
"kenapa kamu disini, kenapa tidak langsung keruanganuku!" suara Ziko yang cukup mengejutkan Cindy hingga membuat gadis itu cegukan, Cindy mengumpat dalam hati, kenapa bisa Ziko tahu kalau dirinya sudah masuk ruangan, Cindy tidak tahu saja, jika setiap kegiatannya bisa dilihat dengan jelas oleh Ziko, entah Cindy yang oneng apa gimana atau Ziko yang selalu pintar menutup kaca yang menghubungkan dengan ruangan sekertarisnya, "kenapa malah diam!"
"lah, pertanyaan kakak konyol, kan ini ruanganku, sudah pasti aku disini," jawab Cindy, Cindy melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan Ziko yang masih berdiri didepannya, Ziko bahkan terus menatap Cindy yang sama sekali tidak melihat dirinya.
"apa kamu akan membiarkan aku berdiri terus disini," Cindy menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Ziko, ada apa dengan suaminya ini, kenapa aneh sekali.
"apa kakak butuh ijinku untuk duduk?"
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan," Ziko langsung berbalik dan keluar dari ruangan Cindy, dia merasa seperti orang bodoh, "kenapa aku jadi seperti ini, entah kenapa aku selalu butuh perhatiannya, kenapa dia tidak peka sekali" kesal Ziko, sambil berjalan keruangannya, baru juga duduk Ziko sudah ada tamu, "apa!!"
"lah apa!! apa kamu sedang mens? Kenapa uring uringan kayak datang bulan begitu?" omel Jay, ya ketika Jay baru masuk dia melihat wajah bosnya yang kayak belum digosok saja.
"sudah lupakan, ada apa kesini!"
"tidak ada, hanya berkunjung saja, sekalian memberitahumu tentang Tere."
"Nah itu yang aku tunggu, bagaimana dengannya, apa dia bisa menjalani hidup seburuk itu?"
"Jangan bilang buruk, dia pantas mendapatkannya, mengingat dia hampir membunuh Monic, apa kamu lupa itu!"
"Tentu saja tidak! kalau aku melupakannya sudah aku kirim dia kembali kemansion utama, hanya saja tante menghawatirkan keadaannya, dan aku harus selalu berbohong jika Tere baik-baik saja."
"Memang dia baik-baik saja, yang bicara dia lumpuh siapa," ujar Jay, sungguh Jay selalu sensi jika sudah membahas masalah Tere, entah kenapa sedari dulu Jay selalu marah marah jika berurusan dengan wanita itu, yang tidak lain adik dari tuannya, Ziko. menurut Jay Tere orang yang sangat menjengkel kan, apa-apa tidak bisa, apa-apa selalu ingin dipenuhi, itu sebabnya, ketika Jay mendapat perintah untuk mendidik Tere dia dengan senang hati menerimanya, karena Jay ingin memberi pelajaran pada gadis sombong ini.
"Jangan terlalu keras padanya, atau kamu akan jatuh cinta padanya nanti" kelakar Ziko, ya Ziko sangat tahu betul Jay paling tidak suka dengan wanita manja, sekelas adik sepupunya itu.
"Sudah jangan membahasnya, membuatku pusing saja, sekarang aku ada berita yang lebih peting lagi, tentang kekasihmu dimasalalu, di-"
"Stop! Kamu sudah telat, aku sudah tau dimana dia, bahkan dia sudah kesini waktu itu, jadi informasimu sudah kadaluwarsa, lagian aku sudah tidak ingin tahu tentangnya."
"Mengapa bisa, siapa yang sudah membantumu, bukannya kam-"
"Aku apa! Bodoh begitu" sungut Ziko, Ziko tahu betul apa yang akan Jay katakan, mengingat mulut Jay yang tanpa filter jika bicara.
"Bahkan kamu tahu kalau kamu bodoh!" Ujar Jay dengan tawa kerasnya, hingga Jay mendapat salam dikepalanya dari kotak tisu yang cukup sakit, "sialan! Sakit Zik."
"Aku" tunjuk Jay pada dirinya sendiri.
"Menurutmu setan mana yang ada disini selain dirimu."
"Astaga,,, andai saja dia bukan bosku, sudah kubuang dia ketelaga," gumam Jay dalam hati, dia menatap Ziko dan segara berlalu dari sana, sebelum itu dia tersenyum penuh misteri, dia teringat perkataan Devan, dimana Ziko mulai mencintai Cindy, hanya saja Ziko gengsi untuk mengungkapnya, mengingat dia sudah menolak mentah mentah perjodohan ini waktu itu.
