Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-56



Kabar duka itupun terdengar hingga ke keluarga Reno Darmawan, seluruh keluarga Reno berdatangan ke rumah Cindy.


"sayang yang kuat ya," terlihat Nyonya Darmawan memeluk Cindy sangat erat, dia tidak menyangka sahabatnya akan pulang secepat ini, bahkan mereka sudah berencana untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama, Lidya terus mengelus punggung Cindy, hingga ada sebuah tangan yang menepuk punggung Cindy, Cindypun melepas pelukannya dan menoleh kebelakang, ternyata disana ada Reno dan Monic.


"kak,,," lirih Cindy, Reno segera membawa Cindy kedalam pelukannya, Reno juga tidak menyangka wanita manja didepannya ini akan mengalami hal se pahit ini, ditinggalkan kedua orang tuanya di umur yang terbilang masih muda, bahkan kedua orang tuanya.


"ingat, jangan pernah merasa sendiri, masih ada kakak dan mamah Lidya dan papah Darmawan disini, mengerti?" Reno memang sudah menganggap keluarga Cindy seperti keluarganya sendiri, bagaimanapun mereka sejak kecil bersama-sama, meskipun sempat ada huru-hara dimasa lalu, tapi kedua kelaurga akhirnya saling memaklumi.


Cindy hanya mengangguk, karena dia merasa sangat berat hanya untuk bicara saat ini, tenggoraannya terasa tercekat, karena kaadaan yang menimpanya saat ini.


mamah Lidya mengelus kepala Cindy yang berada di pelukan Reno, Cindy melihat Monic disebelah Ziko, dia melepas pelukannya dari Ziko dan berpindah pada Monic.


"yakinlah Dek, kehendak allah yang terbaik, apapun yang sudah kita rencanakah dan susun dengan rapi, pada akhirnya allah lah yang menentukan, karena dia sebaik-baiknya perencana," Monic mengelus punggung Cindy, dimasa lalu Monic merasa hidupnya begitu menyedihkan, tapi setelah melihat kejadian sekarang dia sadar kalau deritanya dimasalalu bukanlah apa-apa di banding Cindy sekarang, kehilangan kedua orang tuanya di saat bersamaan, sungguh Monic sendiri tidak yakin akan kuat, lalu bagaimana dengan Cindy, Monic berharap Cindy akan kuat menjalani semuanya.


"kak maafkan kedua orang tuaku jika punya salah ya kak," setiap ada orang yang datang, Cindy selalu memohon maaf untuk kedua orang tuanya, dia ingin kedua orang tuanya pergi dengan tenang.


2jam berlalu, kini semua orang tengah mengikuti pemakaman kedua orang tua Cindy, tidak terkecuali keluarga Reno, Cindy berdiri di atas tanah yang kini akan dihuni jasad kedua orang tuanya, tanah itu perlahan menutup tubuh orang yang telah merawatnya sejak bayi dengan penuh kasih, diiringin dengan tangis dari para sanak saudara, tidak terkecuali Cindy, air matanya seakan tidak habis, hingga kesua matanya menyipit.


"selamat jalan mah, pah, tunggu Cindy di surga ya mah, kita akan bersama kembali," batin Cindy, setelah tanah itu tertutup sempurna, Cindy bersandar di bahu sang kakak, dia tidak ingin beranjak meskipun Genta sudah berkali-kali mengajaknya pulang, hingga Genta pasrah sampai Cindy merasa puas berada Disana, semua orang sudah pergi semua, kecuali Cindy dan Genta yang masih setia berada di dua gundukan tanah itu.


"ingat dek, didalam sini ada dedek bayi yang harus kamu jaga, kasian calon keponakanku ini jika ibunya terus bersedih." Cindy mendongak melihat sang kakak.


"ayo kak kita pulang," Cindy segera mengusap air matanya dan berdiri, dia berbalik dan berjalan menuju mobil sambil dipapah oleh Genta, ketika Genta mengingatkan akan kehamilannya, Cindy tersadar jika ada kehidupan yang membutuhkannya.


