
Setelah melalui perdebatan panjang, kini akhirnya Cindy berada dikantor Ziko, dimana Cindy menolak untuk ikut, karena dia juga bekerja, namun karena bujuk rayu dari Ziko, mau tidak mau, Cindypun luluh.
"apa yang harus aku lalukan disini kak?" tanya Cindy sambil memanyunkan bibirnya, karena rasa kesalnya belum reda sejak dari rumah tadi, bagaimana tidak kesal, suaminya tetaplah seorang pemaksa.
"tidak ada, cukup duduk manis saja," Ziko duduk, tidak lama dia menelfon seseorang untuk keruangnya.
"segeralah, karena waktuku tidak receh!" betak Ziko pada seseorang disebrang telfon itu.
"apa yang kakak lakukan disini, maksudku, bukannya kakak mengelola prusahan pusat," Cindy heran saja, suaminya mau datang keprusahaan cabang, karena biasanya sang papah mertua yang datang, sekalian menengok cucu-cucunya, itulah rutinitas tuan Anderson akhir-akhir ini.
Ya, selama ini kedua orang tua Zikolah yang menempatkan Cindy dikota A, namun Cindy mengajukan sarat agar tidak memberi tahu Ziko, mau tidak mau kedua orang tua Ziko setuju, dari pada dia kehilangan jejak sang menantu dan cucunya, meskipun tuan Anderson bisa dengan mudah menemukan keduanya dengan koneksi yang iya punya.
Selama ini Ziko tidak bisa menemukan Cindy, karena ada kedua orang tuanya, itu lah orang yang dimaksud Jay, ada orang yang lebih berkuasa dari Ziko, hingga tidak bisa menemukan Cindy, dan orang itu tidak lain tuan Anderson dan Genta, kakak Cindy, keduanya bekerja sama untuk menjaga mereka, hingga Genta kini sangat dekat dengan keluarga Ziko, terutama kedua orang tua Ziko.
"ada masalah fatal disini, dan tidak bisa diselesaikan begitu mudah, itu sebabnya aku harus turun tangan sendiri," jelas Ziko tanpa menoleh, karena dia benar-benar fokus pada berkas ditangannya, Ziko ingin pekerjannya segera usai, karena dia ingin segera kembali ke-kota J, dan membawa keluarganya kembali kesana, meskipun Zikon fokus, namun tetap saja Ziko merespont sang istri ketika mengajaknya bicara, karena Cindy pengecualian.
Andai saja Devan, Jay atau yang lainnya, sudah pasti Ziko tidak akan mengubrisnya, jangankan menjawab, mendengarkan saja tidak.
"apa ada yang bisa aku bantu kak," Cindy beranjak dan berjalan menghampiri Ziko, sedangkan sikembar sudah berada ditempat permainan yang tidak jauh dari kantor itu bersama babysitternya.
"cukup duduk dan bayangkan wajahku saja sayang, itu sudah cukup" goda Ziko sambil menyunggingkan senyumnya, sedangkan Cindy sama sekali tidak menggubrisnya, dia sudah kebal dengan gombalan sang suami.
Cindy duduk dikursi yang berada dihadapan sang suami, yang hanya berbataskan meja "kak besok 1000 harinya mamah dan papah,,," lirih Cindy, dia begitu sakit ketika mengatakan itu, bayangan kematian kedua orang tuanya kembali memenuhi ingatannya, Cindy sangat merindukan kedua orang tuanya itu, meskipun sudah 3tahun berlalu, itu sebabnya hingga kini Cindy belum siap pulang kerumahnya sendiri.
Ziko langsung menghentikan kegiatannya, dia memandang sang istri dengan tatapan entah, Ziko segera beranja, ketika sudah berdiri dihadapan Cindy, Ziko segera membawa Cindy kedalam pelukannya.
"sayang maaf kan kakak," bisik Ziko ditelinga sang istri, sungguh Ziko tidak bisa membayangkan sakit yang istrinya pikul tiga tahun silam, secara tidak langsung, Ziko juga memberikan luka dihari yang sama dimana kedua orang tua sang istri berpulang kepangkuannya.
"ingat selalu sayang, disini akan selalu ada kakak, dan kakak siap menjadi bahumu untuk bersandar, kamu tidak sendiri sayang, doakan kedua mamah papah, supaya beliau tenang disana, dan menempatkan tempat terbaik disisinya."
"sayang setelah pekerjaan kakak disini selesai, kita kembali ya ke kotaJ," pinta Ziko sambil mengusap air mata dipipi Cindy.
"tapi bagaimana pekerjaan Cindy kak, Kakak kan tahu disini Cindy ada pekerjaan." Cindy berjalan menuju sofa disusul Ziko dibelakangnya.
"itu biar kakak yang urus, kakak akan mencarikan orang buat mengelola usahamu sayang."
"baiklah kak, jika itu mau kakak, Cindy nurut saja."
"Good girl," Ziko mengacak-acak rambut sang istri, hingga keduanya terkekeh bersama, namun kesenangan itu sirna, ketika Ziko dan Cindy melihat seseorang diruangannya.
"eittt jangan marah," ujar Devan sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya di hadapan Ziko, "aku sudah mengetuk pintu, tapi kalian yang tidak mendengarnya," bohong Devan, karena sebenarnya Devan memang tidak mengetuk pintu, seperti kebiasannya, dan Ziko paham betul itu, Ziko hanya mendelik pada Devan, dan dibalas cengengasan saja oleh sang asistent.
"ada apa kesini!"
Ziko langsung pada intinya, agar Devan tidak berulah dihadapan sang istri.
"ditunggu para petinggi perusahaan diruang meeting."
"ayo kalau begitu," Ziko memperbaiki jasnya dan hendak berlalu, namun sebelum itu dia mencium kening sang istri, "kakak meeting dulu, kamu bisa istirahat disini, dan jangan kemana-mana"
"iya kanda," bukan Cindy yang menjawab, melaikan Devan, dan setelah mengatakan itu Devan segera keluar, karena sudah bisa dipastikan dia akan mendapat cacian dari Ziko.
"anak itu!" geram Ziko.
"sudah kak biarkan saja, kakak lancar ya meetingnya."
"terima kasih sayang," Ziko memberikan ciuman singkat dibibir mungil sang istri dan segera berlalu dari sana.