Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-52



Cindy melihat jam dipergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Cindy merasa sangat lapar, akhirnya dia keluar dari ruangannya untuk membeli makanan sendiri didepan kantornya, disana dia melihat ada penjual lutis menggunakan grobak, Cindy rasanya ingin sekali makan buah-buahhan itu, akhirnya Cindy membelinya, tidak lama dia sudah kembali dengan setumpuk makanan ditangannya.


Cindy memakan makanan itu dengan sangat lahap, dia bahkan sampai belepotan ketika sedang makan, sedangkan dibalik kaca hitam ada sepasang mata yang terus melihat Cindy, mulai dari keluar hingga kemabli dengan setumpuk makanan.


"apa dia tidak bisa perlahan makannya, bagaimana kalau tersedak," grutut Ziko yang melihat mulut Cindy penuh dengan makanan, "andai aku sedang tidak marah padanya sudah kubuang semua makanan yang tidak sehat itu" ulang Ziko lagi dengan raut kesalnya.


"untuk apa kamu melihat orang yang tengah makan," bisik Devan di telinga sahabatnya.


"apa salahnya melihat istri sendiri makan" tanpa sadar Ziko menjawab pertanyaan Devan yang memang sengaja menggodanya.


"buahahahha, makanya kesana temani makan."


"sialan! Apa yang kamu lakukan disini, sana keluar" Ziko memperbaiki duduknya dan mulai mengerjakan pekerjaannya, dia tidak ingin Devan terus menggodanya, sungguh dia mengumpat kebodohannya yang ketahuan memperhatikan Cindy hingga lupa pekerjaannya.


"sudah tidak perlu malu, sana pergi keruangan istrimu."


"diam dan keluarlah!" Ziko mendelik menatap temannya itu, dimana Devan yang selalu bisa membuat Ziko naik darah.


"ok, lagian aku kesini hanya untuk menyapamu sayang,,," goda Devan dan segera berlalu dari sana sebelum mendapat amukan lagi dari temannya itu.


"menjijikkan, sejak kapan dia jadi menggelikan sekali!" Ziko bergidik melihat kelakuan Devan yang memanggilnya sayang.


Tok tok tok...


Tiba-tiba ruangan Ziko diketuk dari luar dan Zikopun menyuruh orang itu masuk.


Ziko mendongak menatap orang itu, setelah tahu dia adalah istrinya, Ziko segera mengalihkan pandangannya lagi pada berkas ditangannya.


"permisi kak, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


Ziko sama sekali tidak menjawabnya, dia tetap diam, dan diamnya itu diartika ia oleh Cindy.


"apa 3hari lagi akan ada pesta ulang tahun prusahaan kak?" tanya Cindy lagi.


Ziko menatap Cindy, "kenapa!"


"tidak hanya ingin tahu saja, karena aku mendengar dari teman-temanku jika akan ada pesta diprusahaan ini."


"ia" hanya itu yang Ziko katakan, sedangkan Cindy sudah tidak tahu ingin berkata apa.


"kalau begitu aku permisi kak."


"tunggu dulu," Cindypun berbalik setelah Ziko menghentikan langkahnya.


"ia kak?"


Setelah pesta kamu tidak perlu menjadi sekertarisku, karena ada Rena yang akan menggantikanmu."


Cindy tidak kembali keruangannya, dia pergi ke rofftop prusahaan Ziko, dia mengusap air matanya berkali-kali, "ini lebih sakit dari kak Reno memilih kak Monic, bahkan waktu itu aku hanya marah saja, tapi kali ini dadaku seperti sesak, dan sangat sakit" gumam Cindy pada dirinya sendiri.


Setelah menenangkan diri selama satu jam, Cindy kembali keruangannya, dia menatap seluruh ruangan yang sebentar lagi akan ia tinggalkan, "tidak masalah Cindy, tenanglah" Cindy menenangkan dirinya sendiri supaya tidak terlalu terpuruk.


Waktu terus berjalan, Cindy dan Ziko tidak lagi saling tegur sapa, Ziko yang tidak peduli dan Cindy yang berusaha menghindar agar suaminya merasa nyaman, mereka berdua kini seperti orang asing, meskipun Cindy ingin sekali, berbicara dengan suaminya.


