Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-37



Tesha berjalan keluar dengan deraian air mata, bagaimana tidak, harga dirinya sungguh terluka, "apa semua orang yang bekerja diclub citranya pasti buruk," gumam Tesha pada dirinya sendiri, dia sungguh membenci oranng-orang yang punya pemikiran sempit, meskipun realitanya seperti itu.


Brukkkk


"ah maaf saya tidak sengaja," Tesha mengambilkan berkas orang itu yang terjatuh dan hendak memberikannya, namun Tesha langsung diam mematung setelah tahu orangnya, setelah sadar Tesha segera memberikan berkasnya dan segera berlalu dari sana, bahkan Tesha memalingkan wajahnya ketika orang itu melihatnya dengan seksama.


"ada apa dengannya, kenapa menangis, dan kenapa bisa ada di ruangan pak Yudha, apa jangan-jangan,,, ah tidak-tidak, lebih baik aku tanyakan langsung pada pak Yudha," orang itu menoleh sesaat pada Tesha yang sudah berlalu, setelah lama terdiam dia langsung keruangan Yudha.


Tok ... Tok ... Tok ...


"masuk," Yudha menunggu siapa tamunya kali ini, "apa dia sudah berubah pikiran dan mau menerima tawaranku," gumam Yudha dengan senyum kepuasannya, namun senyum itu langsung sirna setelah melihat orang yang masuk, dia segera berdiri dengan hormat dan memasang wajah wibawanya.


"pak Devan, ada apa bapak kemari" sungguh Yudha merasa terkejut dengan kedatangan asisten CEO keruangannya, "pak Devan bisa memanggil saya tanpa harus repot kesini, mari silahkan duduk pak," Yudha mempersilahkan Devan duduk, namun Devan menolaknya dan dia mentapa Yudha dengan tatapan yang tidak bisa di Artikan, seperti kekecewaan.


"tidak perlu, aku hanya akan menanyakan satu hal padamu."


"iya pak."


"untuk apa OB tadi keruanganmu?" Devan menangkap dengan jelas kegugupan di wajah Yudha, setelah dia bertanya, bahkan dia melihat keringat sudah mulai terlihat di dahi direktur keuangan itu.


"dia hanya meminjam uang pak pada prusahaan, tapi saya menolak pak, karena dia butuh uang sebesar 500 juta, itu sebabnya saya menolaknya, karena prusahaan tidak mungkin memberikan pinjaman sebesar itu pada karyawan," jelas Yudha, Yudha berharap Devan tidak banyak bertanya lagi, karena Yudha tahu Devan sangat jeli dalam hal apapun, jAdi jika dia berbohong pasti ketahuan, pikir Yudha


"apa itu benar? Dan untuk apa dia meminjam uang sebanyak itu?" entah kenapa Devan kepo dengan Tesha, yang notabenya hanya seorang OB di prusahaannya, bahkan Devan selalu mencuri pandang pada Tesha jika sedang mengantar minum ke ruangannya.


"saya tidak tahu tuan, karena saya tidak bertanya lebih jauh, setelah tahu jumlah pinjamannya saya langsung menolak, karena itu diluar prosedur," bohong Yudha, mana mungkin Yudha cerita mendetail pada Devan, bisa habis dia ditendang dari prusahaan, pikir Yudha


Tanpa berkata atau bertanya lagi Devan segera keluar dari sana, "ada apa dengannya, apa sebaiknya aku bertanya langsung padanya' gumam Devan pada dirinya sendiri.


Tidak lama Devan sampai diruangannya, dia masih memikirkan Tesha, entah apa yang membuat Devan seperti itu, hanya Devan yang tahu, "suruh OB yang biasa diatas untuk menemui saya, segera!" Devan berdiri dari duduknya den berjalan kesana kemari, dia seperti tidak sabar menunggu Tesha.


Ruangan OB


"Sha."


"iya?"


"kamu disuruh keruangan pak Devan sekarang," ujar kepala OB disana, yang bertugas mengatur semua kebersihan kantor.


"maaf bu, untuk apa ya, ini jam istirahat bu," Tesha rasanya enggan menemui Devan, karena jika dia bertemu bosnya itu, dia akan selalu teringat perkaannya yang sangat sadis itu.


