
"Pleas sayang,,," melas Ziko, akhirnya Cindypun mengangguk dan menikmati sentuhan suaminya, Ziko turun dan terus turun hingga dia mulai bermain-main di gua rimbun milik Cindy.
"Uh,,, kak,,," desah Cindy, Cindy mencengkran kuat sprei, akibat gelombang yang menjalar disekujur tubuhnya, karena permainan panas sang suami, pertempuranpun semakin panas, hingga Cindy mencapai puncak untuk pertama kalinya, "kak Ziko,,," desah Cindy panjang sambil menyebutkan nama suaminya.
Ziko yang mendengar istrinya memangil dengan menyebut namanya seperti mendapat angin segar, "nikmatilah sayang, karena aku juga menikmati," ujar Ziko ditelingan sang istri dengan suara yang sensual, perlahan namun pasti Ziko mulai membuka lebar kaki sang istri dan menyatukan dirinya dengan sang istri.
"Kak,,, sakit,,," rintih Cindy ketika merasakan ada sebuah tongkat yang memaksa masuk, dan rasanya sungguh sangat tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang menusuknya perlahan.
"Tahan sayang, setelah ini tidak akan sakit lagi, dan hanya akan ada kenikmatan," Cindy tidak menjawab, dia memejamkan matanya menahan sakit, Ziko yang melihat istrinya kesakitan mulai bermain dengan gunung kembar sang istri, agar bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya.
"Kak,,," teriak Cindy, Cindy merasakan sakit yang teramat ketika sesuatu memasukinya dengan sempurna, Ziko diam untuk beberapa saat agar milik Cindy bisa menerimanya, sedangkan Cindy sedikit mengeluarkan air mata akibat merasakan perih dibawah sana, Ziko mencium bibir Cindy untuk mengurangi rasa sakit pada wanitanya, dia mulai ******* dengan sedikit kasar, "kakak akan perlahan sayang" bisik Ziko.
Perlahan kini Cindy mulai bisa menerimanya, Ziko yang tahu itu mulai menambah ritmenya setelah melihat sang istri sudah bisa mengimbangi permainanya, mereka bermain dengan sangat buas dan saling mencari kenikmatan masing-masing, hingga tidak lama mereka mencapai puncak bersama-sama, yang di akhiri dengan erangan yang cukup panjang dari keduanya.
Ziko terus menatap wajah sang istri yang terlihat kelelahan dan terlelap dalam dekapannya, dia mengelus pipi sang istri dan bermain dibibir sang istri dengan jarinya.
"kamu milikku seutuhnya sekarang, bukan hanya di atas kertas saja, dan terima kasih sayang, karena kamu sudah memberikannya pada kakak," Ziko memberi kecupan sekilas di bibir sang istri yang mulai hari ini akan selalu menjadi candunya.
Cindy tidak memberi jawaban, karena Cindy sudah terlelap, akibat kelelahan, ini pertama kali baginya, tentu saja dia merasa tidak nyaman setelah kenikmatan itu usai, Ziko yang pahampun hanya bermain sekali dan ikut terlelap dalam satu selimut dengan sang istri dan dalam keadaan sama-sama polos.
Keesokan harinya, cindy membuka matanya perlahan, ketika mukanya terkena terpaan sinar matahari pagi yang indah, dia merasakan perutnya yang berat seperti tertimpa sesuatu, Cindy menoleh dan terbelalak dengan wajah yang terkejut mendapati dirinya berada dalam dekapan sang suami, tapi ketika hendak berteriak Cindy teringat malam panasnya dengan sang suami.
"Astaga,,, aku bahkan menerima dengan baik semalam," pekik Cindy dengan suara tertahan, Cindy melihat tubuh dirinya yang polos dan sang suami, dia merasa Malu dengan pemandangan tubuhnya dan sang suami yang polos.
Cindy perlahan melepas dekapan sang suami dan menuruni tempat tidur dengan sangat perlahan, tapi naasnya Ziko langsung menariknya kebelakang, hingg tubuh polos kedua kembali menyatu dalam dekapan, bahkan Cindy bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal dibawah sana.
