
"Pagi," Devan masuk keruangan Ziko, dan dia menyerahkan sebuah kunci pada Ziko.
"Om," tidak lupa Devan menyapa tuan Anderson yang berada didekat Ziko.
"Apa ini?" Tanya Ziko, untuk apa Devan memberinya kunci pikir Ziko.
"Kunci."
"Sialan! Tanpa kamu beri tahupun aku tahu ini kunci, maksudku ini kunci apa?" Kesal Ziko, Hingga rasanya Ziko ingin sekali melempar Devan dengan kunci yang iya pegang, jika saja tidak ada sang papah dihadapannya.
"Itu kunci rumah yang kamu pesan 1bulan yang lalu, sesuai janjiku, jika sudah satu bulan kamu akan menerima kuncinya."
"O"
"O? Apa kamu tidak ada niatan memberiku hadiah atau paling gak bonus?" Kenapa bosnya ini tidak peka sekali, pikir Devan.
"Tidak!"
"Oh astaga, pelit sekali"
Ziko sama sekali tidak menanggapi ocehan Devan, karena dia sedang sibuk dengan ponselnya.
Kini Devan beralih menatap tuan Anderson. "Apa om Anderson berniat memberiku sesuatu, ya sebagai tanda terima kasih telah membantu Ziko mencari tempat tinggal," siapa tahu tuan anderson berbaik hati, pikir Devan.
Tuan Anderson tersenyum, dan senyum itu sukses membuat Devan ikut tersenyum juga, itu tandanya sesuai dugaan, "sudah kuduga, tuan besar sangat murah hati," batin Devan
"Mintalah pada Ziko, dia kan bosmu," lenyap sudah senyum Devan, niat hati ingin memperluas usahanya.
"Aku bakar kata-kataku tadi" umpat Devan dalam hati, lain hal dengan Ziko yang tertawa terbahak bahak, mendengar jawaban papahnya.
Tidak terasa jam pulangpun tiba, setelah berbincang banyak hal dengan sang putra, tuan Anderson pun pulang kerumahnya, karena seperti biasa dia selalu menghabiskan waktu dengan istrinya, dan semua pekerjaan dia serahkan pada Ziko, hanya sesekali mengecek kekantor.
"Pah,,, sudah pulang?" Mamah Nisa menghampiri suaminya dan mencium punggung tangan sang suami, tuan Andersonpun mencium kening istrinya.
"Hem, tadi papah hanya sebentar dikantor dan bertemu klien lainnya mah"
Ziko kini tengah dijalan untuk pulang, dia akan menyiapkan kejutan untuk sang istri, karena selama ini dia tidak pernah memberikan kejutan untuk sang istri, Ziko menelfon Devan untuk minta tolong menyiapkan diner bersama Cindy.
"semoga istriku suka dan bahagia," gumam Ziko pada dirinya sendiri, kini Ziko tengah berhenti dilampu merah, diapun mengirim pesan pada Cindy, akhir-akhir ini Ziko selalu ingin tahu apa yang istrinya lakukan, tapi sayang sang istri tidak membalasnya.
Tidak lama Ziko sampai dirumahnya dan segera berjalan masuk untuk menemui Cindy, tidak lupa dia membawa bunga yang sudah dia beli ditoko bunga tadi.
"sayang,,," belum juga Ziko sampai didalam kamarnya, dia sudah teriak teriak memanggil sang istri, hingga Ziko sampai dikamar dan melihat istrinya yang tengah tertidur.
"ternyata dia sedang tidur," Ziko terus melihat sang istri yang masih dialam mimpinya, Ziko memberi kecupan di seluruh wajah Cindy, hingga Cindy melenguh.
"kak sudah pulang," Cindy segera bangun dan menyalimi Ziko, tidak lupa dia memberi kecupan dipipi suaminya.
"ayo mandi sayang, ini sudah sore lho, dan lihat, bahkan bajumu masih sama sejak pagi" Ziko menggeleng melihat istrinya, biasanya dia akan selalu wangi dan tidak pernah seperti ini.
"kak aku malas mandi, gak usah mandi ya kak?" melas Cindy.
"no sayang, kamu harus mandi, karena nanti badan kamu lengket, dan akan tidak nyaman, jadi harus mandi."
"kak,,," Cindy memasang wajah menggemaskan supaya suaminya tidak lagi memaksanya.
Ziko tanpa aba-aba langsung menggendong sang istri untuk iya mandikan.
"kakak!" teriak Cindy karena terkejut dengan aksi tiba tiba sang suami.
"diam sayang jangan seperti ini, atau kamu akan jatuh," akhirnya Cindy tidak lagi berontak, dia kini justru memeluk tubuh suaminya sangat erat.