Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-27



"mana?" Cindy yang baru masuk rumah dan baru berada di amabang pintu merasa bingung, apa yang suaminya minta, kenapah menadahkan tangan padanya, pikir Cindy


"apa kak?" tanya Cindy, Cindy merasa Ziko tidak menitip apapun padanya.


"tentu saja tiket bulan madu kita, bukannya papah sudah memberikannya padamu, kenapa kamu tidak memberi tahu saya?"


Cindy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung mau bilang apa, lagian dia juga tidak tertarik dengan tiket bulan madu itu, "emmm buat apa ya kak?" Cindy memberanikah diri menatap sang suami.


"kira-kira kamu ingin jawaban apa dari saya?" tanya balik Ziko, sepertinya Ziko lupa dengan titahnya sendiri, jika pertanyaan tidak boleh dijawab dengan pertanyaan pula.


"bukan begitu kak, kita kan sama sama tahu, kalau kita tidak menginginkan bulan madu ini, itu sebabnya aku tidak membari tahu kakak," ya Cindy masih ingat dengan jelas, dimana Ziko mengatakan jika pernikahan mereka hanya formalitas semata, dan suaminya juga sudah punya kekasih, itu juga jadi nilai+ untuk Cindy tidak memberi tahu suaminya.


"apa kamu sudah mendengar sendiri, jika saya tidak menginginkan bulan madu itu?" ujar Ziko, Cindy langsung menunduk, dia tidak tahu harus menjawab apa, karena memang dia tidak memberi tahu Ziko sebelumnya.


"besok Cindy berikan pada kakak tiketnya," putus Cindy cepat, Cindy merasa auranya kurang nyaman, setelah melihat Ziko yang mulai berjalan mendekatinya, Cindy berbalik hendak berlalu dari sana, namun Cindy langsung tertegun mendengar perkataan Ziko.


"apa kamu tidak ingin memberikan hakku?" Cindy masih diam mematung, dia bingung mau berkata apa, jika menjawab iya dia belum siap, jika menjawab tidak, tapi ini sudah kewajiban, Ziko terus berjalan hingga mencapai Cindy, dadanya yang bidang mengenai punggung Cindy, yang kini membelakangi Ziko, "bagaimana?" Bisik Ziko ditelinga kiri Cindy, Ziko menautkan tangannya di belakang punggungnya, sambil berbisik pada Cindy, "aku menginginkan hakku sebagai suami" ulang Ziko lagi dengan berbisik, nafasnya bisa Cindy rasakan.


"Kak ak-"


"Apa kamu ingin menolaknya?" Belun Cindy selesai bicara, Ziko sudah memotong perkataan Cindy, Cindy tidak menjawab, tubuhnya merasa merinding.


Sedangkan diluar Ziko terus menatap pintu kamar Cindy dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, "kamu boleh menolakku sekarang, tapi tidak lain kali," batin Ziko, Zikopun pergi dari rumahnya untuk bertemu Devan, ya Devan dan Jay mengajak Ziko nongkrong ditempat biasa, dimana lagi kalau bukan club malam, "makan malam tidak perlu menungguku bik, aku makan diluar"


"Baik tuan muda."


Tidak lama Ziko sampai di tempat janjiannya dengan Devan dan Jay, "kemana mereka, kenapa mereka semua belum sampai, sial! Bisa-bisanya mereka membuatku menunggu" umpat Ziko, Ziko memanggil bartender untuk meminta minuman, selang 1jam mereka berdua baru datang, tiba-tiba ada kotak tishu yang mendarat dikepala Jay, sudah jelas siapa pelakunya, "apa kalian sudah lupa jalan kesini!"


"Sory bos, tadi menunggu Devan bersiap, dan ban mobilnya kempes dijalan, itu sebabnya kita telat."


"Jangan terlalu banyak minum Zi, atau kamu akan mabok nanti," Jay mengambil minuman Ziko agar berhenti meminum, karena jika Ziko mabuk maka dia akan menyusahkan mereka berdua.


"Tidak akan! berikan minumanku," Ziko berusaha mengambil minumannya dari tangan Jay  namun gagal, karena kesadaran Ziko sudah mulai hilang," jangan harap kamu bisa menolakku lain kali gadis mungil" gumam Ziko, dan sialnya terdengar jelas ditelinga kedua sahabatnya.


"Hohoho,,, sepertinya ini ada hubungannya dengan Cindy," ujar Devan dan di angguki pula oleh Jay, "bagaimana kalau kita berika ini," Devan menunjukkan sesuatu pada Jay.


"Heh!! Untuk apa kamu menyimpan barang haram begini" Jay melempar pil itu pada wajah Devan, sedangkan Devan langsung menangkapnya.


"Haram mulutmu, ingat tidak, kamu pernah minum ini, dan karena obat ini juga kamu merasakan nikmat dunia" Devan tidak terima barang berharga menurutnya dibilang haram.