
"Tidurlah sayang, tidak perlu lanjut bekerja, biar dikerjakan Devan nanti," Ziko memperbaiki selimut yang tidak terlalu tebal itu ditubuh sang istri, dan mencium sekilas kening istri.
"Tapi kak kerjaanku ba-"
"No sayang!" sela Ziko cepat, "Kamu pasti sangat lelah, disini aku bosnya, jadi menurutlah," tegas Ziko dengan tatapan khasnya, dimana itu selalu membuat Cindy berhenti berdebat.
"Baiklah," Akhirnya mau tidak mau Cindypun menurut, dia mulai memejamkan kedua matanya dan tidak lama, Cindypun terlelap.
Ya, ketika jam istirahat tiba, seperti yang sudah-sudah, mereka akan makan siang bersama, namun 2hari trakhir ini, Ziko tidak hanya makan, tapi meminta hidangan penutup pada sang istri, entah kenapa nafsu suaminya itu sangat tinggi, tidak dirumah, di kantorpun sama.
Ziko perlahan turun dari kasur king Zisenya setelah memastikan Cindy tidur, tidak lama Ziko sudah membersihkan dirinya dan berjalan keluar dari balik pintu rahasia yang berada diruangannya.
baru juga duduk, sudah terdengar pintu diketuk, dan terlihat Devan masuk dengan senyum merekahnya.
"aku belum memberimu bonus, kenapa kamu sebahagia itu," tanya Ziko
Ziko heran melihat asistennya, tidak seperti biasanya, jika Ziko memanggilnya dia akan berkata 'ada apa lagi memanggilku' dan itu pasti lengkap dengan wajah menjengkelkan menurut Ziko, tapi lihat kali ini, masih juga memegang gagang pintu, tapi temannya sudah tersenyum bak sedang jatuh Cinta.
"Ah sudah lupakan, tidak perlu dijelaskan, tidak penting!"
"Sial, lalu untuk apa setan didepanku ini bertanya," umpat Devan dalam hatinya.
Ketika Devan akan membuka mulutnya untuk bercerita, justru Ziko langsung menghentikannya, dan berkata tidak penting, sungguh bos adalah hasil akhir dari apapun, termasuk membuat bawahannya ingin mengutuknya.
"Yasudah katakan untuk apa menyuruhku kesini," tanya Devan dengan nada kesalnya, dimana itu justru membuat Ziko tesenyum lebar.
"Nah ini baru kamu, jika seperti tadi aku justru takut sendiri" pekik Ziko.
Devan hanya melengos tanpa ada niatan menjawab bosnya itu.
"Carikan aku rumah yang besar dan indah."
Devan langsung mengalihkan pandangannya pada sang bos, "untuk apa,,,?" Tanya Devan dengan nada herannya, lagian bosnya sudah punya rumah dan apartement, jika untuk investasi sepertinya tidak, pikir Devan.
"Untuk menguburmu disana hidup-hidup."
"Sialan! Kan aku bertanya, apa susahnya dijawab." Kesal Devan.
"ah lebih senang bermain dengannya, dari pada disini dengan bos gila," umpat Devan dalam hatinya.
"Dan kamu tahu sendiri, aku tidak suka menjawab hal yang tidak perlu" timpal Ziko lagi.
"Ok, 1bulan kamu akan menerima kunci rumahnya."
"Hey itu terlalu lama!" Teriak Ziko ketika melihat Devan yang mulai berlalu dari sana.
"Agar tidak mengecewakan hasilnya, kebanyakan yang instan itu tidak enak," kelakar Devan dengan tawa renyahnya yang masih bisa didengar Ziko meski sudah hampir menutup pintu.
"Dasar teman gila!" Namun itu tak urung membuat Ziko ikut tersenyum, selama ini yang menemani dirinya sejak dari bawah adalah Devan dan Jay, jadi ketiganya sudah terbiasa dengan sifat masing-masing.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15:00, itu artinya waktu sudah sore, Ziko mulai beranjak dan berjalan kekamarnya untuk melihat Cindy, sambil membawa dres baru untuk Cindy, yang sudah dia pesan di tempat langanan keluarganya, karena baju kerja istrinya sudah tidak terbentuk akibat ulah Ziko.
"Sayang bangun," Ziko memberi banyak kecupan pada seluruh wajah Cindy, agar istrinya terbangun, sudah dua jam istrinya tertidur, itu sudah cukup disiang hari, pikir Ziko.
"Huammm, kak lima menit lagi ya,,," Cindy semakin memperbaiki selimutnya yang masih membalut tubuh polosnya.