"jika bos yang meminta tidak perlu banyak bertanya! segera kesana, sebelum kamu dapat masalah!" bentak bu Dona.


"maaf bu, saya akan segera kesana," tanpa bertanya lagi Tesha langsung berjalan menuju lantai 6 untuk menemui atasan yang sangat menyebalkan itu, Tesha mengirim pesan pada semua temannya untuk tidak menunggu dirinya makan, karena dia ada keperluan.


Tidak lama Tesha sampai diruangan Devan, "maaf pak, apa anda memanggil saya?"


"Hem, apa yang kamu lakukan diruangan Yudha?" tanpa basa-basi Devan langsung pada inti yang ingin dia tanyakan, ternyata Devan masih belum puas mendengar penjelasan Yudha, hingga harus bertanya kembali pada Tesha.


"bapak bisa tanyakan langsung pada pak Yudha," Tesha tidak ingin menjelaskan hal yang menurutnya tidak patut, jadi lebih baik diam, seandainya Tesha jujurpun belum tentu Devan akan percaya, pikir Tesha.


"apa yang pak Yudha katakan itu, berarti kebenarannya pak," Karena Tesha yakin bukan dirinya yang akan di bela jika dia berkata yang sebenarnya, lagian Tesha sadar siapa dirinya.


"tentang pinjaman, apa benar kamu mengajukan pinjaman 500 juta?" tanya Devan lagi


"iya pak" Tesha tidak ingin berbohong, karena memang dia butuh uang sebanyak itu.


"untuk apa?" selidik Devan dengan menatap lekat wajah Tesha yang menunduk.


"berobat bapak saya," singkat, padat, dan jelas.


Devan diam sambil melihat Tesha, entak kenapa dia sedikit tidak percaya, dan Devan sendiri tidak tahu kenapa dia susah sekali percaya pada gadis ini didepannya ini.


"dan kamu bisa meminjamnya?"


"tidak,"


"apa yang akan kamu lakukan?"


"tidak tahu, jika anda berbaik hati, saya akan meminjam pada anda,"


"hahaha apa kamu sudah gila, siapa kamu berani meminjam pada saya, dan apa jaminan yang bisa kamu berikan padaku."


"apapun, asal anda mau mengurus pengobatan ayah saya sampai tuntas, bahkan bekerja dengan anda seumur hidup sebagai pembantu saya bersedia," jelas Tesha tanpa ada keraguan sedikitpun diwajahnya.


"saya tidak butuh pembantu, karena dirumah saya sudah banyak," tolak Devan dengan tegas, Devan bukan orang yang tidak mampu, bahkan dirumahnya ada 10 ART, jadi untuk apa pembantu lagi, pikir Devan.


"tapi ada satu pilihan, itupun kalau kamu mau,"


"katakan pak,"


"bermalam denganku 1malam, dan aku akan memberimu uang 1milyar."


Deg....


Inilah yang harus iya lakukan pada akhirnya, "cukup pak! Kenapa orang kaya sama saja bajingan!"


"apa kamu bilang? jangan sok suci, bukannya kamu lebih menjijikkan, apa kamu lupa pekerjaanmu apa! apa harga dirimu lebih berharga dari nyawa ayahmu!"


Deg...


Tesha langsung terdiam mematung, kini pikirannya kacau, Tesha berfikir bahwa harga dirinya tidak lebih berharga dari nyawa ayahnya, dan dalam hati dia membenarkan ucapan Devan, sang bos.


"saya permisi pak," Tesha ingin menghentikan percakapan sialan ini, sungguh dia tidak sanggup mendengarkannya.


"Tunggu, jika kamu bersedia, datanglah ke hotel Edwerh, kamar 207 jam 8malam, saya tunggu, dan saya akan memberika Ceknya nanti malam jika kamu sudah selesai dengan tugasmu."


Tesha tidak menjawab sama sekali, dia langsung berlalu dari sana dan berajan menuju rooftop prusahaan Anderson grup. "achhhh!!!" tesha berteriak disana, dia tidak tahu harus berbuat apa, bukan harga dirinya tidak berarti, hanya saja ada nyawa yang harus dia pertahankan.