Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-70



Makan malam-pun tiba, terlihat Cindy menyiapkan makan untuk Genta, setelah itu dia berpindah menyiapkan makan untuk Ziko.


"Makanlah kak, aku akan ke belakang dulu," Cindy hendak berlalu, namun tangannya keburu dicekal oleh Ziko.


"Dudulah disamping kakak," pinta Ziko, Ziko sedikit menarik tangan Cindy agar duduk di sampignnya, Ziko yakin jika Cindy mengingat perkataannya dimasa lalu, dimana dirinya berkata tidak ingin satu meja makan dengan Cindy.


"Tapi kakak kan tidak ing-"


"Husttt tidak sayang, maafkan kakak, itu hanya bentuk dari kecemburuan kakak."


Betul perkiraan Ziko, jika itulah masalah sang istri, sungguh wanita adalah memori terbaik dalam segala kejadian, hingga sang istri mengingat sampai sekarang, padahal ini sudah tiga tahun berlalu, pikir Ziko.


Cindypun akhirnya duduk disamping Ziko dan mereka semua mulai makan dalam diam, tidak lama Genta sudah selesai terlebih dahulu, dia beranjak untuk kekmaranya mengambil tas.


"kakak akan pulang Dek, jaga anak-anak dengan baik," nasehat Genta.


"Apa kakak tidak menginap dulu saja, pulangnya besok pagi saja kak," Cindy ikut beranjak dari duduknya, ingin mengantar sang kakak kedepan.


"Niatnya sih begitu dek, tapi besok pagi kakak ada meeting peting dengan para pemegang saham dan juga ada pertemuan dengan klien lain, lagian disini sudah ada dia yang akan menjaga kalian," tunjuk Genta pada Ziko yang sejak tadi terus memandang intraksi sang istri dengan kakaknya.


"Iya pergilah, biar aku yang menjaga mereka, kamu tidak perlu hawatir, ini tanggung jawabku!" sela Ziko, Ziko tidak ingin sang istri menghalangi Genta untuk pulang, Ziko ingin menghabiskan waktu dengan sang istri, jadi biarkan saja Genta pulang, pikir Ziko, Ziko tetaplah Ziko, yang tidak ingin ada orang lain dekat dengan istrinya, meskipun itu kakaknya sendiri, Ziko saja cemburu pada sang papah memeluk Cindy, apa lagi pria yang muda, meskipun dia kakaknya.


"Kak!" Bentak Cindy pada Ziko, Cindy paham batul arti dari perkataan suaminya itu, karena Cindy sangat paham karakter sang suami, meskipun tidak lama saat bersama.


"Lho apa yang salah, aku hanya membri ijin saja," jawab Ziko, tanpa rasa pekewuh sama sekali.


"Sudah dek biarkan saja, kakak hanya berharap perkataannya kali ini tidak akan sirna hanya karena terpengaruh dengan hasutan orang lain" Sindir Genta, dimana perkataan itu menohok dihati Ziko.


"Biarkan aku yang mengambilkan tasmu kak, kakak bisa tunggu diruang tengah," tanpa menunggu jawaban Genta, Cindy segera berlalu dari sana, karena dia tidak ingin mendengar adu mulut kedua pria didepannya ini.


Sedangkan kedua pria itu hanya diam saja dengan ponsel masing-masing, tanpa ada yang berniat memulai pembicaraan, karena karakter keduanya sama-sama dingin dan tidak suka basa-basi.


Tidak lama Cindy menuruni tangga dengan tas kecil ditangannya, tas yang berisi data penting Genta.


"Kakak hati-hati," Cindy menyerahkan tasnya pada Genta, Genta menerimanya dan Genta mengelus kepala Cindy, namun Ziko langsung menarik Cindy agar sedikit menjauh dari Genta, sepertinya Ziko lupa, siapa selama ini yang telah menjaga istri dan kedua buah hatinya.


Sedangkan Genta hanya menggeleng melihat kebucinan Ziko, kemana saja Ziko selama ini, pikir Genta.


Tidak lama, Gentapun berlalu dari sana untuk menuju bandara, karena 15 menit lagi jam penerbangannya.


"Tentu saja tidur kak, kakak bisa tidur dikamar kak Genta, kamarnya disebelah kamarku."