Cindy yang mendengar bisikan Ziko langsung membuka matanya lebar-lebar, dan langsung duduk, bahkan tanpa sadar tubuh bagian atasnya terekspost, akibat dia yang langsung terduduk dan membuat selimutnya melorot dari tubuhnya.
Ziko yang melihat itu langsung tersenyum penuh mistri dan memberi kode pada sang istri.
Cindy yang pahampun maksud Ziko mengikuti pandangan suaminya, " ahhhhhh ... kak Ziko mesum!" Teriak Cindy dan langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.
Ziko langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah terkejut istrinya, sungguh istrinya itu sangat menggemaskan, meskipun sudah berkali kali berhubungan intim, tetap saja istrinya itu malu jika memperlihatkan tubuh polosnya, pikir Ziko, Zikopun keluar dan membiarkan istrinya membersihkan tubuhnya dulu, dia bisa segera menyelsaikan pekerjaan sembari menunggu Ciindy selesai dan mereka bisa segera pulang.
"Astaga,,, aku sungguh malu," Cindy tersenyum sambil menyabuni tubuh polosnya dibawah guyuran air sower, dia membayangkan kembali hari- hari bersama suaminya yang semakin baik setiap harinya, tidak lama Cindypun selesai dengan ridwal mandinya, kini Cindy sudah rapi.
Drerzzztt
"Clara, ada apa dia menelfonku dijam sore begini, tumben" monolok Cindy, setelah dia melihat nama Clara yang menghubungi dirinya.
"Iya Cla ada apa?"
.......
"Baiklah, tapi aku harus ijin suamiku dulu."
......
"Ok," Cindy memasukkan kembali ponselnya kedalam tas dan keluar dari kamar yang ada dirungan Ziko, ketika dia sudah keluar matanya langsung disuguhkan dengan pemandangan yang menyegarkan kedua matanya, dimana suaminya yang duduk dengan gagahnya, ditambah tiga kancing kemeja yang terbuka dibagian atasnya, itu menjadi nilai + bagi Cindy.
Cindy berjalan dan berdiri disamping suaminya, tidak lama Cindy langsung memberikan kecupan singkat dipipi sebelah kanan suaminya, sore baby," ujar Cindy lirih, namun bisa didengar oleh Ziko.
Belum sempat Cindy menegakkan tubuhnya kembali, namun Ziko langsung menariknya, hingga Cindy duduk dipangkuan Ziko, " sore my wife" Ziko pun tidak mau kalah, dia memberi kecupan dibibir sang istri dengan cukup lama, dimana itu membuat Cindy harus mendorong suaminya supaya tidak kebabblasan.
"Ayo kak pulang," ajak Cindy setelah dia berdiri dari pangkuan suaminya.
"Mari tuan putri," Ziko membawa tangan sang istri kedalam genggamannya, dan berjalan bersama keluar dari ruangan Ziko.
"Kak tunggu," Cindy menghentikan langkahnya, hingga mau tidak mau Ziko ikut berhenti, "lepaskan tanganku kak" lagi.
"Kenapa?" Tanya Ziko dengan menaiki kedua alisnya.
"Orang dikantor ini tidak ada yang tahu hubungan kita, jadi lebih baik kita jalan sendiri-sendiri saja kak," jelas Cindy.
Ziko yang pahampun langsung membawa istrinya masuk kesebuah lift yang jarang sekali dia gunakan, Ziko masuk dan langsung menekan tombol yang ada disana, dan hanya ada satu pilihan, tidak lama benda kotak besar itu sampai dimana mobil Ziko berada.
Cindy yang melihatnya merasa takjub dengan semua ini, "apa hanya kakak yang bisa menggunakan lift ini kak."
"Tentu, sudah, sekarang tidak perlu malu lagi," Ziko membukakan pintu depan dan menyuruh sang istri masuk, tidak lama Zikopun kini sudah duduk dikursi kemudi.
"Kak nanti malam Clara mengajakku makan di hotel indah, dia ingin mentraktirku apa boleh, jika kakak juga ingin ikut boleh kok kata Clara." ujar Cindy dengan cepat.
"Sudah tidak perlu panik begitu," Ziko bisa menangkap kepanikan sang istri dari suaranya yang berbicara dengan cepat namun masih gugup, "kakak mengijinkanmu, tapi harus bawa sopir, mengerti?"
Tidak akan Ziko membiarkan istrinya itu naik motor lagi seperti waktu itu, dimana sang istri hampir tertabrak.
"Terima kasih kak," girang Cindy, dia bahkan langsung bersandar dibahu Ziko yang sedang mengemudi.
Ziko tidak menjawab, dia hanya memberi belaian halus dikepala istrinya dan memberi kecupan sekilas di kening sang istri.