"Apa kamu akan lari kekamarmu seperti waktu itu, dan langsung berangkat kerja meninggakan aku, hem?" Ziko semakin mempererat belitannya pad pinggan Cindy, hingga Cindy menahan nafas karena hawa yang mula menjalar pada dirinya, apa lagi mereka masih sama-sama polos seperti bayi.
Kulit Cindy yang putih dan halus, kini bergesekan dengan tubuh yang kekar dan berotot, bahkan Cindy merasa dia aman dalam dekapan pria ini, dimana dia memang suaminya, "kak, biarkan aku mandi kak, karena rasanya sangat tidak nyaman," pinta Cindy tanpa menoleh ataupun bergerak dalam dekapan Ziko, karena Cindy takut akan membangunkan singa yang tertidur.
Ziko melepas belitan pada Cindy dan langsung bangun dari tidurnya, dengan keadaan tubuh yang masih polos, bahkan dia tidak malu sama sekali pada Cindy, sedangkan Cindy yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya karena malu, "apa dia tidak bisa memakai celana terlebih dahulu," gumam Cindy dalam hati.
Ziko merendahkan tubuhnya didekat Cindy, "Kamu akan merasakannya lagi sayang setelah ini, jadi tidak perlu membatin" bisik Ziko, ya Ziko melihat Cindy yang melamun sudah bisa dia pastikan kalau Cindy sedang membatinkan dirinya.
"kak! Turunkan aku,,," teriak Cindy, ketika tiba tiba Ziko langsung menggendongnya ala bridal style, dia terkejut tubuhnya tiba tiba melayang.
"nanti akan kakak turunkan, tapi didalam sana," tunjuk Ziko dengan dagunya, sedangkan Cindy langsung sembunyi didada bidang sang suami, karena dia malu jika bertatapan langsung dengan Ziko.
Selang satu jam keduanya keluar dari kamar mandi, dengan Ziko yang berwajah cerah, dan Cindy yang cemberut, ya mereka berdua mengulang kembali parmainan panas mereka didalam kamar mandi dengan posisi bersiri menghadap kaca wastafel, bahkan Ziko sangat beringas melebihi semalam, "tersenyumlah, apa kamu ingin kita bermain untuk yang kesekian kalinya," tanpa menjawab Cindy langsung tersenyum, sebelum semuanya benar-benar terjadi, bahkan saat ini ************ Cindy masih tidak nyaman, apa jadinya jika terjadi lagi.
"mungkin aku tidak akan bisa berjalan dan mungkin saja lebih, ah,,, tidak-tidak," Cindy langsung menggeleng cepat setelah menyadari pikirannya sendiri.
"tidak kak, aku akan mengganti pakaianku di kamar, dan aku pinjam dulu kaos kakak ini," Cindy segera pergi dari sana dan bersiap untuk pergi bekerja, karena waktu sudah sangat siang, apa lagi semalam mereka bermain hingga dini hari.
"kamu menggemaskan sayang, entah kenapa kamu sekarang menjadi canduku, dan sialnya saat ini juniorku masih ingin bermain denganmu, jika saja tidak mengingat kamu akan merasa tidak nyaman, sudah habis kamu sayang," gumam Ziko dengan senyum yang secerah matahari, bahkan Ziko terus tersenyum hingga dia keluar dari kamarnya.
"kak, bibik sedang kepasar, kakak ingin sarapan apa, karena aku menyuruh bibik untuk tidak memasak pagi ini, jadi biar aku belikan diluar kak."
"tidak perlu belikan apapun," Ziko langsung menarik tangan Cindy untuk diajaknya pergi bersama, dia bahkan tidak bertanya dulu ingin berangkat bersama atau tidak, karena dengan adanya kejadian semalam Ziko sudah tidak ingin ada penolakan dari istrinya, inilah Ziko, jika dia sudah menganggap sesuatu adalah miliknya, maka siapapun tidak akan ada yang bisa menyentuhnya.