
"Wah hotelnya bagus sekali,,, sungguh ini sangat indah" ujar Cindy dengan suara yang cukup keras, dimana itu bisa didengar jelas oleh Ziko.
"Jangan norak!" Ziko heran saja, mana mungkin Cindy tidak pernah berlibur, karena setahu Ziko Cindy bukan orang tidak mampu, Ziko tidak tahu saja, jika istrinya itu tidak suka berlibur jika tidak karena dipaksa mamahnya, Ziko berjalan kearah balkon dan memandang kota istanbul dari atas sana.
"Ada apa kak?" Terlihat Cindy menyusul suaminya dan ikut menikmati pemandangan itu.
"Tidak, kalau keluar pakai mantalmu, udaranya sangat dingin,"Ziko melepas mantalnya dan memasangkan pada sang istri dengan menghadap kebelakang, dan Zikopun memeluk istrinya dari belakang, hingga akhirnya mereka masuk dalam satu mantal.
"Kak sepertinya ada yang mengetuk pintu," perlahan Cindy melepas belitan tangan sang suami dari pinggangnya, dan tanpa menunggu jawaban suaminya, Cindy berjalan menuju pintu untuk membukanya, dan disana terlihat pria tampan dengan tuxsido hitam yang melekat sempurna ditubuhnya, Cindy yang melihat itu berdecak kagum, sunggu pria didepannya ini sungguh tampan, bahkan tanpa sadar Cindy memberikan senyum terbaiknya, sepertinya Cindy lupa jika dirinya tidak sendiri dikamar itu, melainkan dengan sipemilik tahta.
"Ehem, apa yang kamu lihat!" Terlihat disana Ziko bersedekap tangan didadanya, dengan tatapan horor. Menatap sang istri, dan menatap tajam pria didepannya yang juga tersenyum pada sang istri.
Cindy yang menyadari itu langsung menetralkan senyumnya, dia menerima makanan yang dikirim oleh karyawan hotel itu, bahkan dia terlihat kesusahan akibat mantal yang iya kenakan sangat tebal, tidak lama ball boy itupun berlalu dari sana, setelah Ziko mengibaskan tangannya.
"Jangan mengagumi pria lain selain suami!" Ziko langsung melengos Setelah mengatakan itu, Ziko kembali kebalkon untuk menetralkan rasa kesalnya, bagaimana tidak kesal, istrinya berani sekali tersenyum lepas pada pria lain, didepannya pula, sedangkan dengannya dia akan selalu berdebat, pikir Ziko.
"Kenapa tidak bilang jika cemburu, gengsinya masyaallah," gruru Cindy sambil melepas mantel dan berjalan menghampiri suaminya, "sayang kamu marah, hem?" Cindy bertanya, namun Ziko tetap dengan mode ngambeknya, yang mana itu justru membuat Cindy ingin tertawa lepas, tapi Cindy berusaha menahannya, "Baiklah,,, jika kamu marah aku akan keluar saja, dari pada tidak punya teman," Cindy berjalan perlahan menunggu suaminya menghentikan dirinya, dan benar saja, tidak lama ada sebuah tangan mencekal tangannya, Cindy ber yes ria dalam hatinya, karena perkiraannya benar, "biarkan aku keluar, kenapa kakak mencegahku," Cindy kini pura-pura ngambek.
"Siapa yang melarangmu pergi, hanya ingin mengingatkan, jangan lupa bawa mantel, karena diluar sangat dingin," Ziko memakaikan mantal ke tubuh sang istri, dan dia kembali kebalkon lagi, sedangkan Cindy melongo.
"Apa dia tidak ada niatan melarangku" Cindy berjalan keluar kamar dengan menghentak hentakkan kakinya, dan melangkah beberapa meter saja, tidak lama dia berhenti dan merutuki kebodohannya, "astaga,,, aku saja tidak tahu kota ini, ah kalau kembali aku malu, tapi kalau tidak aku akan kemana, aku takut tidak bisa kembali lagi nanti," setelah lama berfikir akhirnya Cindy kembali kekamarnya, dia membuka pintu perlahan dan mengendap-endap untuk masuk, "kemana dia, kenapa pergi tidak mengajakku," gumam Cindy dengan sedikit kesa, yang masih didengar oleh seseorang yang ada dibelakangnya.