Tok,,, tok,,, tok,,,
"Masuk!" Teriak Cindy, Cindy menunggu orang yang mengetuk pintu, tidak lama terlihat Jay masuk keruangan Cindy, "kak Jay," Cindy seger berdiri ketika melihat orang yang sangat iya kenal, yang tidak lain adalah kepercayaan ayah mertuanya.
"Apa kabar?"
"Baik kak, kakak apa kabar, apa ada yang penting sehingga kakak datang kemari?" Tanya Cindy, karena tidak biasanya Jay datang jika tidak ada yang penting, meskipun datang dia akan ke ruangan suaminya, dan tidak akan ketempatnya, pikir Cindy.
"Tidak ada yang penting, hanya sekedar mampir, sekalian melihat keadaanmu, karena om Anderson yang menyuruhku melihatmu, mengingat Ziko yang tidak bisa di andalkan."
"Tidak! Siapa bilang, kak Ziko baik," Bela Cindy tanpa sadar, entah kenapa Cindy merasa tidak suka jika ada yang menghina suaminya, meskipun itu teman suaminya sendiri.
"Hohoho, sepertinya ada yang tidak terima," ejek Jay, sedangkan Cindy langsung cemberut mendengar ejekan Jay, sahabat suaminya, "ni ada titipan dari om Anderson" Jay mengeluarkan dua tiket untuk bulan madu, sebenarnya om Anderson meminta Jay untuk memberikan pada Ziko, namun Jay sengaja memberikannya pada Cindy, entah apa yang di rencanakan Jay, yang jelas hanya Jay yang tahu.
"Tiket bulan madu, untuk apa kak?" Sungguh pertanyaan konyol bukan, seharusnya tanpa ditanya Cindy sudah tau, itu jelas menandakan jika hubungan keduanya belum sejauh itu, pikir Jay.
"Untuk mengantar tetanggamu bulan madu, aneh-aneh saja pertanyaanmu itu."
"Tunggu dulu kak!" Cindy mencegar Jay yang hendak berlalu dari sana, "apa kak Ziko tahu tentang ini?" Jay hanya mengedihkan bahunya.
"Itu tugasmu untuk memberi tahunya, sudah sana keruangannya dan beri tahu soal itu" tunjuk Jay pada tiket yang masih ditangan Cindy, Jaypun berlalu dari sana.
Sedangkan Cindy kembali ketempat duduknya, dia membolak balikkan tiket bulan madu yang ada ditangannya itu, dia merasa takut untuk memberitahu Ziko, apa lagi mengingat hubungannya yang tidak sebaik itu selama ini, "sudahlah, sepertinya aku tidak perlu memberi tahunya, lagian dia tidak akan tertarik dengan hal beginian," akhirnya Cindy memasukkan tiket bulan madu itu kelaci kerjanya, karena jam sudah mendekati makan siang, akhirnya Cindy keluar untuk membelikan sendiri makan siang untuk suaminya.
Malampun tiba, Cindy tadi pulang terlebih dahulu, karena Ziko ada keperluan lain, kini Cindy sedang duduk diruang tengah menunggu sang suami, hingga jam menunjukkan pukul setengah 9malam, Ziko masih saja tidak kunjung pulang, hingga Cindypun tertidur di ruang tamu, dengan TV yang masih menyala.
Jam terus bergulir, dan terlihat disana Ziko baru saja memarkiran mobilnya, dia sedikit mabuk, tapi Ziko masih memiliki kesadaran yang cukup baik, Ziko terus berjalan masuk, hingga dia melihat istrinya yang masih disofa ruang tengah, "apa dia menungguku, atau tertidur karena menonton TV," gumam Ziko sambil mengangkat tubuh Cindy untuk iya bawa kekamarnya, "kamu sangat menggemaskan," batin Ziko, Ziko membersihkan tubuhnya dan ikut berbaring, dia terus memandangi wajah imut istrinya, hingga perlahan lahan Ziko mendekatkan wajahnya dengan wajah Cindy, Ziko tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mendekati Cindy, hingga bibir Ziko berlabuh di bibir Cindy, Ziko diam beberapa saat, hingga dia mulai ******* bibir mungin sang istri.