
"Sebaiknya kita pergi berdua saja, lagian dia tidak akan bangun," Devan menarik tangan Rena agar pergi dari sana, mereka berdua akhirnya meninggalkan Ziko.
Kini mereka tengah berada didalam mobil, mereka berdua tidak tahu akan kemana, yang penting jalan saja. Pikir keduanya.
"Bagaimana kabar istri Ziko?" Rena memulai pembicaraannya dengan Devan, Rena yakin Devan tahu segalanya, karena seorang Devan tidak akan diam saja jika Cindy tidak ditemukan, apa lagi Devan paling tidak tega jika melihat Ziko uring-uringan tidak jelas setiap harinya.
"Mana aku tahu," Devan fokus kedepan tanpa mau menatap Rena yang tengah melihat kearahnya dengan intens, dia tengah menyelidik Devan dengan tatapan curiga, itu sebabnya Devan tidak berani menatap Rena yang terus melihat dirinya.
"Sudah kuduga, pasti kamu tahu segalanya, kenapa kamu tidak memberi tahu Ziko, apa kamu tidak kasihan padanya, bahkan kamu dengan sengaja mengelabui Jay," ya, Rena bisa melihat jika temannya ini menutup sesuatu darinya, karena hanya Devan yang tidak bisa berbohong padanya, apa lagi mengenai Masalah sebesar ini, karena setiap membahas Cindy hanya Devan yang terlihat biasa saja.
"Sial, inilah yang tidak aku sukai jika bersama betina satu ini" umpat Devan dalam hatinya.
"Aku tidak bisa melawan bos besar, lagian ini semua salah Ziko, tapi aku tidak tahu dimana keberadaan Cindy, yang aku tahu dia baik-baik saja dengan kedua anak kembarnya itu."
WHAT?? anak kembar, apa Ziko punya anak kembar?" Rena tidak menyangka Jika saat itu Cindy tengah mengandung, "tapi kenapa dia tidak memberi tahu Ziko saat itu," gumam Rena yang masih didengar oleh Devan.
"Bagaimana caranya memberi tahu, jika saat itu Ziko sudah keterlaluan," ya, Devan juga kecewa dengan perbuatan Ziko dimasalu, hingga membuat Cindy pergi darinya, apa lagi ketika Devan mendengar dari bos besarnya bagaimana Cindy melewati semuanya, dan kepergian kedua orang tuanya.
Rena tidak menjawab, dia juga membenarkan perkataan Devan, karena jika Rena berada di posisi Cindy maka dia akan melakukan hal yang sama, bahkan Rena juga merasa telah berbuat salah pada Cindy karena telah melukai hatinya.
"Kita akan kemana ini?" Tanya Rena
"Mana aku tahu, orang yang ingin kita ajak main saja tidak mau ikut" Devan membelokkan mobilnya ke pom.
"Apa sebaiknya kita makan saja di makanan khas kota S ini, karena yang aku dengar makanan daerah sini tuh enak-enak."
Sedangkan disebuah rumah yang cukup luas ada anak kembar yang tengah bersiap untuk pergi bersama Sang papi, anak itu tidak lain adalah kedua anak kembar Cindy.
"Kamu itu dek lama sekali bersiapnya," grutu Genta ketika melihat Cindy tengah berjalan kearah mereka.
Sedangkan Cindy hanya tersenyum sambil memperlihatkan sederettan gigi putihnya yang rapih, "apa semuanya sudah siap?" Tanya Cindy pada ART beserta kedua babysitternya, ya, Cindy setiap berlibur pasti mengajak semua seisi rumahnya.
"Sudah Nona" mereka semua keluar dari rumah itu menuju mobil, dengan sikembar digendongan Genta.
"Kita semua belum sarapan, akan sarapan dimana dek?" Tanya Genta sambil mengemudi mobilnya bersatu dengan kemudi lain, tentunya dengan si kembar yang dipangku oleh babysitter masing-masing.
"Diresto Sedarat saja kak, disana banyak menu, kita bisa memilih selera masing-masing" jawab Cindy, Genta hanya mengangguk.
Setengah jam berlalu, Genta beserta Cindy sudah sampai diResto Sedarat, mereka semua turun setelah Genta memarkirkan mobilnya, "hati-hati sus," ujar Cindy ketika melihat sikembar justru tertidur didalam mobil,Azzam dan Azzura akan tertidur jika berada dalam mobil, tidak lama Azzam mengerjab-ngerjabkan kedua kelopak matanya.
