
1minggu berlalu, sudah 1minggu Ziko menyendiri merenungi rumah tangganya, hingga saat ini Ziko belum juga dapat bukti kebenaran tentang foto itu, selain detektif yang mengatakan jika foto itu asli.
Ziko kini tengah bersiap untuk pergi kekantor, dia akan bekerja saja demi bisa mengalihkan pikirannya, Ziko keluar dari apartementnya, dia merogoh ponselnya dan mulai mengaktifkan ponsel yang sudah 1minggu dia matikan, setelah ponsel itu aktif banyak sekali pemberitahuan, disana Ziko melihat banyak sekali panggilan dan pesan tidak terjawab dari Devan, sang papah dan Jay, ada juga pesan dari ART rumahnya, dia lebih tertarik dari ART rumahnya itu, Zikopun balik menelfon sang bibik.
"ada apa bik?" tanya Ziko sambil berjalan menuju basement apartemen tempat mobilnya diparkirkan.
"Nona tuan, dia pergi dari rumah 1minggu yang lalu, dan sampai sekarang tidak kembali." ujar ART itu dari sebrang telfon, dengan suara sangat cemas, bagaimana tidak cemas, Nyonya mudanya tidak pulang1 minggu, dan tuannya setiap dihubungi tidak bisa, namun setelah memberi tahu tuan besarnya dia sedikit lega setelah menyuruhnya untuk tidak hawatir, karena Nyonya mudanya baik-baik saja ujarnya.
"bagaimana bisa bik! Apa dia tidak meninggalkan pesan sama sekali," Ziko segera berjalan cepat munuju mobilnya, tujuannya saat ini adalah pulang kerumahnya bersama Cindy, pikiran takut mulai menghinggapi pikirannya, dia mengumpat kebodohannya karena tidak pernah memperdulikan keadaan selama 1minggu ini, andai saja Ziko tidak seperti ini, dia bahkan dengan sengaja menyakiti hati istrinya karena tidak terima dengan foto yang belum tentu benar itu.
"bik!" setelah sampai rumahnya Ziko berteriak memanggil sang ART, bahkan dia tidak sabaran sampai membuka pintu dengan keras, namun Ziko tidak lupa menutup kembali.
"ya Tuan?" bik Ijah terpogoh-pogoh menghampiri tuan mudanya, bik Ijah sampai hampir terjatuh karena habis mengepel.
"dimana Cindy bik?" tanya Ziko dengan wajah paniknya, setelah berhadapan dengan bik Ijah, bagaimana tidak panik, tiba-tiba mendengar istrinya tidak dirumah, cinta yang begitu besar hingga membuatnya tidak terima dan mengabaikan istrinya selama ini, karena merasa di hianati.
Bik ijah hanya menggeleng, dia tidak bisa menjelaskan apapun karena dia sendiri juga tidak bertemu Cindy untuk trakhir kalinya, "ini tuan," bik ijah menyodorkan sebuah kertas yang ditinggalkan Cindy untuk dirinya.
Tanpa banyak kata Ziko langsung menyambar cepat kertas itu dan membacanya.
"bik Cindy pamit, maaf Cindy tidak pamit langsung sama bibik, karena Cindy tidak ingin mengganggu bibik yang masih tidur, Cindy sayang bibik" isi surat Cindy untuk Bik ijah.
"sial, kenapa dia pergi begitu saja, bukannya dia berjanji akan memberikan buktinya padaku, kalau foto itu tidak benar" berang Ziko sambil menendang tembok yang tidak jauh dari dirinya berdiri, antara kecewa dan sakit secara bersamaan dihatinya, dia bahkan tidak ingin Cindy pergi.
Ziko langsung berbalik dan berjalan keluar, tujuannya saat ini adalah markas mereka.
"siapa?" tanya Ziko ketika membuka pintu dia melihat seorang pria yang berdiri didepan pintunya.
"apa ini benar rumah Nona Cindy?"
Ziko yang mendengar nama istrinya disebut pria lain langsung merasa tidak suka, dia langsung menarik kerah jaket pria yang ada di hadapannya ini, orang itu bahkan tidak bisa melepas cengkraman Ziko yang begitu kuat, karena dibarengi dengan emosi hingga kekuatan Ziko berkali-kali lipat.
"ada apa mencari istriku?" tanya Ziko dengan tangan yang masih berada dikerah jaket pria itu.
"lepas dulu tuan, saya kemari hanya ingin menyerahkan bukti ini pada Nona Cindy, dan sekalian saya mau minta maaf karena waktunya jauh dari perkiraan saya."
