Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-34



"Sudah jangan membahas yang tidak-tidak, ini tempat umum malu," bisik Cindy, Cindy membekap mulut suaminya agar tidak terus membahas hal vulgar itu, sepertinya Cindy lupa jika orang-orang disana tidak bisa bahasa mereka,


"Setelah ini lagi ya," Ziko masih saja menggoda istrinya, karena Ziko suka jika Cindy menyentuh wajahnya.


"Kak! Kenapa kakak masih  membahas hal itu," sungut Cindy, Ziko masih saja membahas hal itu, dimana itu justru membuat Cindy semakin malu, "kak lihat disana, ada penjual kebab," tunjuk Cindy pada sebuah kedai kecil, dan ada beberapa orang yang sedang makan disana, "ayo kita beli kebab disana, sepertinya enak, lihatlah pengunjungnya banyak, pasti enak," celoteh Cindy panjang lebar, kak"


"Tidak! Jangan makan disana, tempatnya kotor, kita makan diresto hotel saja!" Tolak Ziko dengan tegas, Ziko tidak terbiasa makan ditempat seperti itu, apa lagi dipinggir jalan, sudah pasti akan banyak debu, pikir Ziko, mengingat kendaraan yang berlalu lalang.


Sedangkan Cindy langsung mengerucutkan bibirnya tanda mengambek, setelah mendapat penolakan dari suaminya, dia kesal karena suaminya tidak menuruti keinginannya, entah sejak kapan Cindy menyukai jajanan kaki lima, yang pasti sejak dia menikah, hidupnya berubah drastis, dari barang branded hingga biasa, biasa foya-foya jadi tidak, dan masih banyak lagi yang lainnya, tapi Cindy lebih menyukai hidupnya yang sekarang, dimana dirinya bebas mau apapun, tanpa menjaga imaj.


"Ya sudah, kakak saja yang makan diresto, aku akan beli makanan itu saja, sepertinya enak," Cindy berjalan pergi meninggakan Ziko begitu saja.


"Memang kamu akan membayar pakai apa?" Ziko tersenyum penuh kemenangan setelah melihat Cindy menghentikan langkahnya, Ziko yakin Cindy akan menuruti keinginanya, karena Ziko tahu jika Cindy tidak membawa tas tadi, ketika keluar kamar hotel.


Cindy menoleh dan tersenyum pada suaminya, dia mengeluarkan uang dari saku mantalnya, dan memperlihatkan pada sang suami dengan memainkan alisnya, seperti berkata jika aku punya uang, "kakak tahu istilah ibu mertua terbaik," sebelum berangkat bulan madu, mamah Nisa memberikan uang pada Cindy, awalnya iya memberi kartu debit, tapi Cindy menolaknya, karena dia ada kartu dari Ziko, akhirnya mamah Nisa memberi uang cas yang berada didompetnya, mamah Nisa mengatakan jika butuh hal kecil buat jaga-jaga dijalan katanya, karena mamah Nisa tahu jika Ziko jarang membawa uang cas, Cindy kembali berjalan setelah mengedipkan sebelah mata pada sang suami.


"Kenapa dia jadi pembangkang sekarang," grutu Ziko sambil menyusul istrinya, "lihat saja nanti kalau sampai kamar, habis kamu sayang," batin Ziko, akhirnya mau tidak mau Ziko menuruti keinginan sang istri, lagian Ziko tidak se mengengkang itu dalam hal apapun, lebih tepatnya dia bukan pemaksa.


"Ini sungguh enak kak,,," girang Cindy dengan mulut yang penuh dengan makanan kebab khas turki itu, Cindy bahkan membeli 3 buah, hingga Ziko menggeleng melihat kelakuan istrinya.


"Habiskan dulu baru bicara, kalau tersedak gimana!" Omel Ziko sambil membantu Cindy membersihkan sisa-sisa saus didaerah mulutnya, "bahkan kamu makan seperti anak kecil."


"Ini kakak coba," Cindy menyodorkan kebab itu kedepan mulut Ziko.


"Gak!" Tolak Ziko dengan tegas.


