
"Kamu ingin kemana sayang, disini banyak tempat, dan tidak mungkin kita mendatangi satu persatu," kini Ziko dan Cindy sudah berada di mobil yang dikendarai oleh supir hotel, karena Ziko ingin menikmati perjalan dengan sang istri, tanpa harus pusing menyetir.
"Aku pernah dengar ada bazaar terbesar diturki bahkan didunia, apa kita bisa kesana kak."
"Apa kamu ingin beli oleh-oleh, jika iya lain kali saja sayang, kalau sudah mau pulang, kita masih 5hari lagi disini."
"Tidak-tidak kak," jawab Cindy cepat, "aku bukan mau beli oleh-oleh, hanya saja disana katanya banyak restoran dan makannya enak-enak, dan disana juga banyak air mancur kak,"
"Baiklah," akhirnya Ziko meminta pada sang supir untuk menuju Grand bazaar istanbul.
Dan tidak lama mereka sampai disana, terlihat Cindy langsung berbinar wajahnya melihat Bazaar yang sungguh besar, bahkan dia sampai menggeleng saking takjubnya dengan keindahan bazaar tersebut, "Kak pemandangan disini sungguh indah,,," teriak Cindy, sungguh Cindy merasa nyaman ditempat terbuka seperti ini, apa lagi banyak barang-barang murah, dan pernak pernik has turki yang sangsat lucu, hal utama yang Cindy tuju adalah aneka makanan turki, sungguh rasanya dia tidak ingin pulang sebelum memakan semua makanan has turki yang ada di bazaar itu.
Sedangkan Ziko terus mengikuti istrinya kemanapun Cindy melangkah, bahkan dia seperti bodyguard saja, namun Ziko tidak keberatan dengan hal itu, dia tidak ingin merusak kebahagian istrinya yang seperti anak kecil sedang bermain itu, akhinya setelah lama berputar disana kini Cindy sampai di air mancur, "kak tolong fotokan aku," Cindy memberikan ponselnya pada Ziko, agar suaminya itu memotret dirinya didekat air mancur, tanpa bantahan Ziko mengambil ponsel dari tangan istrinya, namanun wajahnya seperti kertas yang baru diremas, sungguh lecek.
"Apa dia tidak berniat mengajakku foto bersama, apa dia tidak ingin punya kenangan bersamaku" grutu Ziko dalam hatinya, dia kesal, sedari tadi Cindy hanya meminta dirinya menjadi tukang foto, akhirnya Ziko mengambi foto Cindy dengan sembarangan, akibat dirinya kesal.
"Kak! Kenapa fofonya seperti hantu kasat mata begini" tanpa pikir Panjang Cindy langsung menghapusnya, dia memasukkan kembali ponselnya kedalam tas, dia ceberut dan duduk disana.
Ziko yang melihat itu menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya, "beginilah kalau menikah dengan anak kecil," batin Ziko, Ziko berjalan mendekati Cindy dan duduk disebelahnya, "Apa kamu marah sayang? Habisnya kakak kesal, kamu bahkan tidak mengajak kakak foto bersama," tanpa sadar Ziko keceplosan jika dirinya menginginkan foto bersama, Ziko langsung terdiam setelah menyadari kebodohannya, "dia pasti akan menertawakanku, bodohnya kamu Zik" gumam Ziko pada dirinya sendiri.
sedangkan Cindy yang mendegar itu langsung mengulum bibirnya dalam-dalam, dia sungguh merasa gemas dengan suaminya, jika ingin foto bersama kenapa tidak katakan saja, pikir Cindy, "maaf kak, aku kira kakak tidak suka berfoto, karena saat kita di pesawat kakak menutup wajahnya ketika aku memotret kakak," jelas Cindy panjang lebar, "sudah jangan merajuk, ayo kita foto bersama," Cindy menarik tangan suaminya dan meminta tolong pada pengunjung lain untuk memotret dirinya.
Mereka berdua kini tengah berdiri bersama sambil melihat kamera yang sudah berada di tangan pengunjung yang akan memotret mereka berdua, "Maaf, apa anda dengan istri anda bisa sedikit mesra, karena disini wajah anda sangat kaku," tanpa rasa takut orang itu mengutarakan apa yang terlihat, karena memang wajah Ziko seperti kaku, dan itu sungguh buruk jika di potret.