"permisi..."


Terdengar seseorang mengetuk pintu rumah Cindy.


Ceklek, suara pintu dibuda dari dalam, "iya ada yang bisa dibantu?" tanya ART yang bekerja dirumah Ziko.


"maaf bu, ini saya mengantar barang milik tuan Ziko Anderson, apa benar ini rumahnya?" tanya kurir yang bingung, dilihat dari alamatnya benar, tapi apa mungkin ini rumahnya, pikir kurir itu, karena kurir itu sering mengantar barang ke mansion utama anderson, mana mungkin rumah sederhana ini milik tuan muda, pikirnya.


"iya benar, ini memang rumah tuan muda Ziko," kurirpun tidak bertanya lagi beliau hanya tersenyum dan memberikan kotak besar itu pada ARt rumah Ziko, tidak lamapun kurir itu berlalu setelah memberi salam.


"siapa bik?" tanya Cindy yang baru saja keluar dari kamarnya dengan piring kosong ditangannya, samar-samar Cindy mendengar ada yang berbincang dirumahnya, itu sebabnya dia bertanya.


"ini Nyonya, ada barang milik tuan Ziko."


"ow,,, langsung antarkan saja ke kamarnya bik," Cindypun melanjutkan langkahnya kearah dapur untuk menaruh piring kosong tadi.


"tuan tadi ada kurir mengantar barang untuk tuan, saya sudah menaruh dikamar tuan," ujar ART itu yang baru saja melihat tuannya masuk kedalam rumah.


"hem," Zikopun masuk kedalam kamarnya, dia hanya berhenti sejenak dan melihat pintu kamar Cindy yang tertutup, namun tiba-tiba Ziko gelagapan setelah pintu itu dibuka dari dalam, dan terlihat Cindy berdiri diambang pintu, Ziko segera masuk kedalam kamarnya tanpa menegur Cindy.


"selalu saja seperti ini, apa dia benar-benar tidak ingin bicara lagi denganku," Cindy berjalan keruang makan untuk mengambil makanan, karena ini sudah waktunya makan malam, 1minggu trakhir ini Cindy makan sebelum Ziko datang keruang tengah, karena Cindy tidak ingin melihat raut kebencian sang suami pada dirinya.


"hay Cin," terlihat Rena baru memasuki rumah Ziko, dia baru pulang kerja, selama Rena tinggal dirumah Ziko, Rena tidak pernah bertemu Cindy, karena dia selalu pulang malam, ini kebetulan Rena pulang cepat, jadi dia bertemu Cindy dijam makan malam.


Cindy hanya menatap Rena tanpa mau menjawab pertanyaan wanita itu.


"baru pulang," Rena menoleh mendengar suara Ziko dari arak kanannya.


"iya, apa kamu mau makan malam? Biar ku siapkan," Rena berjalan semakin mendekati meja makan dan mengambilkan nasi buat Ziko, Cindy yang melihat itu merasa sesak, Cindy segera meletakkan kembali makannya dan berlalu dari sana.


"aku ada gaun untukmu, pakailah besok malam di pesta prusahaan, dan aku akan mengenalkan kamu pada semua kolega bisnis kita," ujar Ziko sambil menatap Cindy, katika Cindy mendengar suara Ziko, Cindy langsung menghentikan langkahnya.


"ah terima kasih, aku pasti akan memakainya," girang Rena, Ternyata gaunnya untuk Rena, Cindy mengira gaun itu untuk dirinya, senyum Cindy langsung Sirna tatkala gaun itu untuk Rena dan bukan dirinya.


Cindy melanjutkan langkahnya dengan mata berkaca-kaca, kesekian kalinya Ziko melukai harga dirinya sebagai seorang istri.


"aku tidak sanggup, aku menyerah" gumam Cindy sambil bersandar disandaran pintu kamarnya, Cindy mengambil kopernya dan memasukkan semua baju-bajunya kedalam koper, Cindy akan pergi besok setelah pesta usai, setidaknya dia ingin melihat suaminya disana untuk trakhir kalinya.