
"Iya tante Nisa, ini hanya mau konfirmasi kalau Zi-"
Ziko langsung merebut ponsel yang masih tersambung itu dan mematikannya, dia mendelik melihat Devan, "apa yang kamu lakukan!" bentak Ziko, Ziko paling tidak bisa jika harus membuat mamah sambungnya kecewa, babahkan sang mamah sangat kecewa padanya saat kejadian Cindy pergi, bahkan mamah Nisa tidak menegurnya selama 1tahun, apa jadinya kalau sekarang Ziko menolak perintah sang mamah, karena hanya mamah Nisa yang mengerti dirinya selama ini, bahkan sang ayah tidak paham dirinya sama sekali. Pikir Ziko.
"kamu sendiri yang menyuruhku memberi tahu Kalau kamu tidak ingin pergi ke kota S, jadi aku menelfon tante Nisa" Devan berkata tanpa bersalah, bahkan wajah Ziko sudah merah padam, suka sekali anak ini mencari masalah, pikir Ziko.
"aku akan ikut denganmu, ingin rasanya aku membunuhmu!" geram Ziko. Ziko keluar meninggalkan Jay dan Devan, dia ingin pulang dan istirahat, bahkan Devan tertawa lepas setelah melihat kekesalan diwajah sahabat sekaligus bosnya itu.
Ziko sudah berada di dalam mobilnya, Ziko melihat jalanan yang sangat padat, dia duduk dibelakang kemudi, Ziko selalu memfokuskan pandangannya di setian jalan, Ziko berharap Dia bertemu sang istri, dan sayangnya usahanya yang inipun tetap sia-sia, "apa kamu benar-benar akan pergi" gumam Ziko sangat pelan, yang hanya didengar dirinya saja.
......................
"mah,,, Mah,,," anak yang baru berumur 2tahun 1bulan itu berjalan menghampiri sang mamah yang baru pulang bekerja, anak yang masih lucu-lucunya, dan dengan tingkah lincahnya bisa membuat Sang mamah merasa punya hiburan tersendiri, apa lagi suaranya yang masih cadel itu menjadi sangat lucu bagi siapapun yang mendengarnya.
"wah jagoan mamah sedang apa sayang, dimana princesnya?" Cindy merentangkan tangannya agar sang anak laki-laki memeluk dirinya.
"Andi mah." ujar Nya dengan suara yang sangat lucu
"Mandi?"
bocah kecil itu hanya mengangguk, sambil memainkan benda yang berserakan dilantai, bocah kecil itu juga melemparkan bola kemana-mana, hingga ruang tamu itu seperti kapal pecah, namanya anak-anak ya, tempat akan berantakan jika ada anak kecil dirumah.
"apa jagoan mamah ini sudah mandi" tanya Cindy pada putranya yang masih sibuk dengan mainan ditangannya.
"wah sudah mandi rupanya, anak mamah memang pintar," Cindy membawa sang anak kedalam pelukannya, Cindy bersyukur, anak-anaknya sangat gampang semua dan mudah diasuh, bahkan seperti sangat mengerti keadaannya.
"mamah pulang,,, hore,,," princespun keluar dari kamar dan langsung berlari memeluk sang mamah, ketika melihat mamahnya sudah duduk dengan sang kakak.
Ya, Cindy melahirkan kedua anak kembar, yang berjenis laki-laki dan perempuan, sejak orang tuanya meninggal, Cindy lebih memilih pergi dari rumah itu, karena tidak kuat jika hidup dirumah yang penuh kenangan bersam kendiang kedua orang tuanya, karenaya tengah berbadan dua, Cindy lebih memilih menyendiri dan menata hidupnya, agar tidak berpengaruh pada kesehatan janin-nya.
Meskipun begitu, Cindy masih menjaga komunikasi baik dengan kedua mantan mertuanya, karena bagaimanapun mereka lah yang selama ini memberi dukungan pada dirinya.
drezttt
"ayo anak-anak kemari, kakeh nenek menelfon nie, cepat kesini."
Kedua bocah kecil itu berlari menghampiri sang mamah, dan kedua bocah itu langsung memenuhi layar ponsel Cindy.
"Eyang uti"
"Eyang kakung"
panggil keduanya secara bersamaan, dan itu sukses membuat kedua orang tua itu terkekeh.