Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-23



huammmm, terlihat disana Cindy masih mengantuk, tapi dia berusaha bangun supaya tidak berbuat masalah lagi, Cindy memperbaiki duduknya dan memakai sabuk pengamannya, "apa kamu masih ingin tidur?" Ziko masuk ketempat kemudi dan melihat Cindy yang hampir saja terpejam.


"tidak kak," tidak tapi Cindy justru terpejam, Ziko membiarkan itu dan menjalankan mobilnya untuk pulang, karena hari semakin malam, Zikopun telah mengabari ART dirumahnya untuk tidak menunggu mereka dan untuk tidak memasak makan malam.


"apa dia selalu begitu, tidur saja tidak ada manis mansinya, lihat itu, sampai mendekur," Ziko geleng geleng kepala melihat kelakuan Cindy, Ziko kembali teringat pertemuannya dengan Jesica tadi, "ada apa dengannya, kenapa kembali menemuiku, waktu aku mencarinya dia tidak ditemukan, giliran tidak dicari justru datang," Gumam Ziko, Ziko memandangi Cindy dengan tatapan entah, dia tiba tiba mengelus rambut Cindy yang masih tertidur, setelah lampu jalan berubah warna hijau Zikopun melanjutkan jalannya kembali, dia memenggokkan mobilnya di Resto yang masih buka 24 jam, "Cin bangu, ayo makan dulu," terlihat disana Ziko terus membangunkan Cindy, Ziko belum tahu kalau Cindy susah dibangunin jika tertidur di kendaraan, akhirnya Ziko memcet hidung Cindy dengan kuat, hingga Cindy gelagapan bangun.


"kak! Sakit, kenapa kakak menekan hidungku" kesal Cindy, Cindy mengusap ngusap hidungnya karena merasa panas, akibat ulah suaminya.


"makanya bangun, ayo makan, atau aku tinggal," ancam Ziko, Ziko melepas seatbelt dan melihat Cindy yang masih duduk manis tanpa pergerakan, "ayo!! Kenapa masih duduk saja."


"aku gak ikut makan!" Cindy membuang wajahnya kearah kiri, sedangkan Ziko yang melihat itu langsung melepas Seatbelt Cindy, sialnya Seatbeltnya itu macet hingga Ziko kesusahan melepaskannya.


"sial, ada apa dengan seatbelt ini, biasanya aja tidak begini, Ziko terus berusaha hingga tanpa sadar wajahnya dengan wajah Cindy begitu dekat.


"bernafaslah, atau kamu akan kehabisan nafas dan pingsan disini!" tegus Ziko, ya, Cindy menahan nafasnya karena tidak ingin hembusan nafasnya mengenai wajah suaminya, dia takut nafasnya bau karena baru bangun tidur.


"aku bernafas kok, siapa bilang aku menahan nafas," bohong Cindy, "apa masih lama?"


"apa kamu ingin mencoba membukanya?" Ziko bukannya menjawab dia justru menyuruh Cindy membuka seatbeltnya, Cindy yang mendengar itu langsung menggeleng dengan cepat, tidak lama Ziko berhasil membukanya, ketika Ziko hendak kembali ketempat duduknya tanpa sengaja hidungnya mengenai pipi Cindy, mereka berdua langsung terdian dengan saling pandang, yang terdengar hanya detak jantung mereka yang seperti bersaut sauttan, Ziko segere menyudahinya dan langsung kembali ketempat duduknya, "ayo cepat turun, jangan terlalu banyak drama menolak segala untuk makan" setelah mengatakan itu Ziko langsung turun dan berjalan kedalam Resto meninggalkan Cindy yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"kenapa dia kaku sekali, apa dari orok dia seperti itu, sungguh menyebalkan," Cindy menyusul Ziko sambil menggrutu, "auww maaf saya tidak sengaja," karena asyik menggurut tanpa melihat jalan Cindy justru menabrak orang.


"Cindy! Apa yang kamu lakukan disini, dan sama siapa?"