"Kak,,," Cindy memasang wajah sedihnya agar suaminya mau memakan pemberiannya, sedangkan Ziko yang melihat itu langsung menarik nafasnya panjang, mau tidak mau Ziko membuka mulutnya, meskipun terlihat enggan.


"Kenapa aku sekarang menurut padanya, sepertinya ada yang salah denganku" batin Ziko sambil memandang Cindy yang kini tersenyum padanya.


"Aku tahu kak, kalau aku tuh cantik, jadi jangan memandangku begitu, aku jadi takut," kelakar Cindy, Cindy akan membangun hubungan yang manis dengan suaminya, jadi dia tidak ingin kaku jika bersama Ziko.


Tidak lama keduanya sudah sampai dikamar mereka, Cindy masuk dan melepas mantal juga syalnya, dia mengantuk sekali akibat kekenyangan, setelah dari kebab Ziko mengajak Cindy makan malam.


"Sayang kamu tidak berencana memberikan makanan penutup?"


"Lah, apa kakak belum kenyang, seharusnya kakak bilang tadi, jadikan aku bisa bawakan disert kak."


gubrakkkk, "astaga,,, apa dia mengira aku membahas makanan," batin Ziko, Ziko berjalan menuju sofa dan duduk disana, dia terus melihat sang istri yang tengah menggelung rabutnya seperti kuncir kuda, hingga memperlihatkan leher jenjangnya, tidak lama Cindy berjalan kearah suaminya yang tengah dudu Dan memegang perut sang suami.


"Kalau kakak masih lapar biar kupesan makan saja ya kak biar diantar kesini," Cindy tidak sadar jika tangannya yang memegang perut sang suami, sesekali mengenai benda kramatnya.


"Hentikan! Bukan perut kakak yang lapar, tapi ini," tanpa basa-basi Ziko membawa tangan Cindy untuk menyentuh juniornya, setelah Cindy paham maksud suaminya dia langsung menelan selavinanya dengan kasar, bukan ingin menolak, tapi Cindy yakin permainan ini akan sampai pagi, mengingat ucapan suaminya tadi, jika dirinya harus membayar waktu jalan-jalannya. 


"Habis kamu kali ini Cin, sungguh aku percaya sekarang, pepatah yang mengatakan jika didunia ini tidak ada yang gratis" gumam Cindy dalam hatinya.


Ziko mulai mendekati istrinya dan memulai permainanya, Cindy yang awalnya menolak kini ikut terbuai akibat permainan panas sang suami, "kak,,," desah Cindy, sedangkan Ziko yang mendengar itu langsung tersenyum penuh kemengan, karena jika sudah begini, maka tidak akan ada penolakan dari sang istri.


"Habis kali ini kamu sayang," gumam Ziko dalam hatinya, dan benar saja Ziko bermain hingga dini hari, hingga Cindy kelelahan dan terlelap, Ziko tidak ingin menyia nyiakan bulan madu mereka yang hanya sebentar itu.


Pagi pun tiba, Ziko terbangun dan melihat istrinya yang masih terlelap, dia tersenyum dan mengecup kening sang istri cukup lama "morning sayang," Ziko segera kekamar mandi untuk mandi, tidak lama Ziko keluar dengan badan yang sudah segar, Ziko menelfon petugas hotel untuk mengirim sarapan kekamarnya, tidak lama makananpun tiba, Ziko menata makanan itu di meja dekat sofa dan berjalan untuk membangunkan istrinya, "sayang,,, bangun yuk sarapan."


Cindy yang merasa terganggu dengan belaian dipipinya pun terbangun, dan melihat suaminya yng tersenyum padanya, "pagi kak," namun setelah mengatan itu Cindy kembali memejamkan matanya.


"Sayang ayo bangun, sarapan, habis itu kita jalan-jalan, apa kamu tidak ingin keliling kota istanbul ini?"


"Benarkan!" Cindy langsung membuka kedua matanya lebar-lebar setelah mendengar kata jalan-jalan.


"Tentu, tapi sarapan dulu."


"Siap," Cindy langsung bangun dan berlari kecil kearah kamar mandi, Ziko menggeleng melihat istirinya yang begitu seneng hanya diajak jalan-jalan.