
"Apa kamu akan terus menghindar seperti ini Cin?" Tanya Genta, Genta berharap rumah tangga sang adik segera ada kejelasan, karena Genta juga tahu kalau status mereka masih menikah, hanya Cindy saja yang tidak tahu.
Sedangkan Cindy sama sekali tidak menjawab, dia selama tiga tahun tidak pernah lagi ingin membahas suaminya, dia tidak benci, hanya saja dia berusaha untuk melupakan, banyak yang dia pikirkan, bagaimana jika sudah besar anaknya akan bertanya dimana ayahnya, Cindy takut Ziko akan membenci anaknya, karena yang Ziko tahu dirinya berhianat, pikir Cundy.
"Aku akan istirahat kak," Cindy ingin pergi kekamarnya dan membersihkan diri.
"Istirahatlah, besok kita akan berlibur seharian."
"Iya kak," Cindy segera beranjak dan berjalan menuju kamarnya, namun sebelum itu dia mencium kening kedua anak kembarnya yang masih bermain, bocak yang baru berumur dua tahun itu hanya tertawa mendapat kecupan dari sang mamah, Cindy akan istirahat sebentar dan membantu bibik masak makan malam untuk semua orang dirumah.
Ya, Cindy akan turun tangan sendiri kedapur untuk memasak, karena Cindy akan menerapkan makan sehat untuk kedua buah hatinya.
Sedangkan di hotel, Ziko tengah melihat jalanan kota yang sangat padat dari balkon kamar yang dia sewa, ketika dia sendiri, dia akan selalu mengingat masa-masa bersama sang istri, katika Cindy bermanja padanya dan meminta yang anek-aneh padanya.
Ketika Ziko tengah melamun, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu, Zikopun tersadar dan segera berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Kau rupanya, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ziko pada Rena yang berdiri didepan pintu kamar hotelnya, karena Ziko sama sekali tidak memberi tahu Rena dimana dia sekarang, kecuali Devan, dan Ziko yakin, Devanlah biangnya.
"Tidak ada, aku hanya kemari karena kamu ada dikota ini, jadi aku tidak perlu kekota untuk bertemu kalian, itu sebabnya aku kemari setelah Devan memberi tahu, apa yang kamu lakukan? Apa masih meratapi nasibmu yang kau buat sendiri itu?" Tanya Rena dengan nada setengah mengejek, karena ketika pesta Rena sudah mengingatkan, namun justru dia yang kena damprat oleh Ziko, dan Rena mewujudkan perkataannya, jika dirinya orang pertama yang akan menertawakan Ziko jika pria itu menyesal.
"Diamlah, jika kamu tidak mengerti apapun, sana pergi, aku tidak butuh kamu disini!" Ziko hendak menutup pintunya, namun dia kalah cepat dengan Rena yang segera masuk kedalam kamar hotel itu.
"Hey!" Teriak Ziko.
"Apa?"
"Cepat keluar aku ingin tidur" ulang Ziko lagi, namun ditanggapi masa bodo oleh Rena, jika dia tidak mengingat perkataan Devan, maka dia tidak akan menemani orang yang menjengkelkan ini.
"Sialan memang Devan, teman lagi kesepian malah sibuk pacaran, untung tunanganku masih berada diluar negeri," gumam Rena dalam hati, sambil menatap Ziko yang berdiri dihadapannya dengan berkacak pinggang.
"Menyingkirlah, kau merusak pemandangan dengan berdiri dihadapanku" kesal Rena sambil melempar bantal kewajah Ziko, Rena mengambil ponselnya untuk menghubungi sang kekasih.
"Siapa?" Tanya Rena seakan-akan dirinya tidak tahu apa yang ditanyakan sang bos, Cindy masih sibuk dengan ponsel yang masih bertengger ditangannya, tanpa menatap Ziko sama sekali.
"Aku yakin kamu tidak bodoh!" Namun sayang, perkataan Ziko sama sekali tidak ditanggapi oleh Rena.
"Ayo besok pergi jalan-jalan denganku dan Devan, mumpung besok weekend" ajak Rena pada Ziko yang sedang menatap langit-langit dikamar hotelnya.
"Tidak!" Tolak Ziko tanpa berfikir, karena dia paling tidak suka pergi dihari weekend, karena jalanan dan tempat wisata pasti penuh, maka akan membuat Ziko pusing melihat banyak orang.
"Yakin? Kalau kamu ikut aku akan memberi informasi penting tentang mantan istrimu itu." ujar Rena sambil menaik turunkan Alisnya.
"Hey, aku belum berpisah darinya!" Bentak Ziko tanpa sadar, Ziko tidak suka jika ada yang bicara jika mereka sudah berpisah, karena dia belum pernah menggugat cerai Cindy. Pikir Ziko.
"Ini sudah dua tahun, siapa tahu Cindy sudah punya orang baru," goda Rena, karena Rena ingin melihat kekesalan diwajah Ziko ketika mendengarnya, dan benar dugaan Rena, Ziko langsung mendelik pada Rena.
"Lho dulu saja kamu menuduhnya selingkuh ketika masih berstatus istrimu, apa lagi sekarang dia sendiri, dengan wajahnya yang cantik pasti banyak orang yang menginginkannya."
"Dia tidak seperti itu! Dia orang yang setia" Bela Ziko tanpa sadar, dan itu mampu membuat Rena tertawa terbahak-bahak.
"Apa kamu lu-"
"Diamlah!" Potong Ziko dengan cepat, karena Ziko tidak ingin mendengar perkataan yang sama seperti yang sudah-sudah.
"Besok aku akan ikut, sekarang kamu keluar aku akan istirahat," Ziko menarik tangan Rena dan membawanya berjalan keluar menuju pintu, ketika Ziko sudah membawa Rena keluar dia segera menutup pintu dengan kasar, menandakan Ziko sangat kesal saat ini.
keesokan harinya Ziko masih terlelap dalam selimutnya yang begitu nyaman, bahkan Ziko sengaja mematikan ponselnya agar tidak diganggu kedua temannya yang ikut bersama mereka.
"temanmu itu memang perlu dibawa kerumah sakit jiwa, sudah tau akan jalan-jalan, bisa-bisanya masih tidur, sedangkan kita sudah berdiri seperti meminta amal didepan pintu ini selama dua jam" kesal Rena, Rena malah uring-uringan karena ulah Ziko.