"kak Bim, lagi makan kak sama suami, tuh" tunjuk Cindy pada Ziko yang terus memandangi dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan, "kakak sendiri sama siapa?" Cindy melihat kesana kemari tapi tidak menemukan siapa siapa disana.


"kakak sam-"


"eh ndut, kamu disini juga" terlihat Clara berjalan menghampiri kakaknya dari toilet, dari jauh Clara melihat Cindy itu sebabnya Clara segera berlari menghampiri temannya itu.


"mulutmu!! ternyata kak Bima sama kamu, ayo kita makan bersama disana sama kak Ziko juga," Cindy menarik tangan Clara dan meninggalkan Bima begitu saja, dia bahkan tidak meminta ijin dulu pada Bima, mau makan bersama atau tidak, langsung geret begitu saja, dasar Cindy.


"mereka ini,,," Bima menggelengkan kepalanya dan menyusul mereka berdua yang berjalan bersama Didepannya menuju meja yang diduduki Ziko.


"kak ini Clara temanku, dan ini kak Bima kakaknya Clara," terlihat Cindy berdiri di hadapan Ziko bersama Clara dan disusul Bima di belakangnya.


"Ziko," Ziko mengulurkan tangannya pada mereka bergantian.


"Bima."


"Clara kak."


akhirnya mereka semua makan dalam diam dengan Ziko yang terus menatap Cindy dengan raut kesalnya, Ziko berencana makan berdua dengan Cindy, tapi justru Cindy mengajak tetanggan makan bersama, "terima kasih pak Ziko, atas makan malamnya," Bima mewakili adiknya berterima kasih dan mereka berdua berlalu dari sana.


"kak terima kasih" ujar Cindy sambil berjalan mengikuti Ziko dari belakang, mereka sedang menuju parkiran diamana mobilnya berada.


"ingat, semua ini tidak gratis, kamu harus menggantinya!" Ziko terus berjalan tanpa mempesulikan Cindy dibelakangnya yang terus bicara.


"kak tunggu dulu," Cindy menarik tangan sang suami yang berada di kantongnya.


"apa lagi!"


"kak mana ada aku uang sebanyak itu, kalau aku cicil bisa?"


"bisa, tapi tidak dengan uang, kamu harus menjadi pelayanku, dimanapun aku berada kamu harus ikut, bagaimana?"


Cindy berfikir sejenak, dia takut Ziko akan melakukan hal yang akan membuatnya susah, karena Cindy tahu, Ziko suka sekali yang aneh aneh, Cindy terus melihat Ziko, dia menyelisik Ziko dengan dangan intens, "ada apa!"


"tidak,,, baiklah aku akan menjadi pelayanmu kemanpun kamu pergi" akhirnya Cindy menerima syarat Ziko, dan merekapun berlalu dari sana untuk pulang.


"pak Devan, anda disini?"


Devan yang melihat wanita didepannya merasa tidak asing, dia terus melihat wanita itu dari atas sampai bawah, "apa kamu OB di kantor?"


"iya tuan!"


"apa yang kamu lakukan disini, wanita baik baik tidak akan ada disini, apa kamu jadi-"


"saya permisi tuan," Tesha berlalu dari sana tanpa menjawab pertanyaan Devan, bukan sekali dua kali dia dinilai buruk oleh orang, jadi dia memaklumi kalau atasannyapun menilai dirinya negatif, "andai semua baik aku juga tidak akan bekerja ditempat seperti ini" gumam Tesha, Teshapun meneruskan pekerjaannya tanpa memikirkan perkataan Devan.


"apa dia tersinggung dengan perkataanku, aku kan hanya bertanya, apa ada yang salah," gumam Devan, Devan terus melihat Tesha, hingga tidak terlihat dipandangannya.


"hey ada apa denganmu, kenapa sedih begitu?"


"tidak aku hanya lelah saja, apa aku sudah boleh pulang?" tanya Tesha pada temannya yang juga sama kerja disana.


"belum boleh Sha, kamu tahu malam ini malam weekend, kamu tahu sendiri bos melarang seluruh karyawan pulang cepat."


"iya sih, yasudah aku akan kembali ketempat kerjaku dulu."