Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-22



"yakin tidak ingin meminumnya?" Ziko berjalan mendekati Cindy sambil membawa orange juice nya.


"ok ok aku akan meminumnya," Cindy langsung mengambil minuman itu dari tangan Ziko, dia segera meminumnya, tapi tiba tiba Cindy langsung menyemburkan juicenya, dan naasnya jus itu justru mengenai jas Ziko, "astaga apa yang aku lakukan," batin Cindy, Cindy segera mengambil tissu dan membersihkan jas Ziko, namun Ziko tiba tiba mencekal tangan Cindy.


"hentikan!! Atau kamu akan merusak semuanya," Ziko langsung melepas jasnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"kak aku minta maaf, aku tidak sengaja kak," Cindy mengikuti Ziko dari belakang, "auww."


"hey untuk apa kamu mengikutiku, atau kamu akan memandikanku!" Ziko melihat Cindy yang gemetaran sambil mengelus dahinya, akibat menabrak bahu Ziko ysng kokoh, Ziko menautkan kedua alisnya tanda bingung, ada apa dengan Cindy, pikirnya, "apa kamu kebelet?"


"tidak!"


"terus kenapa gemetaran begitu?" tunjuk Ziko pada tangan Cindy yang seperti gemetar.


"ah tidak, mana ada, tanganku hanya sedang gatal saja," kilah Cindy, Cindy segera menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya, Cindy tidak ingin Ziko tahu kalau dirinya sedang ketakutan.


"terserah kamu saja," Ziko segera masuk dan membersihkan badannya, karena rasanya sangat lengket, "kenapa dia sangat ceroboh, bisa bisanya dia menyemburku dengan minuman ini."


"apa kak Ziko akan menghukumku, apa sebaiknya aku pergi saja dari sini," terlihat Cindy mondar mandir didepan pintu toilet di ruangan Ziko, "ah tidak tidak, atau dia akan menganggapku bersalah, aku kan tidak sengaja melakukannya, sebaiknya aku menunggu kak Ziko keluar dan meminta maaf," akhirnya Cindy kembali duduk diSofa itu, tidak lama pintu ruangan Ziko terbuka, dan terlihat disana OB datang untuk membersihkan tumpahan Minuman, akibat ulah Cindy, "kenapa bukan Tesha, kemana dia, seandainya ada Tesha setidaknya aku akan sedikit tenang" batin Cindy.


"Nona ada yang lain lagi?" tanya OB pada Cindy, "Nona!"


"ah iya ada apa?" Cindy langsung terjaga dari lamunannya setelah melihat sang OB mengibaskan tangannya di depan wajah Cindy.


"ada lagi Nona?"


"oh tidak, kamu bisa kembali bekerja," OB itupun berlalu dari sana, "tunggu dulu," cegah Cindy.


"iya Nona?"


"kamu disini dulu saja, aku akan kembali keruangaku, takutnya pak Ziko ada yang sibutuhkan lagi," Cindy berjalan menuju pintu, melewati OB itu.


"eh kak Ziko, itu Anu, apa namanya, Cindy mau kembali keruangan Cindy, takutnya keburu sore, sedangkan pekerjaan Cindy belum selesai."


"Kamu boleh keluar."


"terima kasih kak."


"siapa yang menyuruhmu keluar! aku meyuruh dia" tunjuk Ziko pada OB itu, tanpa disuruh dua kali, OB itupun langsung berlalu dari sana setelah menunduk hormat pada sang bos besar.


"ta-tapi kak, aku kan juga harus bekerja."


"kerjakan disini!" perintah Ziko, tidak lama terlihat Devan masuk dengan setumpuk berkas ditangannya, "taruh disana Dev, dan kamu bisa langsung keluar"


"udah itu saja?" tanya Devan, sedangkan Ziko hanya mengangguk, Devan langsung menatap Cindy yang menunduk disana, dia berjalan menghampiri Cindy, "apa kamu berbuat salah padanya?" bisik Devan.


Cindy langsung mengangguk, dia menatap Devan seperti minta tolong, sedangkan Devan yang tahupun hanya menggeleng, Devan yakin Ziko akan menyuruh Cindy lembur, karena Ziko hari ini banyak pekerjaan, Sudah pasti dia butuh teman alih alih memberi hukuman pada Cindy, pikir Devan, "tenanglah dia tidak akan memukulmu, paling hanya memberi hukuman kecil," ujar Devan.


"apa setiap yang membuat kesalahan akan dihukum seperti ini?" tanya Cindy dengan berbisik pula pada Devan, tapi masih bisa didengar oleh Ziko, Devan menatap Ziko, sedangkan Ziko langaung melotot pada Devan agar diam."


"tentu, bahkan lebih parah dari ini, biasanya akan langsung dipecat, tanpa pesangon pula," bohong Devan, Devan menatap Ziko, disana Devan melihat Ziko yang mengacungkan jempolnya, "sudah aku akan keluar, ingat jangan membantah perintahnya, mengerti?"


"iya kak," Cindy terus menatap Devan yang berjalan keluar dari ruangan Ziko, setelah Devan tidak terlibat lagi, Cindypun beralih manatap Ziko.


"apa!"


"tidak kak," Cindy segera duduk dan membuka berkas yang di bawa Devan tadi, dia tidak ingin lama-lama menatap suaminya, bisa runyam urusannya nanti, pikir Cindy.


Jam sudah menunjukkan pukul 7malam, dan benar saja, Cindy lembur bersama Ziko diruang Ziko, "apa dia tertidur, kenapa tidak ada suara apapun,"Ziko membalikkan kursi kebesarannya dan melihat Cindy yang tertidur, "benar rupanya, biarkan saja, sebentar lagi akanku bangunkan dan mengajaknya pulang bersama," gumam Ziko.