Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-36



1minggu berlalu, kini Ziko dan Cindy sudah mulai bekerja, keduanya tengah berpegangan tangan didalam mobil dan saling melempar senyum, sesekali Ziko mengelus kepala sang istri, karena Ziko tengah mengemudi, tidak lama mereka sampai didepan kantor Anderson grup.


"Kak, aku keluar duluan ya, mau ngasih ini keteman-teman di tempat OB," ujar Cindy sambil memperlihatkan paperbag yang ada ditangannya.


"Hanya itu saja?" tanya Ziko.


"Iya kak, hanya memberi oleh-oleh setelah itu akan langsung keruangan, jangan risau, aku tidak akan lama disana."


"Bukan itu yang kakak maksud," kesal Ziko, Ziko menjetukkan jidatnya kesetir mobilnya, "apa dia tidak mengerti cara berpamitan pada suami kalau akan bekerja" gumam Ziko dalam batinnya, "gini lh-" ketika Ziko mengangkat wajahnya Cindy sudah tidak ada didekat mobilnya, "kemana dia, astaga,,, kenapa dia sudah menghilang begitu saja" umpat Ziko, Ziko keluar dari mobil dan melempar kuncinya pada security agar memparkirkannya ditempat yang memang di khusukan untuk Petinggi perusahaan, sepanjang jalan Ziko terus menggrutu karena ketidak pekaan sang istri, "lihat saja nanti dirumah"


"Taraaaa,,," Cindy langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Dila, Elvin tengah menenangkan Tesha yang sedang menangis, Cindy berjalan menghampiri mereka, "ada apa ini?" Tanya Cindy, Cindy duduk desebelah Tesha setelah Dila memberinya ruang untuk duduk.


"Ayah Tesha sedang di rumah sakit, karena penyakit paru-parunya kambuh, dan harus segera dilakukan tindakan oprasi," terang Elvin pada Cindy.


"Yang sabar ya Sha, apa kamu tidak cuti untuk menemani?" Tanya Cindy, Cindy tahu, pasti Tesha ingin bersama orang tuanya disaat begini, pasti Tesha sangat cemas pikir Cindy.


"Aku akan minta cuti, dua hari lagi setelah aku gajian Cin, tidak perlu hawatir" Ujar Tesha sambil tersenyum pada temannya itu.


"Baiklah, ini untuk kalian, di bagi ya, aku harus segera keruanganku, takut bos marah," Cindy beranjak setelah memeluk sekilas Tesha, demi memberi ketenangan pada temannya itu, "bay, jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja, Semangat," ujar Cindy pada Tesha


"Pasti," setelah mendengar jawaban Tesha Cindypun berlalu dari sana dengan melambaikan tangannya.


"Kenapa kamu tidak minta bantuan nya Sha, meminjam sama Cindy, siapa tahu dia ada," ujar Dila.


"Pastinya ada, dia kan sekertaris CEO, pasti gajinya besar, seharusnya kamu pinjam padanya," timpal Elvin.


Namun Justru Tesha menggeleng, "kita mengenal Cindy baru 2bulanan kan, aku tidak ingin meminjam padanya karena kami baru berteman, mana mungkin aku merusak pertemanan ini, lagian dia sudah berkeluarga, harus ada ijin suaminya juga, apa kata suaminya nanti, kalian kan tahu uang yang aku butuhkan tidak sedikit, 500 juta, bahkan aku belum pernah melihat uang sebanyak itu," Tesha tertunduk, kenapa hidup seperti tidak adil menurut Tesha.


"Apa coba kamu meminjam pada kantor saja, biar nanti dipotong setiap bulannya dari gaji bulananmu,"saran Dila lagi, meskipun Dila gak yakin karena jumlahnya banyak, pikir Dila, kan gak ada salahnya mencoba.


Tesh menimbang nimbang perkataan Dila, "baiklah, akan aku coba," akhirnya Tesha memilih saran Dila yang trakhir, ini lebih baik, dari pada harus menyusahkan orang lain, pikir Tesha.


Kini Tesha tengah berjalan kearah ruangan pak Yudha, direktuk keuangan, tok,,, tok,,, tok,,, "permisi pak."


