
Ziko berdiri dihadapan Cindy yang hendak memasukkan makanan kedalam mulutnya, hingga Cindy menghentikan gerakan tangannya, Cindy syok, Cindy langsung mematung melihat Ziko dihadapannya, Gentapun sama, lain dengan balita itu yang masih asyik dengan makanan dipiringnya, karena selain Cindy dan Genta, mereka semua tidak ada yang mengenal Ziko, sedangkan Genta dari awal sudah melihat Ziko berjalan kearahnya, namun Genta acuh saja, karena Genta masih merasa kesal dengan Ziko yang telah menyakiti hati adiknya.
Cindy berdiri, pandangan mereka terus berpusat satu sama lain, Cindy bisa melihat penampilan mantan suaminya yang masih sama tetap tampan dalam keadaan apapun, meskipun baju yang ia kenakan biasa saja, bahkan Cindy yakin jika pria di hadapannya ini belum mandi jika dilihat dari rambutnya yang acak-acakan.
Sama halnya Cindy, Ziko memandang wanita didepannya ini dengan tatapan entah, Cindy terlihat sangat cantik dan anggun, bahkan rambutnya terlihat sangat indah.
"Hay!" Cindy mengutuk dirinya sendiri, niat hati tidak ingin menyapa duluan, namun bibirnya tidak bisa di rem untuk tidak menyapa terlebih dahulu.
Sedangkan Ziko ingin sekali memeluk Cindy dengan sangat erat, namun dia ada keraguan, dan takut, karena dia melihat Cindy tidak sendiri, melainkan ada pria lain yang duduk disampingnya.
"Apa kabar?" Akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Ziko.
Seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja" seakan-akan dia ingin mengatakan jika dirinya juga bisa hidup tanpa Ziko.
"anda" batin Ziko
Ziko tersenyum, "syukurlah, aku senang jika kau baik-baik saja" ingin rasanya Ziko menarik Cindy kesuatu tempat, tapi entah kenapa langkahnya sungguh berat.
"Nyomi mamam" celetuk Azzura.
Hingga Basa-basi mereka buyar akibat suara si kecil azzura yang meminta makan disuapi sang mommy.
"Ah ok anak Mommy yang cantik," Cindy menatap Ziko, "jika mau silahkan bergabung dengan kami," ujar Cindy dengan seyum manisnya, seperti yang selalu dia berikan pada Ziko waktu masih menjadi suami istri. Cindy kembali duduk untuk menyuapi Azzura sang putri.
"Mommy? apa Cindy sudah punya anak dan suami lagi" gumam Ziko dalam hatinya, pandangannya tidak lepas dari Cindy, apa lagi melihat Cindy yang begitu telaten menyuapi balita yang begitu lucu dimata Ziko, entah kenapa Ziko sangat menyukai kedua bayi kembar yang disuapi Cindy, bahkan Ziko ikut tersenyum mendengar celotehan Azzura
Namun senyum Ziko sirna ketika melihat seorang pria yang manyuapi Cindy, Ziko tidak tahu kalau pria itu adalah kakak Cindy, Genta, karena mereka tidak pernah bertemu.
Namun tidak dengan Genta, Genta sangat tahu siapa Ziko, karena dia selalu memantau Ziko.
"Silahkan bergabung dengan kami," setelah diam cukup lama, akhirnya Genta mengeluarkan suaranya, "sini Azzam sama Papi, biarkan mommymu makan dulu," Genta mengangkat Azzam dan memangkunya, agar Genta bisa leluasa menyuapi keponakannya itu.
"Apa tadi yang pria ini katakan, Papi, jadi benar Cindy sudah punya pria lain," gumam Ziko lagi, Ziko melotot melihat pemandangan didepannya, dimana Genta tengah mengusap pipi Cindy dengan jarinya karena ada noda saus disana.
Dimana dalam pandangan Ziko, itu sungguh sangat romantis, apa lagi keluarga mereka serasa sempurna, dengan sepasang anak kembar yang lucu, sedangkan dirinya masih berharap dimasalalu.
