
"hay kak, maafkan Cindy kak, Cindy menyerah. bukannya Cindy tidak mau berusaha mencari buktinya, seperti janji Cindy waktu itu, hanya saja Cindy tidak sekaya kakak yang bisa menyewa ditektif hebat, dan maafkan Cindy kak, jika Cindy membuat kakak terluka, Cindy juga tidak tahu kapan foto itu di ambil kak, Cindy tahu kak, Cinta Cindy tidak cukup kuat untuk membuat kakak percaya padaku, tapi demi apapun Cindy tidak pernah menghianati kakak, cincin ini Cindy kembalikan kak, Cindy tidak ingin memakainya bukan karena tidak cinta sama kakak, hanya saja Cindy tidak ingin selalu mengingat kakak, entah bisa atau tidak, Cindy akan berusaha kak, dan surat pengunduran diri ini, hehe sebelum kakak memecatku secara tidak hormat lebih baik Cindy mengundurkan diri kak, setidaknya harga diri Cindy tidak begitu buruk, jika diganti wanita lain, Awalnya Cindy mengira hanya tempat Cindy sebagai sekertaris yang diganti, tapi ternyata juga posisi Cindy di samping kakak, tapi sudahlah tidak perlu didebat lagi, semoga kakak bahagia, itu saja, Cindy sebenarnya ingin membagi kebahagia-an bersama kakak, tapi setelah kejadian itu sepertinya tidak mungkin lagi, jadi biarlah kebahagian itu aku simpan sendiri, dan terima kasih sudah memberi kebahagia-an itu padaku," I Love you kak, Cindy pamit, ingat jangan suka marah-marah, cobalah menahan emosi, semoga ketika kita bertemu kembali dalam keadaan saling melupakan luka ya kak, termasuk kamu ya kak, semoga kamu bisa melupakan luka yang aku torehkan," (Cindy)
Ziko meremas kertas itu, Ziko sampai meneteskan air mata membaca setiap bait isi surat Cindy, sungguh ingin rasanya dia merengkuh sang istri dengan sangat erat demi bisa menebus semua kesalahannya yang dengan sengaja melukai hati istrinya, dia merasa sudah gagal menjadi seorang suami buat istrinya, Ziko terduduk dilantai dengan bertempuh dikedua lututnya, bahunya bergetar tanda Ziko menangis, bukan karena dia cengeng hanya saja Ziko merasa sesak jika mengingat perbuatannya.
mungkin Ziko mengira dengan pelukan Cindy akan sembuh luka hati yang ia torehkan.
Devan dan Jay berjalan menghampiri Ziko, Jay dan Devan ikut terduduk di samping Ziko, Jay menepuk bahu Ziko agar temannya tidak seperti ini, ingin sekali Jay memaki Ziko, tapi Jay juga sadar jika Ziko tidak sepenuhnya salah.
"jika kamu seperti ini, tidak akan membantu menyelesaikan penyesalanmu itu, sebaiknya kamu mencari Cindy dimana dia sekarang, sebelum kamu benar-benar tidak akan bertemu dengannya lagi." ujar Jay yang ikut terduduk di sebelah Ziko, agar temannya itu bisa mendengar dengan jelas perkataan Jay.
Benar saja, Ziko langsung mengangkat wajahnya menantap Jay dan Devan bergantian, benar apa kata temannya ini, Ziko segera berdiri, dia berjalan menuju pintu keluar tanpa berpamitan pada keduanya, namun Ziko kembali masuk kedalam, "tuntaskan masalah Erik dan Jesica, dan berikan bagianku!" marah Ziko dengan pandangan yang membara, Ziko akan memberi pelajaran yang sepadan pada sepasang kekasih yang menjijikkan itu, Zikopun kembali berjalan keluar untuk menuju letak mobilnya, ketika Ziko berjalan keluar, semua anak buahnya menunduk hormat, karena mereka semua tahu siapa Ziko.
Tujuan Ziko kali ini adalah rumah Cindy yang berada di kota B, Ziko terus menjalankan mobilnya selama 5jam perjalanan, bahkan Ziko tidak merasa lelah sama sekali, rasa lelahnya hilang berganti dengan rasa tidak sabarnya ingin meminta maaf pada sang istri, hingga tidak lama Ziko sampai juga di depan rumah Cindy, penjaga yang mengenal Ziko langsung membuka gerbang rumah Cindy lebar-lebar, agar menantu dari keluarga mahendra itu bisa masuk.
