Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-28



"itu sebabnya aku bilang pil haram, karena akibat pil ini keperjaanku hilang, dan sialnya aku tidak tahu wanita itu sekarang," kesal Jay, Jay selalu marah jika mengingat kejadian 4tahun yang lalu, dimana Jay berlaku bejat pada wanita yang entah siapa orangnya, bahkan wanita itu tidak meninggakan jejak sama sekali, meski dia seorang kaki tangan dari sebuah mafia yang cukup ditakuti, tapi nyatanya dia tidak bisa menolong dirinya sendiri.


"sudah lupakan, lagian kejadiannya juga sudah sangat lama, pasti wanita itu juga sudah melupakannya, lebih baik kita fikirkan mau diantar kemana Ziko," tanya Devan sambil menujunjuk Ziko yang sudah tidak sadarkan diri.


"lebih baik kita antar saja pulang, biar diurus sama istrinya, lagian mana mungkin kita mengantar kemansion utama, bisa habis kita sama om Anderson," putus Jay, bukan saja Ziko yang kena getahnya, tapi merek berdua juga sama, pikir Jay, mengingat tuan Anderson yang tidak suka dengan hal yang berbau minuman.,


setengah jam berlalu, Mereka berdua sampai dirumah Ziko, "kamu saja yang mengetuk pintu."


"enak saja! Kan kamu yang memberinya pil sialan itu, kamu yang harus bertanggung jawab," kesal Jay, "giliran beginian kamu memintaku yang bertanggung jawab, makanya kelola tuh tangan jangan jahil," omel Jay.


"Hey, kenapa kamu seperti mamahku, yang suka marah-marah dipagi hari, sudah diam aku yang akan mengurus semuanya, Devan mendorong Jay hingga terhuyung dan mengetuk pintu, sedangkan Jay hanya mengedihkan bahunya dan ikut duduk dibawah bersama Ziko.


"Bos menyusahkan ya kamu, lain kalo aku tidak akan ikut jika kalian membuat janji, enak saja" gumam Jay sangat pelan, "kira-kira wanita manja itu sudah tidur belum ya? Ah sebaiknya aku lihat saja dari CCTV," Jaypun tak menghiraukan keduanya, dia sibuk mengamati seseorang dari ponselnya.


"Kak Devan,,, ada apa kak malam-malam begini kemari?" Devan tidak menjawab, iya hanya menunjuk Ziko yang terkapar dibawah dekat tembok, Cindy yang mengikuti arah pandang Devan langsung menghampiri Ziko, "ada apa dengannya kak?" Cindy sangat khawatir, karena suaminya tidak sadarkan diri, dia berfikir sesuatu yang buruk sudah terjadi.


"Tenanglah, Ziko hanya mabuk," sela Jay yang duduk didekat Ziko, "cepat bawa masuk sana, ini sudah semakin malam, pasti Ziko kedinginan" perintah Jay lagi, tapi Jay tidak memandang Cindy melainkan menatap tajam sang sahabat, siapa lagi kalau bukan Devan, yang sedang tersenyum pemuh kemenangan.


"Baik kak terima kasih, apa kak Jay bisa membantuku membawa kak Ziko kekamarnya, karena Cindy tidak kuat kak," tanpa menjawab Jay dan Devan membawa Ziko kekamarnya.


"Ingat jangan tinggalkan Ziko sendirian, nanti dia bisa melakukan hal bodoh, bisa bahaya nanti," bohong Devan, Devan sangat tahu jika pil setannya sebentar lagi akan bereaksi, melihat keringat di dahi Ziko mulai keluar, "ayo Jay kita pulang, biar mereka istirahat" ujar Devan sambil mengedipkan sebelah matanya, sedangkan Jay hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan Devan, mereka berduapun berlalu dari sana.


"Is kak Ziko ini, kenapa harus mabuk begini," Cindy melepas baju Ziko satu persatu untuk menggantinya, "apa aku harus mengganti ini juga ya" batin Cindy, Cindy ragu untuk melepas celana Ziko, apa lagi mereka tidak sedekat itu hingga bisa melepas baju masing masing, "sebaiknya aku lepaskan dari pada kak Ziko tidak nyaman, lihatlah celananya basah begini" monolog Cindy.