"Iya! silahkan masuk," teriak pak Yudha dari dalam, tidak lama muncul Tesha dengan rasa gugup yang luar biasa, bukan karena melihat pak Yudha tampan atau bagaimana, tapi dia bingung harus bicara bagaimana, jangankan dengan direktur keuangan, dia bahkan sangat takut bicara dengan atasnya di bagian OB, Tesha mulai berjalan perlahan hingga dia tiba didepan pak Yudha, sedangkan pak Yudha yang melihat itu mengernyit alisnya, dia bingung untuk apa seorang OB menemui dirinya, dilihat dari seragamnya pak Yudha sudah paham jika didepannya ini OB prusahaan tempatnya bekerja.


"Maaf pak mengganggu waktu anda," Tesha memberanikan diri untuk bicara.


"Iya, ada keperluan apa kemari, kenapa tidak lewat sekertaris saya didepan?"


"Baiklah, katakan."


"Begini pak, apa saya bisa mengajukan pinjaman diprusahaan ini? dan di potong setiap bulannya dari gaji saya," tanya Tesha dengan suara yang lirih, namun masih bisa terdengar jelas ditelinga pak Yudha.


Yudha menatap Tesha dengan seksama, "apa kamu sudah lama bekerja disini?"


"Sudah hampir dua tahun pak."


"Apa sebelumnya kita pernah bertemu, maksud saya selain ditempat ini," karena pak Yudha merasa familiar dengan wajah Tesha.


Tesha diam tidak menjawab, dia hanya menunduk, mana mungkin dia mengatakan jika dirinya pernah bertemu diclub malam, lebih tepatnya pak Yudha yang sering ke Club tempatnya bekerja.


"ah sekarang saya ingat!" pekik Pak Yudha dengan suara yang cukup keras, "bukannya kamu wanita yang bekerja di bar?" selidik Yudha dengan mata menyipit.


Tesha memejamkan kedua matanya sesaat, mau dia diam sekalipun pada akhirnya perlahan semua orang akan tahu dia bekerja dimana jika malam hari,


"Iya pak."


Yudha langsung tersenyum penuh misteri, dia melihat tubuh Tesha dari atas hingga bawah, meskipun baju yang dia kenakan sedikit tertutup tapi tetap saja, masih terlihat jika tubuhnya sangat aduhay, "berapa yang kamu butuhkan" tanya Yudha sambil berdiri dan berjalan mendekati Tesha.


"500 juta pak," jawab Tesha sambil sedikit demi sedikit mundur, karena dia melihat jika Yudha mulai mendekat padanya.


"Aku tidak akan bertanya untuk apa uang itu, tapi tenang saja kalau cuman uang segitu akan aku berikan, pribadi dariku, karena prusahaan tidak akan meminjamkan uang sebanya itu untuk karyawan."


"Benarkah pak, terima kasih atas kemurahan hati bapak, saya akan mencicilnya pak, saya janji tidak akan kabur pak," girang Tesha, sungguh Tesha tidak menyangka jika semuanya akan semudah ini, pikir Tesha.


"Sama-sama, tapi juga ada syaratnya, jika kamu bersedia, kamu tidak perlu membayarnya, bagaimana?" senyum licik terlihat jelas diwajah pak Yudha, dan Tesha bisa melihat itu, dia bukan remaja yang polos, tapi Tesha berharap bukan hal yang di pikirkannya.


"Maksud bapak, syarat yang bagaimana pak?" Tanya Tesha tanpa ragu, karena dia tidak mungkin menyiakan kesempatan, demi ayahnya yang kini tengah berjuang di rumah sakit.


"Kamu cukup menjadi pemuas nafsuku disaat aku membutuhkanmu, kapanpun itu, aku yakin ini tidak sulit untukmu, karena memang pekerjaanmu di tempat seperti itu." Bisik pak Yudha di telinga Tesha, dan itu sukses menyulut emosi Tesha, dia kira masih ada orang baik disekitirnya, ternyata pria sama saja, hanya menilai orang dengan hal negatifnya, pikir Tesha.


Tesha berbalik dan mentap nyalang pada pak Yudha, tanpa ragu Tesha menampar pak Yudha dengan sangat keras, dia sungguh jijik dengan pria didepannya ini, Tesha yakin pria didepannya ini sudah beristri.


"kau!"


"apa!" bentak Tesha balik, "Dasar pria menjijikkan, sungguh anda tidak punya malu," setelah mengatakan itu Teshapun pergi dari sana.