Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-39



"Kak, aku mandi duluan ya, ini sudah sore," setelah melihat suaminya mengangguk Cindypun masuk kedalam kamar mandi, tidak lama terdengar suara air bergemericik, itu tandanya Cindy sedang mandi.


Sedangkan Ziko tersenyum licik mendengar itu, dia melepas semua kain yang menempel ditubuhnya dan  masuk kedalam kamar mandi dengan perlahan, dia melihat sang istri dibawah kucuran Air Shower yang terlihat Seksi, Ziko langsung saja memeluk istrinya dari belakang, hingga membuat  Cindy terlonjak kaget.


"Lho kak, kok ka- mmm" Ziko langsung membungkan bibir Cindy dengan ciuman panasnya, Ziko seperti tidak pernah bosan dengan tubuh istrinya itu, yang sekarang akan selalu menjadu candunya.


Ziko terus mencium Cindy, hingga lama kelamaan Cindypun membalas tidak kalah panasnya.


Ziko terus tersenyum penuh kemenangnan setelah meliahat reaksi Cindy, Ziko terus mencium Cindy dibawah kucuran air shower, entah kenapa semua itu menambahkan kesan tersendiri bagi Ziko.


"Bagaimana sayang" tanya Ziko dengan suara beratnya namun lirih.


"Kak,,," racau Cindy.


"good baby."


1jam berlalu, keduanya baru saja keluar kamar mandi setelah menghabiskan hal panas disana, bahkan keduanya sama-sama melempar senyum.


Kini Cindy sudah bersiap akan pergi, dimana itu dimulai dengan banyaknya drama dari Ziko, yang selalu melarang istrinya menggunakan ini itulah.


"Aku berangkat ya kak, benaran kakak tidak akan ikut?" ulang Cindy lagi, sejak tadi Cindy sudah menanyakan terus menerus dan jawaban Ziko masih sama, TIDAK


"Iya sayang, hati-hati, jangan terlalu malam," pesan Ziko pada Cindy, dimana itu mendapat anggukan dari sang istri.


"Cla ayo!" Teriak Cindy dari dalam mobilnya, ketika dia menuju rumah Clara, Cindy melihat Clara yang menunggu didepan rumahnya, jadi Cindy tidak perlu turun, karena Clara sudah siap.


"tumben bawa si merah?" tanya Clara.


Kini Clara dan Cindy sudah berada didalam mobil untuk menuju hotel indah.


"kak Ziko melarangku naik motor bos"


"Wah sepertinya kak Ziko sudah mencintaimu ya Cin? hingga menjaga kamu segitunya"


"Kenapa?" Bukannya menjawab Cindy justru bertanya.


"Karena wajahmu seperti penuh dengan kebahagian, sejak tadi kamu selalu tersenyum," goda Clara, jika memang Iya, Clara turut senang untuk sahabatnya ini, karena Clara tahu perjuangan Cindy selama menikah sudah cukup berat, pikir Clara.


"Iya Cla, aku bahagia, sangat" cerita Cindy, "bahkan aku sangat mencintainya Cla, dan apa kamu tahu, dia juga mencintaiku Cla," senyum merekah terlihat jelas diwajah Cindy, dan Clara bisa melihat itu.


"Semoga langgeng ya Cin, ingat Cinta saja tidak cukup untuk rumah tangga, kalian harus saling percaya, saling melindungi dan berbagi, apapun itu entah bahagia atau sedih, jalani bersama," nasehat Clara.


"Baik cekgu," kelakar Cindy, Cindy tidak suka jika sedang bersama temannya terlalu serius, tapi tak ayal Cindy akan melakukan seperti kata temannya ini, karena memang itu benar adanya.


"Waw kamu meneraktirku di sini Cla," Cindy merasa temannya ini salah tempat, karena dia tidak pernah pergi dengan Clara ditempat mewah seperti ini, apa lagi ini hotel mewah tempat kalangan atas, pikir Cindy


"Tentu, tapi bukan aku yang akan mentraktirmu, melaikan Dika yang akan mentraktir kita," tanpa beban Clara mengatakannya, sedangkan Cindy langsung terdiam, dia tidak ingin bertemu dika bukan karena apa, karena Cindy tahu kalau suaminya tidak suka.


