
Ziko langsung menurunkan Cindy di sebuah kamar sederhana yang baru saja dia sewa, karena hanya penginapan itu yang ada disekitar pantai, "diam disini jangan mencoba kabur, atau kakak berbuat yang tidak-tidak nanti," ancam Ziko, Ziko segera pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri, seperti Dulu, Cindy tidak akan pernah membantah jika di ancam Ziko.
"Dia selalu pemaksa, tidak pernah berubah," kesal Cindy, Cindy berjalan menuju pintu, namun sialnya pintu itu dikunci, dan kuncinya dibawa Ziko.
"Huff apa yang harus aku lakukan didalam sini, bagaimana jika anak-anakku menangis" gumam Cindy, Cindy mondar mandir didepan pintu kamar mandi, dia menunggu Ziko dengan tidak sabar, umpatan demi umpatan Cindy layangkan pada Ziko yang begitu lama didalam sana.
Sedangkan dikamar mandi Ziko tengah menghubungi seseorang untuk menjaga anak kembar itu, selagi dia bicara dengan Cindy, Ziko juga tidak mungkin diam saja membawa Mommy orang.
"Jangan sampai lengah, awas kalau lengah!" Ancam Ziko, tanpa menunggu jawaban Devan, Ziko langsung menutup telfon itu dan segera keluar dari kamar mandi.
Sudah Ziko duga, jika Cindy akan berada dikamar mandi, karena wanitanya ini orang tidak sabaran.
Terlihat disana Cindy sedang berkacak pinggang, hilang sudah wanita anggun selama ini yang sudah dia terapkan, jika sudah berada dihadapan sang suami, "Cepat buka pintunya!" Marah Cindy, karena Cindy merasa Ziko sengaja menahan dirinya terlalu lama disana, pikirannya kini terus berpusat pada Kedua buah hatinya.
"Jawab dulu, siapa pria itu," bukannya membuka pintu, Ziko justru menanyakan hal lain, ya Ziko membawa Cindy hanya karena ingin tahu siapa pria yang bersama Cindy, karena dia belum mendapat jawaban dari pertanyaan tadi ketika di pantai.
"Apa pentingnya, toh kita tidak ada hubungan apapun, dimana aku harus menjawab pertanyaanmu itu, karena ini tidak menyangkut pribadimu" Cindy berjalan kearah pintu dia memberi isyarat pada Ziko untuk membuka pintu itu.
Ziko berjalan menuju pintu, pandangannya terus berpusat pada Cindy yang terlihat kesal, "jawab dulu, baru aku buka pintu ini, dan kamu tahu betul sayangz jika kamu masih istri sahku," bisik Ziko perisi di daun telinga Cindy, Ziko menghirup aroma rambut Cindy yang sama sekali tidak berubah dari dulu, aroma kesukaan yang selalu menjadi candunya.
Namun Cindy tetap bungkam, dia enggan menjawab, karena menurut Cindy itu tidak perlu, Cindy berjalan mundur, hingga tubuhnya mentok dipintu kayu itu.
"Baiklah, sepertinya kakak harus melakukan sesuatu, bagaiman Jik-"
"Ok ok, aku akan jawab, dia kak Genta, kakakku."
"Kakak?"
"kakak se-sepupuku." jawab Cindy gugup, karena merasakan hidung Ziko menerpa pipinya, hingga dia menahan nafas untuk menjawab pertanyaan sang suami.
"Lalu anak itu?"
"Di-dia anakku"
"katakan sayang, kakak yakin kamu tahu apa yang kakak maksud."
"dia an-ana-"
"Aku sudah tahu jawabannya, berarti mereka anak-anakku," tebak Ziko, Ziko yakin, karena Cindy masih sendiri, jadi sudah bisa dipastikan kalau mereka anak kandungnya.
"Katakan sayang," ulang Ziko lagi, meskipun Ziko sudah yakin, namun Ziko juga tetap ingin mendengar jawaban dari Cindy.
