aku tidak ingin peduli, tetap saja aku tidak tega pak, dimana ya alamatnya, aku harus tanya siapa,,," Tesha bingung mau mengantar bosnya kemana, akhirnya Tesha menepuk nepuk pipi Devan, "pak sadar,,, dimana tempat tinggal bapak?" Namun tetap saja tidak ada respont, "ah Cindy, dia kan sama-sama asisten bos, pasti dia tahu," tanpa menunggu lama Teshapun menghubungi Cindy, dan sialnya Cindy tidak membalas pesan Tesha, "pasti dia sudah tidur, ini kan sudah malam," Teshapun memberanikan diri untuk mengambil ponsel Devan dan membuka sandinya menggunakan jari Devan, tidak lama dia menemukan kontak supir Devan, akhirnya dia menelfon sang supir, tapi sayang supirnya tidak bisa menjemput karena dia lagi pulang kampung, "kalau begitu berikan saja alamatnya pak, biar saya yang mengantarnya pak Devan," setelah Tesha mendapatkan alamatnya dia pun mengantar sang bos menggunakan taksi, "aku harus membayar taksi ini, padahal kan mahal, kan arahnya jauh,ah aku kan bisa meminta ganti besok padanya saat bekerja," gumam Tesha dalam batinnya.


Tidak lama Tesha sampai diapartemen Devan, "sungguh tempat ini sangat mewah, memang benar ya kata orang, orang kaya itu tempat tinggalnya enak, tapi belum tentu hidupnya," Tesha membaringkan Devan disofa besar yang ada diruang tamu apartemennya, "akhirnya sampai juga kerumah anda tuan, sungguh tempatnya sangat enak dan bersih pula," Tesha berdiri hendak berlalu dari sana, namun tangannya tiba-tiba dicekal oleh Devan.


"Jangan pergi,,, temani aku disini" ujar Devan dengan suara yang sangat pelan, Tesha tetap melepas tangannya perlahan dari cekalan tangan Devan, mana mungkin dia akan ditempat ini, akhirnya Tesha benar-benar berlalu dari sana.


*


*


Hari bergulir begitu cepat, sejak kejadian waktu itu, Ziko berusaha menghindari Cindy, karena takut tidak bisa mengontrol hasratnya, hingga Cindy merasa Ziko marah padanya, tapi Cindy tetap diam, karena yang Cindy tahu Ziko memang seperti itu sejak awal pernikahan mereka, "aku sungguh Rindu dengan segala perintahnya waktu itu,,, ada apa sebenarnya dengan kak Ziko, kenapa dia selalu menghindar," Cindy melamun hingga dia tidak sadar jika ada orang diruangannya.


"Mau ngalamun sampai jam berapa sayang," Cindy langsung tersadar dan segera memperbaiki duduknya.


"Papah sedang diruangan Ziko," ujar mamah Nisa yang mengerti Cindy mencari siapa, siapa lagi kalau bukan orang yang selalu membelnya, "apa kamu sibuk nak?"


"Ah tidak mah, apa mamah menginginkan sesuatu? Biar Cindy buatkan mah, minuman apa mungkin"


"Tidak sayang, mamah hanya ingin mengajakmu pergi belanja, apa kamu mau ikut?"


"Tapi mah,,, Cindy belum ijin sama kak Ziko, Cindy ijin dulu ya mah"


"Tentu, ayo sekalian keruangan Ziko bersama mamah" mereka berdua berdiri dan berjalan keluar untuk menuju ruangan Ziko, tidak lama keduanya sudah masuk keruangan Ziko, disana sudah ada sang papah Devan dan juga Ziko.


"Kak, apa aku boleh pergi ikut mamah?" Tanya Cindy dengan suara pelannya.


"Hem" hanya hem, Ziko benar benar menjaga jarak dari Cindy sekarang.


"Terima kasih kak, pah Cindy pergi dulu ya" Cindy berjalan menghampiri papah mertuanya dan menyalami juga.


"Bersenang senangkah nak, jaga mamah baik baik ya."


"Pasti pah" jawab Cindy cepat dengan senyum pepsodentnya, akhirnya mereka berduapun berlalu dari sana, setelah mendapat ijin dari bos besar dan tuan muda.


"bagaimana nak?"


"apanya mah?"


"hubunganmu dengan Ziko, mamah harap kamu bisa bersabar dengannya ya, dia sebenarnya tidak buruk, hanya saja keadaan yang membuatnya seperti itu," ujar sang mamah sambil menepuk tangan menantunya, dia yakin Cindy sangat tidak nyaman dengan Ziko, yang Sangat keras itu.


"baik kok mah, lagian rumah tangga seperti apa yang aku harus hadapi, karena semua rumah tangga pasti ada ujiannya mah, cuman rasanya yang berbeda."


"kamu benar sayang, semoga kelak kamu akan bahagia bersama Ziko ya, yakinkah dia sangar baik nak, mungkin kamu belum tahu, tapi suatu saat mamah yakin kamu bisa melihat kebaikannya.