
Dokter itu berjalan keluar dari ruangan kedua orang tua Cindy, Kini dia sudah berdiri dihadapan Cindy, sambil melepas kaca matanya, dokter itupun melihat Cindy dan Genta secara bergantian, sebelum berkata dokter itupun menarik nafasnya panjang, "maaf," lirik dokter itu dengan suara yang sangat pelan, "kami sudah berusaha semampu kami, hanya saja allah berkehendak lain, dia lebih sayang pada pasien."
Dokter itupun menunduk setelah mengatakan apa yang ingin dia, itulah tugas seorang dokter, selain mengobati beliau juga harus menyampaikan apa yang terjadi pada pasien, meskipun itu menyakitkan pagi yang mendengarnya.
"katakan yang jelas dok!" teriak Genta tanpa sadar, bukannya tidak mengerti maksud dokter, hanya saja Genta berharap yang iya dengar salah, mana mungkin orang yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih dan sudah ia anggap seperti orang yang terpenting dalam hidupnya pergi begitu cepat, tidak-tidak Genta rasanya belum siap untuk ini.
Sedangkan Cindy tidak berkata apapun, dia hanya terduduk dengan tangis tanpa suara, badannya bergetar Hebat, dia bahkan tidak sanggup hanya sekedar bertanya pada dokter perihal orang tuanya.
Genta yang melihat itu ikut hancur, dia berjalan menghampiri adiknya, Genta duduk dihadapan Cindy dengan kedua lutunya, karena posisi Cindy yang duduk dikursi tunggu, Genta mencekal tangan Cindy yang menutupi wajahnya.
Cindy membuka kedua matanya dan melihat sang kakak dihadapannya, "kak,,," lirih Cindy, bahkan air matanya tidak bisa ia bendung.
Genta menggeleng, "tenang sayang, ada kakak disini."
Cindy langsung memeluk sang kakak dengan sangat erat, "apa ini kak,,," isak Cindy begitu memilukan, siapapun yang mendengarnya, hingga Gentapun memejamkan matanya, dia mengepal erat tangannya, dia marah pada dirinya Sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk sang adik.
"aku bahkan belum bisa membanggakan mereka kak, aku belum menjadi anak yang baik untuk mereka, andai semua bisa kuulang kak, aku tidak akan kemanapun dan akan selalu menemani mereka," racau Cindy dalam pelukan sang kakak.
Air mata Cindy kembali deras meskipun dia tidak mengeluarkan suaranya, kini dia berdiri ditengah-tengah antara mamah dan papahnya.
"apa yang akan aku terima setelah ini pah, mah, apa aku harus benar-benar berdiri di atas kakiku sendiri, apa kalian tahu, kalian akan menjadi nenek dan kakeh, bukankah papah pernah bilang, kalau aku punya anak maka papah orang pertama yang akan menggendongnya, dan mamah bilang kalau mamah orang pertama yang akan menggantikan baju pada cucu mamah, tapi kenapa kalian ingkar janji," batin Cindy, Cindy tengah memegang tangan keduanya, tangan yang terasa sangat dingin itu.
Cindy tertunduk, dia tidak tahu harus berbuat apa, yang bisa dia lakukan hanya menangis dalam diam, Cindy mendongak menatap bergantian kedua orang tuanya, air matanya sama sekali tidak ingin berhenti, Cindy segera mengusap air matanya dengan kasar, dia berdiri dan mendekati sang mamah yang sudah ditutup kain putih, Cindy membuka kain itu, dia melihat sang mamah dengan deraian air mata yang tidak ingin berhenti dari kedua pelupuk matanya.
"mah Cindy minta maaf jika selama ini Cindy selalu membuat mamah kecewa dan marah sama Cindy, Cindy berjanji mah, Cindy akan menjadi wanita hebat seperti mamah, Cindy akan membesarkan cucu mamah dengan sangat baik, dan Cindy ingin memberi tahu mamah, kalau Cindy sekarang sudah bisa memasak mah, apa mamah tidak ingin mencoba masakan Cindy mah?" Cindy terus bercerita dengan suara sesegukan, dia hanya ingin bercerita pada sang mamah untuk trakhir kalinya.
Cindy mencium seluruh wajah mamahnya, setelah dia mengusap air matanya, dadanya merasa sesak, tubuhnya serasa tidak kuat.
Cindy menoleh kearah kiri, diapun berbalik dan berjalan ke brankar sang Papah, setelah menutup wajah sang mamah dengan kain putih itu.
"ah papahku yang hebat," Canda Cindy dengan jasad papahnya, dia tersenyum dengan air mata yang mengalir deras, menandakan kepedihan yang teramat sangat. "apa papah tidak ingin jauh dari mamah, hingga papah memilih meninggalkan Cindy sendiri, ah tapi tidak masalah pah, Cindy akan baik-baik saja disini, Cindy berjanji akan menjadi wanita hebat, sehebat papah dan mamah, dan Cindy ingin memberi tahu papah, kalau Cindy sudah bisa bekerja di sebuah prusahaan, ya,,, meskipun prusahaan itu prusahaan suami Cindy, tapi setidaknya Cindy sudah bisa bekerja pah," curhat Cindy dengan suara yang begitu memilukan, antara cerita dan sesak secara bersamaan, Cindy memukuli dadanya sendiri, karena tidak kuat berusaha tegar dihadapan jasad sang papah.
Genta yang melihat itupun ikut menangis dalam diam, sungguh dia bisa melihat kehancuran dalam diri adiknya, Cindy terlalu muda untuk hidup sebatang kara pikir Genta.