
drezttt
Ziko melirik kearah ponselnya yang berada dimeja ruang tamu apartementnya, awalnya dia enggan untuk mengangkat Telfon karena tahu sang papah yang menelfon dirinya, namun setelah ketiga kalinya berdering, mau tidak mau Ziko mengangkatnya, karena terlalu berisik.
"kenapa?" tanya Ziko dengan nada malasnya, meskipun sikap Ziko mulai berubah sejak menikah dengan Cindy, namun tidak semerta-merta dia menjadi hangat dengan sang papah seperti dulu, entah kenapa hat Ziko begitu keras, hingga tidak mau baik dengan papahnya.
"dimana kamu!" terdengar nada marah dari sang papah, bagaimana tidak marah setelah mendengar penjelasan anak buahnya.
Ziko yakin, papahnya sudah mendengar perihal dirinya semalam yang dengan sengaja membawa wanita lain dipesta prusahaan.
"katakan saja ada perlu apa!" ujar Ziko, karena Ziko sedang tidak ingin berbasa-basi.
"apa kamu tidak ingin ikut melayat pad-"
"tidak! Aku tidak ingin ikut, papah sama mamah saja yang pergi," tanpa menunggu papahnya selesai berbicara Ziko langsung menutup ponselnya begitu saja, andai Ziko mau mendengarkan penjelasan orang tuanya, mungkin dia tidak akan berkata sesadis itu.
"bagaimana pah?" tanya mamah Nisa yang berdiri di samping suaminya, mamah Nisa berharap Ziko akan ikut mereka ke kota B, namun harapannya pupus setelah melihat tuan Anderson menggeleng.
"kenapa Ziko setega itu pah sama Cindy, apa dia segitu tidak cintanya sama Cindy,,," lirih mamah Nisa, dia merasa gagal mendidik putra sambungnya agar tetap bisa menghormati seorang wanita.
"biarkan saja anak itu mah, lebih baik kita susul menantu kita ke sana, kasian dia, pasti dia butuh kita saat ini," tuan Andersonpun berjalan kearah pintu dan meminta supir untuk bersiap, karena mereka akan pergi sekarang juga, takut sampai sana malam.
Ia, tanpa sepengetahuan Cindy, Genta memberi tahu pada kedua orang tua Ziko, karena Genta juga ingin memastikan masa depan sang adik, jika memang semua tidak baik, maka biarlah berakhir dengan baik-baik pula, pikir Genta.
"permisi pak," terlihat Elvin berdiri didepan ruangan Devan, karena dia sudah keruangan CEO namun Ziko tidak ditempat, akhirnya dia menuju ruangan sang asiaten CEO.
Dari dalam terdengar suara Devan untuk mempersilahkan masuk, "ada apa?" tanya Devan setelah Elvin berdiri di hadapannya yang hanya berbatas Meja kerja Devan.
"apa saya bisa menitipkan ini pak," Elvin menyodorkan amplop coklat titipan Cindy semalam, Elvin memberikan pada Devan karena Ziko tidak berangkat.
"apa ini?" Devan tidak membukanya karena amplop itu seperti pribadi, itu sebabnya Devan bertanya.
"ini dari bu Cindy pak, saya di suruh memberikan pada tuan Ziko, namun tuan Ziko tidak di tempat pak, itu sebabnya saya kemari" terang Elvin.
"nanti saya sampaikan pada Ziko, anda bisa keluar," Ziko mengibaskan tangannya tanda menyuruh Elvin keluar.
"apa ini, kalau aku buka takut lancang, tapi aku penasaran," Devan mebolak balikkan amplop itu, akhirnya dia memilih menyimpannya dan akan memberikan jika Ziko berangkat, sudah berkali-kali Devan menghubungi Ziko namun tetap saja tidak di angkat oleh bos laknat itu.
4jam berlalu, kini kedua orang tua Ziko sudah sampai dikediaman Mahendra sang sahabat, dan tempat menantunya tinggal.
"papah,,," lirih Cindy, Cindy yang melihat papah dan mamah mertuanya berdiri didepan rumahnya segera turun dan berjalan cepat menghampiri kedua mertuanya itu, andai Cindy tidak melihat langsung dari balkon Cindy tidak akan tahu.
"Nona, baru saja bibik akan memberi tahu Nona," ARt rumah Cindypun berlalu untuk membuatkan minum setelah Nonanya sudah ada disana.
"kenapa kamu tidak memberi tahu kami nak, apa kami tidak penting bagimu hem?" tanya mamah Nisa dengan raut wajah yang kecewa, bagaimana tidak, besannya meningga dan dia baru di beri tahu setelah besannya sudah dimakam kan, bahkan dia tahu dari Genta bukan dari Cindy.
"maafkan Cindy mah," Cindy tidak memberi alasan atau pembelaan, karena dia sadar jika dirinya salah, hanya karena tidak ingin Ziko tahu, biarlah Cindy dibilang egois.
"sudah mah, tidak perlu marah," tuan Anderson tidak ingin menantunya tertekan, apa lagi dalam keadaan berkabung seperti ini, pasti saat ini menantunya sangat terpuruk.
"mari masuk pah, mah." Cindy memandu kedua mertuanya untuk masuk, apa lagi ini sudah sore.
"duduklah nak, temani kami disini," Cindy memandang sang ayah mertua yang melempar senyum teduh padanya, dia berjalan menghampiri sang papah mertua, dia duduk ditengah-tengah keduanya.
"pah a-aku"
"tidak perlu di ceritakan nak, papah sudah tau semuanya, papah sendiri yang akan memberi pelajaran padanya setelah papah menemukan buktinya.
"pah,,," lirih Cindy, setidaknya ada orang yang tidak menyalahkan dirinya dalam hal ini, dan itu papah mertuanya sendiri.
"tidak apa nak, semua akan baik-baik saja, kamu masih punya kami yang akan selalu mendukungmu, jadi tidak perlu sungkan, karena sejak saat kamu menikah dengan Ziko kamu adalah putri kami, apapun yang akan terjadi dimasa depan."
Tuan Anderson mengelus kepala menantunya dengan sayang, sedangkan mamah Nisa yang melihat itu tersenyum, namun matanya berkaca-kaca.
"apa kamu tidak ingin memeluk mamah sayang," mamah Nisa merentangkan tangannya agar Cindy masuk kedalam pelukannya, dan benar saja, Cindy langsung berhambur kedalam pelukan Mamah Nisa.
Sedangkan tidak jauh dari mereka ada Genta yang melihat segalanya, setidaknya dia bersyukur karena masih ada yang begitu menyayangi adiknya, Gentapun turun dan ikut menemui mereka.