
"Kenapa kamu cemberut, apa kamu tidak suka kakak mengajakmu kesini?" Ya, kini mereka berada di resto bintang lima yang buka 24jam, Ziko mengajak Cindy sarapan bersama diluar sekalian untuk meminta sang istri menyuapinya seperti biasa, karena Ziko merindukan saat saat sang istri menyuapinya, apa lagi dua minggu terakhir kemaren hubungan mereka yang berjarak justru membuat Ziko merasa ada yang hilang, "hey kenapa diam saja."
"Terus kakak ingin nya aku bagaimana? Kalau aku menolak bukannya kakak akan selalu memaksa," kesal Cindy, dia selalu susah menebak keingin suaminya yang seperti bunglon, lagian kenapa suaminya jadi begini, seperti anak kecil saja, Cindy kan malu jadi tontonan pengunjung lain, kalau di kantor Cindy tidak keberatan, karena hanya ada mereka berdua, la,,, ini di tempat umum, Cindy melihat kesana kemari sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia kikuk sendiri berada di restoran itu, "ayo kak kita segera kekantor, dan punyaku biar aku makan di kantor saja," Cindy segera berdiri dan mengajak suaminya pulang, bahkan tanpa sadar Cindy menggandeng tangan suaminya.
"Hey tunggu dulu."
"Kak! kumohon, jangan berdebat dipagi hari denganku, mengerti," titah Cindy sambil berkacak pinggang pada Ziko, Ziko mengangguk anggukkan kepalanya, akhirnya Ziko tidak berkata apa-apa, Ziko hanya mengikuti Cindy di belakangnya sambil bersiul.
"Sejak kapan dia jadi galak begitu," gumam Ziko dalam hati, melihat istrinya yang galak, bukannya Ziko marah justru itu menjadi hiburan tersendiri baginya.
Tidak lama mereka berdua sampai di kantor Ziko, Cindy masuk terlebih dahulu meninggalkan Ziko di belakang begitu saja, Ziko yang melihat kelakuan istrinya mendelik, berani sekali Cindy meninggalkan suaminya, Cindy masuk keruangan OB dan hanya melihat Dila disana, "hey, dimana Yang lain, kenapa kamu sendiri?" Tanya Cindy sambil duduk di kursi yang ada disana.
"Heh Non, apa kamu mengantuk, sudah jam berapa ini?" Tunjuk Dila pada jam dinding yang ada disana, Cindy yang melihat kearah jam dan sudah jam 10 langsung terdiam, Cindy terkekeh mengingat kebodohannya, bukannya langsung keatas justru dia malah nongkrong dulu, "Kamu kemana saja baru datang, apa kamu tidak takut dimarahi bos, dia mengerikan kalau marah," ujar Dila dengan suara pelannya, karena takut ada yang mendengar dan sampai ditelinga sang bos, Dila tidak tahu saja jika yang ada di hadapannya justru istri sang bos.
"Mana mungkin dia marah padaku, bahkan karena perbuatannya aku bisa sampai kesiangan" batin Cindy, "sudah lupakan, kalau bosku marah itu urusanku, dimana yang lain?" Tanya Cindy lagi.
"Jelas bekerja lah, kamu ini, Tesha ada diatas dan yang lainnya ada di lantai 5 dan 3."
"Ya sudah aku keatas dulu," Cindy segera berlalu dari sana untuk keruangannya, sebenarnya dia malas bekerja jika tidak mengingat uangnya sudah menipis, "ah statusku saja yang istri sultan, bahkan dia tidak memberiku uang" grutu Cindy sambil menaruh tasnya disofa yang ada diruangannya.
"Berapa yang kamu inginkan?"
Cindy diam mematung, dia seperti mendengar suara suaminya yang bicara diruangannya, "ah sepertinya aku berhalusinasi, mana mungkin dia disini," ujar Cindy, Cindy berjalan hendak duduk, namung langkahnya terhenti setelah melihat seseorang duduk dikursi kerjanya, "astaga,,, ternyata bukan mimpi, ini benar-benar hantu yang terlihat," batin Cindy, Cindy menetralkan keterkejutannya dan memandang sang suami, "ehm, ada apa kakak disini, apa kakak salah masuk?"