"kenapa kamu melarang kakak memberi tahu keluarga Anderson tentang semua ini, bukannya mereka juga keluargamu?" Ketika jenazah sampai di kediaman Cindy, dan ketika Genta hendak memberi tahu kelaurga Anderson Cindy melarangnya, mau tidak mau Genta menuruti semuanya, waktu itu Genta tidak ingin bertanya alasannya, karena masih ada yang lebih penting, yaitu mengurus jenasah Om dan Tantenya, tapi kali ini Genta harus bertanya alasannya, apa lagi setelah melihat sang adik yang kembali sendiri tanpa suami.


"hufff aku akan cerita tapi tidak sekarang kak, aku mohon jika suatu saat keluarga Anderson datang dan kak Ziko, kakak tidal boleh menanyakan ini pada kak Ziko, karena ini salahku kak, aku yang salah, akhirnya aku memilih pergi dari hidup kak Ziko, dengan membawa anak ini bersamaku" ujar Cindy sambil mengelus perutnya, "apa kakak bisa menjanjikan itu padaku?" kini Cindy menatap sang kakak yang tengah mengemudi, Cindy kenal betul sifat kakaknya, jika sang kakak tidak akan pernah mengingkari janjinya.


"suamimu tidak mengenalku, jadi kamu tidak perlu hawatir jika aku sampai melukainya," Genta tidak ingin berjanji sebelum dia mengetahui permasalahan antara adik dan adik iparnya, karena apapun alasannya seorang suami punya kewajiban menjaga istrinya, apa lagi dalam keadaan hamil seperti Cindy.


"kak, berjanjilah padaku, demi aku dan keponakan kakak ini," pinta Cindy dengan suara seraknya, karena terus menangis sejak malam hingga tenggorokannya terasa sakit.


Genta menarik nafasnya dalam, akhirnya Genta mengangguk, meskipun sedikit ragu, tapi Genta tetap akan mencari tahu ada apa dengan rumah tangga adiknya.


Tidak lama mereka sampai di kediaman Cindy, Cindy turun dari mobil dan berjalan masuk dengan langkah yang sangat pelan, yang diikuti Genta di belakangnya, air matanya kembali menetes ketika melihat ucapan turut berduka yang berjejeran dihalaman rumahnya, langkahnya semakin berat ketika masuk kedalam rumah, karena setiap sudut mengingatkan kenangan bersama kedua orang tuanya, dia melihat ke arah meja makan dimana dia akan selalu berdebat dengan sang mamah, tentang dirinya yang selalu bangun kesiangan, dia melihat tempat papahnya duduk jika makan, dia mengingat papahnya yang selalu menengai ketika dirinya akan berdebat dengan sang mamah, sungguh Cindy belum terima rasanya jika mengingat semua itu, Cindy tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"dek," Genta memegang pundak adiknya hingga Cindy tersadar dari lamunanya yang terus melihat ruang makan.


"aku tidak papa kak, aku akan istirahat kekamarku," Cindy berjalan, bukannya menuju kamarnya sendiri, justru menuji kamar kedua orang tuanya, dia masuk dan segera menutup pintu kamar kedua orang tuanya, dia menyusuri seluruh kamar itu, kamar yang akan selalu dia hampiri ketika masih berada kedua orang tuanya, rasanya Cindy tidak sanggup jika harus berada dirumah ini, karena semua sudut rumah ada kenangan dirinya bersama kedua orang tuanya.


tidak lama Cindy tertidur karena tubuhnya merasa sangat lelah, dia meringkuk dikamar kedua orang tuanya.


Sedangkan di apartement Ziko sama sekali tidak beranjak dari duduknya, bahkan Ziko tidak pergi bekerja, jam sudah menunjukkan pukul 1siang, rasanya Ziko malas untuk kemana-mana, pikirannya terus tertuju pada Cindy yang semalam menangis ketika melihat dirinya bersama Rena, sungguh rasanya Ziko ingin pergi kerumahnya dan menemui sang istri, namun gengsinya terlalu tinggi hingga dia mengurungkan niatnya.


Tanpa Ziko sadar, Cindy sudah pergi dari hidupnya.