"mana rekening anda?" tanya Ziko, setelah orang itu menyebutkan no reknya, Ziko segera mentrasfer sejumlah uang dan menyuruh orang itu pergi, Ziko berjalan menuju mobilnya dan masuk ketempat kemudi, dengan tidak sabar Ziko membuka amplop coklat itu, disana dia melihat foto Cindy yang dipapah oleh dua orang pria dalam keadaan tidak sadar, dan disana juga ada sebuah flasdisk.
"sial, aku harus segera kemarkas untuk melihat isi flasdisk ini," Ziko segera tancap gas agar segera sampai kemarkas, tidak lupa pula Ziko menyuruh Devan untuk kesana juga, bahkan Ziko seperti kesetanan saat mengemudi.
...----------------...
"akhirnya setelah semedi dia ingat juga padaku," gumam Devan setelah dapat telfon dari sang bos untuk kemarkas bawah.
Devanpun beranjak dari kursi kebesarannya dan segera pergi dari sana untuk kemarkas seperti titah sang bos, "De aku akan pergi, jika ada meeting di tunda dulu saja," tanpa menunggu jawaban sekertarisnya Devan berlalu dari sana.
Sekertaris Ziko hanya mengangguk, pada bayangan Devan yang sudah hilang dari pandanganya. "jika asistennya saja seperti itu, bagaiamana dengan sang bos, aku sudah seminggu disini, bahkan aku belum melihat bos besar disini," gumam Dea sekertaris baru Ziko, Ziko tidak main-main mengatakan jika setelah pesta Cindy dilarang kembali lagi untuk bekerja, hingga Cindy benar-benar tidak kembali.
1jam berlalu, karena markasnya yang cukup jauh Ziko belum sampai ditempat, yang sampai duluan justru Devan yang lebih dekat dengan markas, "dimana anak ABG itu?" tanya Devan yang kini duduk dihadapan Jay.
Jay mengedihkan bahunya, "sepertinya dia akan membahas hal penting, karena tidak biasanya dia akan seperti itu" karena Jay tahu bagaimana Ziko jika butuh mereka.
"sudah pasti, dia hanya akan mengajak kita bertemu jika dia butuh, bukan begitu" timpal Devan yang di setujui oleh Jay.
Benar saja, tidak lama Ziko masuk dengan wajah, antara marah dan sedih secara bersamaan, dia mengutuki anak buahnya yang tidak becus mencari bukti tentang kebenaran Foto sang istri bersama pria lain, hingga dia menyakiti hati istrinya begitu dalam.
"mana laptop," pinta Ziko tanpa basa-basi dulu pada Jay dan Devan, dia segera duduk dan melihat isi flasdisk itu, Jay dan Devanpun mendekat demi bisa melihat isi flasdisk itu juga.
"sial!" umpat mereka bersamaan, ternyata biang keroknya adalah musuh besar klan mereka dan mantan kekasih Ziko, Jesica.
Ziko berdiri dan membanting apapun yang ada di-hadapannya termasuk laptop juga, dia merasa begitu sangat bodoh hingga tidak bisa menjaga istrinya, Ziko melihat dengan jelas saat Cindy di buat tidak sadar oleh 2preman itu, dan selang 1jam musuh besarnya masuk, tidak sampai 10 menit musuh Ziko itu keluar dari kamar Yang Cindy tempati, sudah bisa di pastikan kalau Cindy tidak diapa-apain sama mereka, musuh Ziko hanya ingin membuatnya bertengkar dengan sang istri, bahkan Ziko melihat dengan jelas, Jesica yang bekerja sama dengan musuhnya yang tidak lain juga selingkuhan Jesica ketika dulu bersamanya.
"kenapa! Kenapa bisa seperti ini! Apa yang mereka inginkan sebenarnya!"berang Ziko, bahkan Ziko menendang meja itu hingga berbalik, sampai kaca meja itu menjadi serpihan.
"aku tidak hanya 1kali menasehati dirimu, untuk tidak begitu pada istrimu sebelum tahu kebenarannya, tapi kamu tidak mau mendengar" celetuk Devan, Devan bisa meyakini jika Cindy tidak sama dengan Jesica, namun karena Ziko pernah di-hianati, dia merasa Cindy sama dengan ibu dan mantan kekasihnya.
"ini ada titipan dari Cindy, 1munggu yang lalu," ya, Devan membawa amplop coklat yang dititipkan padanya oleh Elvin waktu itu, yang di khususkan untuk Ziko.
Ziko mengambil amplop itu dan membukanya, "tidak!!" teriak Ziko setelah tahu isinya.