"Cla maaf,,, tapi aku sebaiknya pulang saja, bukan apa-apa Cla, tapi kan kamu tahu sendiri, kak Ziko tidak suka sama Dika, jadi-"


"Aku mengerti Cin, hanya saja ini bukan untuk membahas masalah pribadi, dia hanya ingin meminta maaf padamu, dan hanya aku yang bisa membuat kalian bertemu, jadi maafkan aku," sela Clara cepa.


"aku akan melakukan apapun Cin, demi kebahagian Dika," gumam Clara dalam batinnya, Clara berharap diberakhir sampai disini.


"Please Cin," mohon Clara, karena Clara ingin membantu Dika bertemu dengan Cindy dan mendengar sendiri apa yang ingin Dika dengar dari Cindy, bahwa Cindy sudah bahagia dengan suaminya.


seperti yang Dika katakan, jika dia akan menjauhi Cindy jika dirinya mendengar sendiri jika dia bahagia.


Cindy diam beberapa saat, "baiklah, tapi hanya sebentar ya, karena aku tidak ingin kak Ziko salah paham" akhirnya Cindy menuruti keinginan sahabatnya itu, dan untuk trakhir kalinya.


Sedangkan tidak jauh dari mereka berbincang, ada kedua sepasang mata, yang sedari beberapa bulan trakhir ini menamati Cindy, dimana yang mereka tahu Cindy adalah istri seorang Ziko Anderson.


"target berada di resto hotel Indah, dan tidak ada penjagaan ketat seperti biasa, hanya ada 2orang, itupun jarak jauh," lapor pengintai itu pada bos besarnya.


Sedangkan disebrang terdengar suara tawa yang begitu puas, dimana dia akan menghancurkan Ziko untuk kesekian kalinya, "kamu akan hancur seperti aku Ziko anderson!! dan hanya wanita itu yang bisa melancarkan dendamku ini." Gumam Orang itu penuh dengan amarah dikedua matanya.


"Hay, apa kalian sudah menunggu lama?" Dika duduk didepan kedua wanita cantik yang kini tengah tertawa renyah, entah apa yang keduanya bahas.


"Hay ka."


"Dika."


Sapa mereka berdua secara bersamaan, dimana itu mengundang tawa Dika, "apa kalian sudah pesan makananya?"  Dika melihat keduanya secara bergantian, dan mereka berduan menggeleng bersamaa.


"Biar aku yang pesan, kalian bisa mengobrol dulu," Clara berdiri dan segera berlalu dari sana, sebenarnya Bisa saja memanggil pelayan, hanya saja Clara sengaja memberi ruang pada keduanya, sekalian dia akan ketoilet.


"Cin," sapa Dika, Dika memandang Cindy dengan tatapan yang sulit diartikan, hatinya masih sama ketika bertemu Cindy, selalu berdegup dengan kencang.


Sedangkan Cindy mengangkat wajahnya setelah menunggu Dika tidak kunjung bicara, karena dia sambil membalas pesan sang suami.


"Kenapa ka?"


"Apa kamu mencintai suamimu?"


Cindy heran denga pertanyaan Dika, tapi tak urung diapun menjawab dengan pasti, "sangat Ka," jawab Cindy tanpa keraguan sedikitpun, karena memang hatinya sudah penuh untuk suaminya, dan dia tidak ingin ada yang mengisi lagi selain suaminya.


"Apa kamu bahagia?"


"Tentu, pertanyaan kamu ini aneh sekali."


"Apa hati kamu sudah tidak ada aku Cin, walaupun hanya sekedar sayang?" ulang Dika lagi, tanpa peduli perkataan Cindy.


Sudah Cindy duga ini yang akan terjadi, karena ketika Cindy berhubungan dengan Dika diantara keduanya tidak ada kata putus, itu sebabnya ada pertanyaan seperti itu.


Cindy menarik nafasnya panjang sebelum menjawab Dika, dia menatap dika terlebih dahulu. "Maafkan aku Ka, sejak kita lulus aku sudah tidak pernah memikirkanmu, dan maaf sepertinya selama ini aku tidak mencintai kamu, hanya saja aku nyaman saat bersamamu, maaf jika aku berkata seperti ini, dan perkataanku menyakitimu, tapi inilah kenyataannya, aku tidak bisa berbohong padamu," ujar Cindy dengan lirihnya, dia bisa melihat raut kecewa dari Dika, tapi ini lebih baik, karena Cindy tidak ingin memberi harapan pada Dika.


"masih ada Ka wanita yang sangat mencintaimu, dan dia akan bisa membuatmu bahagia," lanjut Cindy lagi.


"siapa?"


"di-"


"permisi,,,"