Azzura meronta dari gendongan Cindy, hingga Cindy menurunkan Azzura, tiba-tiba Azzura berjalan menghampiri Ziko dan menarik narik celana Ziko, Ziko langsung berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Azzura.
Deg...
"Perasaan apa ini, kenapa rasanya aku begitu dekat dengannya," Ziko mengelus punggung Azzura yang berada dalam dekapannya, sambil membatin
Sedangkan Cindy langsung berdiri dan menghampiri Azzura, "maafkan putriku, entah kenapa dia tiba-tiba begitu, biasanya tidak seperti ini" Cindy segera mengambil Azzura dari gendongan Ziko, namun Azzura malah menangis dan tidak mau lepas dari gendongan Ziko.
"Biarkan dulu, kasian dia menangis," Ziko langsung berdiri dan membawa Azzura dalam gendongannya, dan ajaibnya Azzura langsung terdiam.
"Apa ini yang dinamakan ikatan batin seorang anak pada orang tuanya," batin Cindy, Cindy melihat Genta, Genta yang pahampun mengangguk, tanda agar Cindy membiarkan saja Azzura digendong Ziko.
"Apa Azzura tidak ingin sama Papi?" Kini giliran Genta yang coba menggendong Azzura, namun Azzura justru menggeleng, akhirnya Genta membiarkan saja.
"Jika anda ingin ikut kami, maka ikutlah, kami akan kepantai, karena hari ini weekend," Genta kini beralih menatap Ziko, tanpa pikir panjang Ziko langsung meng iyakan ajakan Genta, kapan lagi dia bertemu Cindy pikir Ziko, karena banyak yang ingin Ziko bahas dengan Cindy.
Tidak lama mereka semua keluar dari Resto Sedarat, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Devan yang memanggil Ziko, hingga Cindy dan yang lainnya ikut menoleh pada sumber suara Devan.
"Apa kalian akan pergi?" Tanya Devan pada semua orang, namun pandangannya justru tertuju pada Cindy dan Ziko secara bergantian.
"Kak Devan, apa kabar?" Cindy mengulurkan tangannya pada Devan, dan disambut baik oleh pria itu.
Ziko yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya, dia kesal karena Cindy tidak sehangat itu padanya, justru dia lebih hangat dengan Devan, bahkan dia memanggil Devan dengan panggilan kak, dimana itu justru membuat kekesalan Ziko semakin bertambah.
"Aku baik, kemana saja kamu selama ini?" Devan bertanya seraya berjalan mendekati Ziko yang tidak jauh dari mereka, namun Ziko justru melotot pada Devan, dimana itu malah membuat Devan mengernyitkan kedua alisnya, tanda bertanya.
Cindy tidak menjawab, dia hanya tersenyum, seperti Ziko tadi, Senyum Cindy pun sirna ketika melihat Rena berjalan kearah mereka juga.
"Ternyata hubungan mereka memang serius, apa kak Ziko sudah menikah dengan wanita ini?" Batin Cindy, Cindy tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya, namun Cindy berusaha menutupi dengan baik, namun sayang, Genta bisa melihat semua itu, karena setiap perubahan dari wajah sang adik, Genta bisa melihatnya.
"Kenalkan dia Rena temanku" Devan memperkenalkan Rena pada semua orang, termasuk pada Cindy, Devan mungkin lupa, jika karena Renalah Cindy memilih pergi.
"Cindy," Cindy mengulurkan tangannya pada Rena, meskipun rasanya dia enggan, namun dia akan berusaha baik-baik, karena semuanya sudah berlalu.
"Ayo kita semua berangkat, jika kalian ingin ikut maka ikutlah, tidak enak berdiri terlalu lama disini, karena ramai pengunjung," Genta menengai, karena kedua keponakan kembarnya dan babysitter beserta ART rumahnya sudah berada didalam mobil.
"Iya kami akan ikut, Devan nyelonong begitu saja disusul Genta, sedangkan Cindy masih berdiri disana, pandangannya beradu dengan Ziko yang juga masih berdiri disana, namun Cindy segera memutus pandangan itu dan berlalu dari sana menyusul yang lain, karena Cindy tidak ingin baper dengan keadaanya sekarang.