"Berapa yang kamu inginkan?" Ulang Ziko lagi, karena dia tidak mendapat jawaban dari istrinya tadi, itu sebabnya dia bertanya kembali.
"Apanya kak, aku bahkan tidak mengerti maksud kakak," karena memang Cindy tidak mengerti maksud suaminya, bukan tidak mengerti, lebih belum ingat saja.
"Bukannya kamu mengatakan jika aku tidak memberimu uang, jadi berapa yang kamu inginkan?" Ziko berdiri dan berjalan menghampiri Cindy, sedangkan Cindy mulai mundur perlahan.
"Ah tidak kak, mana ada,," kilah Cindy, "sudah lupakan saja kak, lagian aku hanya sekedar bicara," Cindy berbalik hendak berlalu dari sana, namun sayang gerakannya kalah cepat dengan Ziko yang langsung menutup pintu Cindy.
"Mau kemana?" Ziko membalikkan tubuh Cindy agar menghadap kearahnya.
"emm, biar kakak yang pesankan lewat OB, jadi kamu tidak perlu repot membuat sendiri," Ziko mengambil salah satu tangan Cindy dan menaruh sebuah kartu sakti untuk digunakan sang istri, Ziko sadar jika dirinya telah lalay tidak menafkahi Cindy selama mereka menikah, Ziko berjalan melewati Cindy dan keluar dari ruangan sang istri untuk kembali keruangannya sendiri.
sedangkan Cindy melihat karu debit yang ada di tangannya, dia mebolak balikkan kartu itu, "jika ingin memberikan kartu kenapa tidak langsung diberikan saja, kenapa harus membuatku merasa sesak nafas sendiri," grutu Cindy, Cindy mengira mereka akan mengulang malam panas mereka lagi di kantor, itu sebabnya Cindy hendak kabur dari ruangannya sendiri, eh ternyata, Cindy menggeleng dan menonyor kepalanya sendiri menyadari pikiran kotornya, "kenapa aku jadi berfikiran liar melihat kak Ziko" gumam Cindy sambil tersenyum bodoh.
Sedangkan diruangan Ziko, kini ada Devan yang sedang disidang oleh Ziko, Ziko yakin semua ini ulah asistennya sendiri, karena Ziko paham sekali obat apa yang sudah diberikan temannya semalam, dilihat dari reaksi tubuhnya, "bagaimana?"
"apanya yang bagaimana."
"ingin bonusnya di potong total, atau melakukan tugas yang aku perintahkan," tawar Ziko, mana mungkin Ziko membiarkan pelakunya bebas begitu saja.
"sudahlah lupakan, lagian kamu juga menikmatinya kan, jangan bilang kamu marah karena obat itu, seharusnya kamu berterima kasih padaku, karena sudah membuatmu menjadikan istrimu, istri sungguhan," jelas Devan panjang lebar.
"memang kamu tahu apa yang terjadi semalam?" tanya Ziko dengan mata menyelidik.
"hahaha kamu pikir aku bodoh, pasti sudah terjadi sesuatu semalam, melihat dari wajahmu yang berseri aku sudah bisa meyakini."
"sialan!"
"mana."
"apa?" Ziko merasa heran, kenapa Devan menadahkan tangan padanya, memang apa yang orang ini minta, pikir Ziko.
"tentu saja tambahan bonus, jika bukan karena aku, mana mungkin kamu bisa ehem ehem sama istrimu."
"enak saja! Keluar sana," usir Ziko, dia yang berniat memberi pelajaran pada temannya, kenapa justru Devan yang meminta uang padanya, pikir Ziko.
"hey, tahu begitu aku tidak membantumu semalam" kesal Devan, setelah dia ditarik tangannya oleh Ziko agar keluar dari ruangannya.
"Devan ini bener-bener, tapi memang iya sih, seandainya dia tidak memberiku obat, mana mungkin malam tadi akan terjadi," gumam Ziko setelah duduk dikursi kebesarannya.