Cindy langsung menarik Ziko dan mencium pipi suaminya tanpa ragu, dia bukan wanita jaim yang menunggu suaminya berinisiatif terlebih dahulu, Ziko langsung tersenyum sumringah dan foto itupun di ambil.
Cekrek...
dan benar saja setelah foto itu jadi, terlihat foto itu sangat indah, bahkan Ziko langsung tersenyum melihat itu, istrinya sungguh berani mencium dirinya ditempat umum, pikir Ziko, "terima kasih sir," Ziko menyodorkan beberapa lembar uang untuk orang yang sudah memfoto dirinya dengan sang istri yang begitu indah, "kamu sungguh manis sayang," puji Ziko tanpa ragu, Ziko memeluk Cindy dan mencium kening istrinya sekilas.
Kini keduanya tengah makan disebuah resto yang ada di bazaar itu, sembari menunggu pesanan datang, Cindy mengotak atik ponselnya dan men share foto kebersamaannya dengan sang suami, disebuah WA, dimana hanya dirinya yang terlihat, karena Ziko membelakangi dirinya dan Cindy bersandar di pundaknya dengan saling memunggungi, punggung yang kokoh itu semua orang bisa menebak seberapa kekar otot dan tampannya pria itu, selang beberapa menit ponsel Cindy ramai dengan kekepoan para temannya.
Tesha
"Waw istanbul turki gaes,,," antusias Tesha
"Omo,,, siapakah gerangan yang menjadi sandaran tuh,,,"
Elvin
"pantas tidak bekerja ternyata sedang bulan madu, yuk diobaral wajahnya, biar kita tahu, siapa pria yang tidak beruntung itu,,," kelakar Elvin dengan menggejek Cindy
Clara
"Kak Ziko yang terbaik memang,,," ujar Clara dengan emoji hati
Mamah Nisa
"Bersenang senanglah sayang, dan jaga kesehatan, jangan lupa pulang bawakan cucu untuk mamah dan papah." disertai emoji peluk dan cium
Cindy yang membaca pesan dari semua temannya terkekeh, dan itu menarik perhatian suaminya, mode cemburunya mulai keluar.
"Siapa sayang, kenapa kamu jadi sebahagia itu," selidik Ziko, Ziko pindah duduk disebalah Cindy dan melihat ponsel istrinya yang masih menyala, disana dia bisa membaca semua pesan teman dan mamahnya, karena Cindy sedang membalas satu persatu pesan itu.
Mansion Anderson
"Lihatlah pah, putramu sepertinya sudah mencintai menantu kita, dia bahkan tersenyum lepas," mamah Nisa memperlihatkan foto-foto yang dikirim menantunya pada sang suami, diruang tamu, karena mereka berdua tengah bersantai di jam sore seperti ini.
Tuan Anderson yang melihat itu merasa senang, ini yang dia harapkan beberapa tahun yang lalu, anaknya kembali seperti dulu, "papah harap dia akan seperti ini terus mah, dan semoga saja tidak ada yang mengusik kebahagian mereka berdua."
"Iya pah, semoga saja," timpal mamah Nisa, mengingat Ziko masuk dalam deretan pengusaha muda yang sukses, pasti banyak yang ingin menjatuhkannya, itu sebabnya tuan Anderson begitu khawatir, tapi mengingat tidak ada yang tahu jika Cindy istri Ziko, mereka sedikit bernafas lega, karena Cindy tidak mungkin dalam bahaya, pikirnya
Turki
"kak setelah ini kita kembali ke hotel ya, aku lelah kak, seharian kita disini" Cindy menyandarkan kepalanya di meja makan itu, karena dia sungguh lelah, bagaimana tidak lelah, dia mengeliling semua yang ada di bazaar itu, mulai dari pernak pernik, masjid, air mancur dan masih banyak lagi lainnya, bahkan Ziko merasa heran dengan semangat istrinya yang luar biasa, sedangkan Ziko yang notabenya pria saja lelah.
Perlu digaris bawai, bahwa wanita tidak akan lelah jika berhubungan dengan belanja, apa lagi melihat hal yang indah-indahz rata-rata seperti itu, hanya sedikit wanita yang tidak menyukai keramaian.