Tidak lama Cindy selesai dengan rutinitasnya, "dia tidak akan tahu, kan dia tidak sadar," ujar Cindy, Cindy memperbaiki selimut Ziko, namu tiba-tiba ada tangan yang mencekal tangan Cindy sangat kuat, "auwww,,, kak lepas, sakit kak,,," rintih Cindy, Cindy berusaha melepaskan tangan Ziko yang mencekal tangan Cindy.


"Hey apa kakak sakit?" Cindy memeriksa kening Ziko, dan justru itu membuat Ziko semakin bergairah, "kak!" Teriak Cindy ketika Ziko tiba-tiba menarik dirinya hingga berbaring didekat Ziko, "apa yang kakak lakukan?" Cindy berusaha lepas dari cengkraman Ziko, namun gagal mengingat tenaganya yang tidak sebanding dengan Ziko.


Ziko membuka matanya dan menatap Cindy dengan pandangan mendamba, Ziko segera membuka kaosnya akibat hawa panas yang menjalar di tubuhnya, "kak, apa kakak baik-baik saja?"


Ziko tidak menjawab pertanyaan Cindy, Ziko terus belingsatan akibat hawa panas yang semakin menjalar ditubuh kekarnya.


"kurang ajar, ini pasti ulah Devan" umpat Ziko dalam batinnya, ya Ziko sudah mulai sadar, hanya saja dia tidak bisa mengontrol hawa panas ditubuhnya.


Ziko lupa jika teman-temannya akan mengerjainya seperti ini jika sedang mabuk, bedanya sekarang Ziko sudah menikah, jika tidak dia sudah menuntaskan dengan wanita bayaran yang ada diclub tadi.


Tanpa ragu Ziko menempelkan bibirnya di benda kenyal yang ada didepannya ini, bibir yang akhir akhir ini ingin dia rengkuh, entah kenapa setiap Ziko menatap bibir tipis milik sang istri dia ingin selalu mencobanya, ciuman yang awalnya lembut kini semakin menuntut, Cindy diam mematung mendapat ciumana panas dari sang suami, dia bukan remaja yang tidak tahu hal seperti ini, baginya ciuman seperti ini sudah sering dia temui, apa lagi dia dulu sering pergi keclub bersama teman temannya.


Cindy perlahan mulai membalasnya, dan ciuman itupun semakin panas, sedangkan tangan Ziko perlahan lahan bermain main di sesuatu yang menurutnya paling enak jika di sentuh, Ziko terus melakukannya hingga tanpa sadar lenguhan kecil terdengar dari suara Cindy yang parau.


Baik Ziko maupun Cindy mulai terbuai dengan permianan yang Ziko mulai,  sedangkan Cindy mulai terbuai semenjak Ziko menelusuri leher Cindy yang jenjang.


dia mulai membuka baju satin yang Cindy kenakan, perlahan kepala Ziko mulai turun hingga mencapai gunung kembar milik Cindy yang sudah menantang minta di buwai lebih.


Ziko mulai bermain-main dengan salah satu gunung kembar Cindy menggunakan lidahnya, hingga tanpa sadar  sebuah ******* lolos dari mulut Cindy, sedangkan Ziko yang mendengar wanitanya mendesah semakin tidak bisa menahan diri, Ziko semakin kuat menyedot sesuatu yang memang seharusnya iya rasakan sejak awal menikah.


Cindy tersadar dan segera menjauh dari Ziko, Cindy mengatur nafasnya akibat sesuatu dalam dirinya sudah mulai terangsang, "kak hentikan, ingat kakak sudah memiliki kekasih," Ziko tidak mau mendengar itu, karena sesuatu dalam dirinya minta dikeluarkan segera, "kak,,," desah Cindy ketika Ziko kembali bermain main di kedua gunung kembar Cindy, Ziko mulai membaringkan Cindy perlahan tanpa melepas ciuman panas mereka, Tangan Ziko yang satunya sibuk melepas pengait Bra di belakang punggung sang istri sambil mengelus punggung mulus itu.


"kak,,,"