Tanpa menjawab, Ziko langsung membawa Cindy kedalam pelukannya, matanya berkaca-kaca, bukan karena lemah, hanya saja dia membayangkan yang dialami istrinya pasti sangat berat selama ini, apa lagi dengan anak kembar, namun Ziko juga bahagia, itu artinya Cindy masih istrinya, di tambah dengan kedua anak yang begitu lucu.
"Apa yang bisa aku katakan sayang, sepertinya maaf saja tidak akan cukup menyembuhkan lukamu selama ini" ujar Ziko sambil memeluk Cindy sangat erat, bahkan Cindy menangis dalam pelukan sang suami, dia sendiri merasa lega telah mengatakan kebenarannya pada Ziko, dia tidak tahu setelah ini apa yang akan terjadi pada hubungan keduanya, karena masih ada wanita lain dalam hidup suaminya.
Ziko menangkup wajah Cindy yang penuh air mata, dia mengecup kening Cindy, "terima kasih sayang, terima kasih," Ziko mengusap air mata yang masih tersisa di kedua mata Cindy, dia mencium kedua mata itu.
Sedangkan Cindy hanya mengangguk, benar saja, semuanya runtuh, niat yang sejak awal dia teguhkan untuk melupakan Ziko, nyatanya semua sia-sia, dia lemah jika sudah berhadapan dengan Ziko, pria yang begitu amat dia cintai.
"mari kita kembali kepantai kak, aku yakin kekasihmu sudah mencari keberadaan kakak sekarang, aku tidak ingin jadi orang ketiga dalam hubungan seseorang" perkataan Cindy menyiratkan kekecewaan yang dalam pada suaminya ini.
"dia hanya teman kakak sayang, waktu itu kakak meminta bantuan padanya agar bisa membalas sakit hati kakak, namun karena rencana kakak, justru kamu pergi dari sisi kakak, dia sudah memiliki tuanangan, kami berteman baik, Rena, Jay, dan Devan, jadi kakak harap penjelasan ini cukup sampai disini, dan sekali lagi maafkan kakak" ziko tetaplah Ziko, yang selalu pada intinya.
"tap-"
"tidak sayang, jangan katakan apapun, kakak hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, tanpa perdebatan, 3tahun sayang, 3tahun kakak menunggu saat ini."
Ziko mendekatkan wajahnya pada Cindy, semakin dekat hingga wajah keduanya tidak berjarak, Cindy memejamkan kedua matanya.
Drezttt
Namun tiba-tiba ponsel Ziko berdering.
"Sial, aku bersumpah akan menghajar orang yang sudah menggangguku," umpat Ziko dalam hatinya.
Cindy segera memalingkan wajahnya, dia gugup luar biasa, entah kenapa jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya.
"Devan! Sialan!"geram Ziko, Setelah tahu si penelfon, Ziko segera menjauh dan mengangkatnya, "ada apa!"
"Hohoho, apa aku sudah mengganggu kesenanganmu brader?" Kelakar Devan sambil tertawa lepas, dari suaranya Devan sudah yakin kalau Ziko tengah kesal.
"Cepat katakan! Atau aku bunuh kamu!"
"Ok ok, anak kembar itu nangis, sepertinya pria itu kewalahan menangani, segeralah bawa kemari ibunya, nanti saja enak-enaknya setelah malam hari"
"Kau ku- sialan, dia menutup telfonnya," Ziko memasukkan kembali ponselnya kedalam saku, dan berjalan menghampiri Cindy, "ayo kita kembali kepantai, anak-anak kita mencari mommynya."
Ziko membawa tangan Cindy kedalam genggamannya, dan berjalan menuju pintu, sedangkan Cindy sama sekali tidak membantah, dia menurut saja kemana Ziko membawanya, karena jantungnya belum baik-baik saja, hingga dia tidak bisa berkata-kata, bahkan Cindy masih merasa gugup luar biasa saat ini."