"Apa aku tidak boleh tidur dikamarmu sayang?" Terlihat Ziko membuntuti Cindy dari belakang, seperti anak pitik yang membuntuti induknya.


"Tidak kak, hubungan kita belum jelas," Cindy terus berjalan tanpa menoleh pada Ziko.


"Tidak jelas bagaimana sayang? kita masih sah suami istri lho sayang," Mana mau Ziko tidur Sendiri, apa lagi ada sang istri disampingnya.


"Terserah kakak saja, aku lelah kak, ingin segera tidur," tanpa menaggapi ocehan suaminya, Cindypun masuk kedalam kamar dan menutup pintu begitu saja, hingga membuat Ziko tidak bisa masuk kedalam kamarnya.


"Astaga,,, andai sedang tidak dalam keadaan seperti, sudah aku hukum sampai pagi kamu sayang," gumam Ziko setelah Cindy menutup pintunya begitu saja, mau tidak mau Ziko berjalan menuju kamar sebelah.


Ziko melihat seluruh ruangan kamar Genta, "seleranya tidak buruk," gumam Ziko, "ah sayang, kamu tidak pernah lupa untuk menyiapkan segalnya lihatlah disini sudah lengkap semua." Ujar Ziko pada dirinya sendiri, Ziko membawa semua peralatan mandi dan baju ganti yang sudah Cindy siapkan.


Ya, ketika Cindy mengambil tas Genta, Cindy juga sekalian menyiapkan segalanya untuk Ziko mandi dan baju ganti, baju Genta yang belum pernah Genta pakai, Cindy memberikan pada Ziko setelah minta ijin pada sang kakak tentunya, karena ukuran keduanya sama.


Tidak lama Ziko selesai dengan rutinitas mandinya, "mau apa aku, ini masih jam 9malam, aku juga belum mengantuk," Ziko akhirnya keluar kamar dan berjalan menuju kamar Cindy, "sial! Dia masih mengunci pintunya," Ziko berjalan mencari ARt rumah itu.


"Bik apa ada kunci serep dikamar istriku?" Tanpa basa-basi Ziko bertanya pada intinya ketika melihat sang ARt yang masih berada didapur.


"Biar saya ambilkan tuan," ART itu segera berjalan menuju laci yang tidak jauh dari ruang tamu dan segera mengambil kunci kamar sang Nyonya mudanya, diapun memberikan pada Ziko tanpa ragu, karena dia berfikir dia suami majikannya, jadi tidak masalah, pikir sang bibik.


Ziko tetaplah Ziko, tanpa berterima kasih dia mengmabil begitu saja dan segera kebali kekamar sang istri.


Benar saja, selang beberapa menit Ziko sudah berdiri didalam kamar Cindy, "kamu masih sama sayang, tidak pernah berubah, selalu saja tidur hanya dengan ****** *****" gumam Ziko, tanpa pikir panjang, Ziko langsung masuk kedalam selimut yang sama dengan sang istri, dan memluk Cindy dari belakang, "aroma yang sama" tidak lama Zikopun terlelap.


Sedangkan Cindy sama sekali tidak terpengaruh ataupun terganggu dengan perbuatan Ziko, karena Cindy benar-benar kelelahan.


Pagi menjelang, Ziko terbangun lebih dulu, dia melihat wajah istrinya yang begitu pulas, dan dia beralih melihat jam dinding yang berada didalam kamar itu, dan jam masih menunjukkan pukul 5pagi.


"Sayang bangun, sudah pagi," bisik Ziko ditelinga sang istri, Ziko memainkan hidung sang istri dangan cara memencetnya, agar sang istri terbangun.


"Eummm," Cindy menggeliat dalam tidurnya karena ulah Ziko, dan justru itu menjadi kesengan tersendiri bagi Ziko, karena Cindy memeluk Ziko sangat erat, karena mengira Ziko adalah guling, namun karena Cindy sedikit sadar, akhirnya Cindy membuka matanya lebar-lebar.


"Kak! Apa yang kakak lakukan dikamarku!" Tanpa sadar Cindy sedikit meninggikan suaranya, karena terkejut, Cindy hendak menghindar, namun kalah cepat dengan Ziko yang langsung memeluk pinggang Cindy sangat erat.


"Begini dulu sayang, ini terlalu pagi untuk bangun," tanpa rasa malu, Ziko memeluk Cindy, hingga wajah Ziko berada tepat didepan dada sang istri.