"Mencari siapa," bisik Ziko dibelakang telinga Cindy, hingga Cindy terjingkak karena terkejut, hampir saja Cindy terjatuh jika saja Ziko tidak memegang pinggangnya.
"Kak! Kenapa mengejutkanku," Cindy segera menetralkan detak jantungnya yang seperti gendrang ingin berperang, dia berharap Ziko tidak mendengarnya.
"Siapa yang kamu cari," tanya Ziko lagi.
"Tentu saja suamiku," Cindy langsung menutup mulutnya dan memalignkan wajahnya, itulah Cindy, jika dia kesal maka dia akan bicara yang iya pikirkan.
"Lebih tampan aku atau orang tadi." tanpa meladeni istrinya Ziko masih dalam mode tidak trimanya dan masih membahas ball boy tadi.
"Kau!" kesal Ziko.
"La terus aku harus jawab apa kak, apa kakak ingin mendengar aku mengatakan lebih tampan kakak, itu sebabnya kakak bertanya?" Ziko sama sekali tidak menjawab, "ingat kak, diatas langit masih ada langit, tapi hati akan selalu memilih kakak, karena kakak ada di hati, sedangkan ketampanan hanya sekedar mengagumi," jelas Cindy panjang lebar, dimana itu langsung membuat kekesalan seseorang menguar begitu saja.
Tanpa rasa ragu Ziko langsung memeluk Cindy dengan posesif, "I Love You," bisik Ziko ditelinga Cindy, hingga membuat Cindy berkaca-kaca, dia tidak menyangka, akhirnya hal yang iya tunggu terjadi juga, dimana suaminya akan mencintai dirinya, entah itu nyata atau tidak, yang jelas Cindy bahagia.
"Apa kakak tidak bercanda?"
"Tidak sayang, I really really love you, even really" ujar Ziko kembali memeluk istrinya sangat erat, merekapun hanyut dalam kemesraan mereka, hingga terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
Malam haripun tiba, kini Cindy tengah bergelung didalam selimut yang begitu tebal, akibat dinginnya kota itu, dia sungguh sangat kedinginan, bahkan dia malas beranjak dari kasur, "kak kenapa disini begitu dingin, bahkan rasanya dinginnya sampai ketulang."
"Berarti kita tidak perlu kemana-mana ya sayang," Ziko menaik turunkan alisnya pada sang istri yang kini memeluk erat tubuhnya, "dan kita akan mengulang dan mengulang lagi kegiatan panas kita tadi siang," bisik Ziko dengan suara yang begitu sensual.
"Lalu untuk apa kak kita jauh-jauh kesini" sungut Cindy pada suaminya, "kak,,, aku bosan dikamar," ujar Cindy dengan memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita keluar, pakai mantalmu dan juga syal."
"Siap kakak," girang Cindy, Cindy segera bangun mengganti bajunya dan memakai mantal yang begitu tebal, tidak lama Cindy sudah siap dengan topi yang menutupi seluruh wajanhnya, hannya terlihat bagian mata dan mulut saja.
"Sudah?" Tanya Ziko yang kini sudah berdiri didekat jendela kamar setelah membalas pesan dari asistennya yang membahas pekerjaan, ingat bagi CEO, dimanapun berada waktu adalah uang.
Cindy mengangguk dan mereka berduapun keluar dari kamarnya, berjalan beriringan di daerah hotel itu, mengingat waktu yang memang sudah lumayan malam, "kak makanan apa yang terkenal di turki?"
"Banyak sayang, salah satunya adalam biber dolma, makanan yang berdasarkan paprika, nanti kita akan mencobanya," Ziko membawa Cindy kedalam dekapannya karena melihat istrinya yang kedinginan hingga nafasnya seperti mengeluarkan asap.
"Ayo sekarang saja kak, karena aku sekarang lapar, kan tadi siang hanya makan sedikit, gara-gara kakak yang menerkamku."
"Tapi kamu menyukainya kan sayang," Cindy yang mendengar perkataan sang suami, pipinya langsung memerah, tidak akan Cindy pungkiri, mengingat cuaca turki yang begitu dingin, hingga menambah gairah tersendiri pada Cindy, dimana itu sangat disukai sang suami.