Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-71



Cindy menahan nafasnya, karena bulu-bulu halus Ziko mengenai kulit dadanya yang putih, hingga Cindy merasa sangat geli, Cindy mengutuki dirinya yang tidak bisa merubah kebiasaan buruknya, yakni tidur tanpa busana, dan hanya menggunakan bra beserta temannya.


"Kak,,," lirih Cindy, bukannya terbakar gairah, Cindy hanya merasa posisinya kali ini membuatnya malu, apa lagi keduanya sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri.


"Kenapa sayang, apa kamu menginginkan sesuatu?" Goda Ziko, Ziko sengaja melakukan ini, agar Cindy tidak bergerak, Ziko bahkan mendengar dengan jelas detak jantung sang istri.


"Lepaskan kak, aku geli," Cindy berusaha melepas belitan tangan sang suami yang begitu erat memeluk pinggangnya.


"geli apa gerah?" Ziko memperlihatkan senyum jahilnya, ini yang selalu Ziko kenang ketika istrinya pergi, kebersamaan recehnya bersama Cindy.


"geli kak."


"Ada apa? Bukannya dulu kita sering seperti ini sayang, bahkan aku sangat tahu seperti apa bentuk yang ada dihadapanku ini" dan perkataan Ziko itu sukses membuat Cindy mendelik, sungguh Cindy ingin sekali menyumpal mulut Ziko yang tidak memiliki malu berkata hal yang vulgar.


"Kalau begitu biarkan aku pakai baju dulu kak, ini sungguh dingin," alasan Cindy, agar Ziko segera melepas belitan tangannya, namun Ziko pria yang pekak dengan hal tertentu.


"Kalau begitu, biar kupeluk, supaya hangat, tapi sepertinya akan lebih hangat jika kita bisa melakukan olah raga pagi," Ziko menyanggah tubuhnya dengan siku, supaya bisa memandang wajah sang istri yang sangat iya rindukan selama ini, apa lagi wajah Cindy yang memerah, menjadi nilai tersendiri buat Ziko.


"Jangan macam-macam kak," peringat Cindy dengan tatapan tajamnya pada Ziko, namun bukannya terlihat galak, justru itu terlihat menggemaskan dimata Ziko.


Namun aktifitas itu terganggu, ketika Cindy dan Ziko mendengar suara anak yang tengah menangis begitu kencang, "sial! Sepertinya musuhku tidak cukup hanya dengan Devan saja, kenapa kedua anakku jadi ikut-ikuttan" gruru Ziko, meskipun Ziko sedikit kesal, namun tetap saja Ziko beranjak dan segera mengambilkan baju untuk istrinya.


"Sepertinya anak kita sedang ingin bermain dengan Dadynya, ayo sayang segera mandi, aku akan menemui kedua anak kita lebih dulu," ujar Ziko sambil memperbaiki kaosnya yang acak-acakkan, Zikopun segera berlalu kekamar si kembar.


Sedangkan Cindy mangangguk dengan senyum manisnya, diapun segera kekamar mandi dan akan segera menyusul sang suami.


"Ada apa ini sus?" Tanya Ziko ketika sudah masuk kedalam kamar sikembar, terlihat kedua balita itu tengah menangis meskipun sudah sedikit tenang.


"Tidak apa-apa tuan, ini hal wajar yang terjadi pada sikembar kalau bangun tidur, mereka akan menangis sebentar, setelah itu akan diam jika diberikan mainan."


"Ow," Ziko merasa bodoh kali ini, karena dia tidak tahu apapun tentang anaknya, ya hal wajar sih sebenarnya, karena Ziko baru bertemu, hanya saja Ziko merasa buruk, apa lagi ini menyangkut buah hatinya.


"Berika padaku sus, biar aku yang mengajak mereka bermain," Ziko membawa kedua anaknya untuk dia gendong, mulai hari ini, Ziko akan memberikan waktunya pada sikembar, agar anaknya mengenal dirinya, begitupun sebaliknya, Ziko tidak ingin kisahnya menurun pada kedua anaknya.


Ya, ayah Ziko dimasalalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga dia hanya dekat dengan mamah Nisa dan jauh dengan Dadynya sendiri.


"Ayo kid, kita menemui Mommy," Ziko membawa kedua anaknya menuju kamar Cindy, namun sebelum itu, Ziko menyuruh kedua babysitternya untuk menyiapkan keperluan sikembar, karena hari ini Ziko akan membawa mereka kekantor cabangnya bersama Cindy.