Ziko turun dari dalam mobil itu, namun Ziko diam mematung ketika melihat banyak sekali karangan bunga duka cita.
"tuan Ziko," security itu menepuk bahu Ziko, hingga Ziko tersadar dari lamunannya.
"pak, siapa yang meninggal?" tanya Ziko sambil melihat seluruh karangan bunga itu, karena lumayan jauh Ziko tidak melihat dengan jelas nama yang tertera dipapan duka itu.
"tuan dan Nyonya besar mahendra, tuan Ziko," ujar penjaga itu, Ziko sampai terhuyung kebelakang, karena terkejut, hingga tubuh itu menabrak mobilnya sendiri karena posisi Ziko yang masih berada didekat mobil.
"sejak kapan pak?" tanya Ziko yang masih belum percaya dengan semua yang iya dengar, bagaimana nasib istrinya, pikir Ziko, Ziko bertambah buruk karena tidak berada disisi Cindy ketika sang istri terputuk.
1minggu yang lalu tuan, lebih tepatnya malam weekend," ujar penjaga itu.
"tidak, ini tidak mungkin!" gumam Ziko dengan suara beratnya, Ziko berjalan cepat menuju pintu utama untuk menemui istrinya, bagaimana mungkin dia tidak tahu masalah sebesar ini, istrinya pasti sangat hancur, karena malam itu, malam dimana Ziko melukai hati istrinya begitu dalam.
Dengan tidak sabaran Ziko menggedor pintu, hingga Ziko tidak melihat Bell rumah yang berada disana, tidak lama ada yang membuka pintu dari dalam, Ziko langsung menerobos masuk tanpa mempedulikan bibik yang membuka-kan pintu.
"sayang! Cin! Ini kakak!" teriak Ziko sambil terus berjalan menuju kamar Cindy yang berada di lantai Dua, Ziko langsung membuka pintu dengan kasar ketika sudah sampai di-depan kamar sang istri.
"sayang! Dimana kamu!" Ziko terus berteriak keseluruh penjuru kamar Cindy, namun yang Ziko cari tidak ada didalam kamar itu, Zikopun membuka kamar mandi dan disana juga kosong.
"huh huh huh," ARt itu ngos ngosan setelah sampai didepan kamar Nona mudanya, dia mengatur nafasnya terlebih dahulu karena berjalan cepat menaiki tangga demi bisa segera menyusul suami Nona mudanya.
"tuan Non-"
"dimana istri saya?" belum juga ARt itu selesai memberi tahu pada tuan mudanya, sudah dipotong terlebih dahulu oleh Ziko.
"Nona muda pergi tuan, 3hari yang lalu, kami semua tidak tahu kemana Nona pergi, hanya saja Nona berkata akan kembali jika ingin kembali, begitu tuan muda"
"apa tidak bilang akan pergi kemana?" Ziko semakin takut jika Cindy benar-benar pergi jauh, apa lagi dalam keadaan terpuruk, bagaimana jika istrinya berbuat nekat, pikir Ziko.
"Tidak tuan."
Ziko langsung menutup kembali kamar Cindy setelah mendengar jawaban sang bibik.
"dimana kamu sayang, maafkan suamimu yang bodoh ini, karena tidak percaya padamu, bahkan Kakak dengan tega melukaimu, hanya karena kakak cemburu" lirik Ziko.
Ziko merogoh ponselnya dan menelfon Jay, "Jay, periksa semua nama penerbangan dalam 1minggu trakhir ini, atas nama Cindy putra mahendra" kali ini Ziko tidak akan diam saja seperti yang sudah-sudah, apa lagi kali ini bersetatus istrinya, apapun akan Ziko lakukan demi bisa bertemu kembali dengan Cindy, wanita yang amat dia Cintai.
Ziko berjalan keluar dari kamar Cindy, sedangkan dari balkon kamar yang lain, ada sepasang mata yang melihat Ziko sejak menginjakkan kaki dikediaman Mahendra.
"untuk saat ini, inilah yang terbaik, agar semuanya baik-baik saja" gumamnya sambil terus melihat Ziko yang mulai keluar dengan kuda besinya.