
Pagipun tiba, Ziko bersiap pergi kekantor, tapi tidak dengan Cindy, dia masih tidak mau masuk kerja, dan seperti biasa dia sedang bermalas malasan, "kakak akan cepat pulang, ingat kakak pulang kamu harus sudah mandi lho sayang, kalau gak, hal kemaren akan terjadi lagi," Ziko mrngedipkan sebelah matanya dan segera pergi untuk bekerja, meninggalkan Cindy yang masih ditempat tidur.
"dasar kak Ziko," Cindy terkekeh kecil melihat tingakah suaminya yang sekarang.
"Entah kenapa aku rasanya ingin tidur terus, kepalaku juga sangat pusing, apa sebaiknya aku periksa saja ya, mungkin tensiku rendah," gumam Cindy, dia beranjak dari tidurnya untuk mandi dan ingin pergi ke dokter, dia juga ingin bekerja seperti biasa, kalau begini terus mana mungkin bisa bekerja pikir Cindy.
"Kau sudah disini rupanya," Ziko masuk dan duduk dikursi kebesarannya.
"Tentu saja, bukannya bos saya itu orang yang tepat waktu," ejek Devan, setengah menyindir Ziko, karena Devan dan Jay sudah disana 1jam yang lalu, dan Ziko baru datang.
Sedangkan Ziko sama sekali tidak menanggapi sindiran Devan.
"Ada apa menyuruhku kesini?" Kini Jay yang bertanya, Jay tidak ingin mendengar perdebatan keduanya, karena sudah bisa dipastikan tidak akan ada yang usai.
"Satu minggu lagi akan ada pesta ulang tahun prusahaan, aku ingin semua penjagaan diperketat, dan hari itu akan aku umumkan pernikahanku dengan Cindy keseluruh tamu undangan."
"Aku sudah melakukan semuanya, dan kamu tidak perlu hawatir biar aku yang mengurus semua."
"Good, kau memang yang terbaik," kini Ziko mengalihkan pandangannya pada Devan.
"Apa?" Tanya Devan yang tahu jika bosnya sedang melihat kearahnya.
"Gaun dan-"
"Yayaya sudah semua, gaun prancang terbaik dan perhiasan semua sudah aku pesankan, sesuai perkataanmu semalam," potong Devan.
"Kalian memang yang terbaik," puji Ziko, dimana itu hanya di acuhkan oleh keduanya, karena Mereka tahu bosnya itu akan berubah ubah seperti bunglon.
Ziko melihat ponselnya dan disana terlihat nama sang istri.
"Iya sayang?" tanya Ziko setelah telfonnya tersambung.
Sedangkan kedua sahabat Ziko mencebikkan bibirnya yang mendengar panggilan Ziko pada sang istri, keduanyapun bersamaan keluar dari ruangan Ziko, karena tidak ingin mendengar kebucinan sang bos.
"Kakak lagi dimana?"
"Dikantor, ada apa sayang?"
"Tidak, hanya bertanya saja, kalau begitu aku tutup dulu ya kak telfonnya, muach" Cindy langsung menutup ponselnya begitu saja, karena namanya sudah dipanggil oleh perawat.
"Selamat siang nyonya, ada yang bisa dibantu?" Tanya dokter itu setelah Cindy duduk dihadapannya.
"Begini dok, saya kalau pagi pusing akhir-akhir ini, dan kalau mencium bau bumbu dapur suka mutah-mutah dok" jelas Cindy pada dokter umum itu.
Dokter itu langsung tersenyum, dia memberikan tes peck pada Cindy, "anda bisa tes dulu nyonya, silahkan disana kamar mandinya," tunjuk dokter kearah kamar mandi yang ada di ruangan itu.
"Terima kasih dok, ini caranya bagaimana?"
"Disana tertera cara menggunakannya Nyonya."
Cindypun segera masuk ketoilet setelah membaca cara menggunakannya, "ini kan buat cek kehamilan, apa mungkin aku kamil, bahkan dokter itu tidak memeriksaku sama sekali, hanya memberi ini," grutu Cindy sambil menunggu hasilnya setelah dia melakukan caranya tadi.
Tidak lama muncul dua garis disana, Cindy yang melihat itu langaung tersenyum senang, bahkan kedua matanya berkaca-kaca, akhirnya dia akan punya buah hati bersama suaminya, dan sebentar lagi akan menjadi mommy.