
waktu bergulir sangat cepat, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulanpun berganti tahun, tidak terasa sudah 3tahun berlalu, selama tiga tahun lamanya, Ziko hidup dalam rasa bersalah yang amat sangat terhadap istrinya, hingga saat ini Zikopun tidak menemukan sang istri, seluruh anak buahnya sudah Ziko kerahkan, bahkan dia menyewa detektif handal, namun sayangnya hingga saat ini tidak membuahkan hasil, sang istri seperti tertelan bumi, karena kejadian itu pula Ziko jadi Aroggant dan dingin.
"bagaimana?" tanya Ziko pada Jay yang kini berada dihadapannya, setiap pulang dari kantor Ziko akan kemarkas dan ikut melacak keberadaan Cindy, namun Ziko juga tidak bisa menemukan sang istri.
"seperti biasa, mereka berdua lebih menginginkan kematian, anak buah kita sudah menyiksanya seperti biasa," ya sejak kejadian tiga tahun yang lalu, Jay menyekap Jesica Dan Erik di markas bawah tanah mereka dan menyiksanya, karena akibat mereka berdua, istri sang bos pergi dari Ziko, tanpa Ziko sadari, semua itu salahnya sendiri yang lebih percaya yang ia libat dari pada istrinya.
"Aku tidak peduli tentang mereka, yang aku tanyakan tentang istriku, mereka matipun bukan urusanku!" Ziko hanya ingin tahu kabar terbaru Cindy, bukan yang lainnya, karena dia sangat merindukan istri mungilnya itu.
Sejak kejadian itu Ziko tidak lagi pulang ke-apartementnya, dia akan pulang kerumah yang dia tempati bersama Cindy, Ziko berharap Cindy pulang kerumah mereka, itu sebabnya Ziko menetap dirumah sederhana yang dia tinggali dengan sang istri.
Sedangkan Jay menggeleng tanda belum ada petunjuk seperti biasa, "sepertinya ada orang yang berada dibelakang istrimu," ujar Jay sambil menunduk, dia merasa tidak becus seperti yang sudah-sudah, dimana dia tidak bisa memenuhi keinginan sang bos, tapi Jay juga yakin, jika istri bosnya itu tidak pergi begitu saja, pasti ada yang menyembunyikan keberadaan Cindy, sepeti halnya Jesica dulu yang disembunyikan selingkuhannya sendiri, yang tidak lain Erik musuh besar Ziko.
"cari cara apapun, hingga kamu menemukan istriku" Ziko beranjak untuk pulang, karena keperluannya sudah selesai dengan Jay, tangan kanannya.
"sudah kuduga, pasti kamu disini," belum juga Ziko keluar, Devan sudah terlihat memasuki ruangan, dimana tempat bosnya yang baru, ketika pulang kerja, yaitu markas, Devan melihat Jay dan Ziko yang berbincang sambil berdiri.
"ada apa mencariku hingga kesini, bukannya kamu sudah punya hobi mengantar Dea," ujar Ziko sambil memicingkan alisnya, Ziko yakin Devan ada hal penting dengannya, seperti yang sudah-sudah.
"pintar,,, kau memang yang terbaik."
"ada apa denganmu?" ujar Devan pada Jay, "ah sudahlah, aku butuh pada Ziko."
"katakan."
"tuan besar menyuruhmu untuk mengurus prusahaan yang ada di kota S, karena disana terjadi masalah yang cukup akan membuat prusahaan kolep."
"tidak! Kau saja yang pergi" tolak Ziko tanpa pikir panjang, Ziko takut Cindy kembali saat dirinya tidak dirumah, apa lagi Ziko yakin pasti dikota S akan memakan waktu yang lama.
"bagaimana kalau tuan besar memarahimu, karena sudah lalai dalam pekerjaan."
"kamu saja yang pergi dengan bosmu itu."
"baiklah, biar ku beri tahu kalau begitu," ancam Devan.
"silahkan saja." tantang Ziko, sedangkan Jay yang melihat itu hanya menggeleng, ini yang tidak Jay suka dari keduanya, pasti ada saja cekcok yang terjadi, jika keduanya berada didekat dirinya, meskipun nanti keduanya akan kembali akur.