"Wah anak mommy sudah bangun ternyata," Cindy mengacak-acak rambut Azzam, sedangkan Genta langsung mengambil Azzam dari gendongan babysitternya.
"Oh jagoan, apa jogoan Papi lapar?"
"Maem papi," ujar Azzam dengan suara cadelnya.
Sedangkan Azzura hanya melihat kakaknya karena dia juga baru bangun tidur.
Deg... " apa itu Cindy, apa aku berhalusinasi" gumam Rena yang masih fokus menatap seseorang yang tengah masuk kedalam Restoran yang sama dengan dirinya.
"Hey lihat itu" ujar Rena dengan suara sangat pelan, hungga Devan tidak mendengarnya, Rena menyenggol kaki Devan, agar Devan bisa merespont dirinya, dan menunjuk Cindy yang tengah masuk kedalam Resto yang sama dengan mereka.
Devan menoleh, matanya langsung membola melihat Cindy berada dihadapannya, bagaimana tidak, orang yang selalu disembunyikan oleh tuan besar kini berada di hadapannya, sungguh ini sebuah kebetulan yang luar biasa, "cepat hubungi Ziko sekarang!" Tanpa sadar Devan mengeraskan suaranya.
Sedangkan Rena yang mendengar nada tinggi Devan langsung membungkam mulut temannya itu menggunakan telapak tangannya, "pelankan suaramu itu bodoh! Nanti Cindy mendengarnya." Kesal Rena.
"Ok ok maaf, aku hanya reflek saja tadi," Devan segera mengambil ponselnya dan menelfon Ziko, namun sama sekali Ziko tidak mengangkatnya, jangankan diangkat, bahkan telfonnya tidak aktif.
"Bodoh kau Ziko, kali ini kamu akan menyesal jika tidak mengangkat telfonmu" umpat Devan yang masih berusaha menelfon Ziko.
Devan tidak kehilangan akal, diapun menelfon ke telfon hotel dimana tempat Ziko menginap, dia meminta resepsionis untuk menyambungkan ke telfon kamar 131.
Dan benar saja, tidak lama telfon itu tersambung, "ada apa menggangguku sialan!" ujar Ziko yang masih mengantuk.
"lihat ponselmu jika kamu tidak ingin menyesal." tanpa menunggu jawab Ziko, Devan langsung menutup telfonnya.
"sialan! Main menutup telfonnya saja setelah aku menerimanya, memangnya ada apa di ponsel sehingga aku akan menyesal.
Namun tak urung Ziko segera mengaktifkan ponselnya dan melihat apa yang Devan kirim.
Kedua bola matanya langsung membulat sama seperti Devan yang sok, Zikopun tidak kalah Shoknya, Ziko segera menelfon Devan dengan tidak sabaran, karena Ziko akan memastikan benar atau tidak.
"lihatlah, sudah aku bilang, dia akan menelfon dalam waktu 10menit, bahkan ini belum 10 menit" ujar Devan pada Rena yang tidak percaya jika Ziko akan menelfonnya, bahkan Devan memperlihatkan nama yang tertera pada layar ponselnya, tanpa berniat mengangkatnya.
"hey kenapa kamu diam saja, cepatlah angkat atau kamu akan kena damprat nanti olehnya."
"Biarkan saja, sekali-kali kita perlu memberi pelajaran padanya."
Setelah telfon ke empat, baru Devan mengangkatnya. "ada ap-"
"apa kamu tuli! Sehingga lama sekali mengangkat telfonku."
Devan menjauhkan ponsel dari telinganya karena mendengar teriakan Ziko, tapi Devan mana peduli, "datanglah ke resto Sedarat kalau kamu ingin bertemu cintamu itu, atau kamu akan kehilangan Cindy lagi untuk kesekian kalinya."
Ziko langsung menutup ponselnya dan segera mengambil jaket dan hanya mencuci muka saja, karena Ziko tidak ingin terlambat, bahkan Ziko naik ojek online agar segera sampai di resto Sedarat.
"tunggu aku sayang" gumam Ziko disepanjang jalan, dia bahkan menyuruh sang driver untuk ngebut, hingga sang Driver kualahan menuruti keinginan sang customer.