
Ziko kini tengah berada di sebuah hotel terbesar yang berada dikota S, akhirnya setelah berfikir cukup panjang semalam, Zikopun memutuskan berangkat ke kota S, untuk mengurus permasalahan yang sedang menimpa anak prusahaan yang berada disana.
Ziko memasuki gedung prusahaan cabang yang berada di kota S, dan ketika masuk, Ziko disambut hormat oleh para karyaman disana, dan orang kepercayaan yang berada di prusahaan itu, karismanya yang memikat mampu membuat para karyawan tersihir dengan ketampananya, bahkan sekertaris manager itupun selalu mencuri pandang pada sang CEO.
"Selamat datang tuan Ziko," sapa Zay sang direktur yang ber tanggung jawab atas prusahaan itu, seng direktur itu menyambut langsung pemilik prusahaan tempatnya bekerja selama ini.
Ziko mengangguk dan berjalan masuk menuju lift untuk naik ke-lantai teratas yang hanya di khusukan dirinya atau sang papah jika berkunjung ke prusahaan.
"Apa yang terjadi, sehingga aku harus kemari." Tanya Ziko pada sang direktur selama berada didalam lift, tidak lupa pula tatapan mematikan yang dilayangkan Ziko pada manager itu, hingga membuat sang direktur itu menelan selavinanya dengan susah payah.
"Ada korupsi besar-besaran tuan, dan ini kelalaian saya sebagai direktur disini, sehingga menager keuangan dengan mudah menipulasi laporan selama ini" Zaypun tertunduk setelah mengatakan semua itu, dia tidak mungkin menyalahkan orang lain karena dirinya juga bertanggung jawab, karena dia direktur disini, mana mungkin dia menyalahkan orang lain, meskipun itu salah mereka, dan bodohnya Zay selalu percaya pada manager keuangan yang tidak lain adalah temannya sendiri, Zay tidak berfikir sejauh itu pada sang teman, karena mereka sangat dekat, siapa sangka kebaikannya justru menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
"Apa perlu saya mengganti anda dengan orang lain!"
Zay hanya diam tanpa berani membantah, dia sendiri tidak bisa membela diri, karena memang dia yang bertanggung jawab atas seluruh yang terjadi diprusahaan, karena dirinya yang ditunjuk sebagai direktur.
"Devan!"
"Iya tuan?"
"Cari tahu tentang manager keuangan itu, bagaimanapun caranya, aku tunggu 1kali 24 jam, semua laporannya harus ada di mejaku besok."
"Baik tuan," Devan segera menyuruh orang kepercayaanya untuk mencari tahu biang masalah yang telah membuat masalah sebesar ini.
Devan akan bersikap profesional dihadapan Ziko jika ada orang luar diantara mereka, apa lagi orang itu bawahan Ziko.
"Dan anda?"
"Iya tuan."
"Rubah semua praturan prusahaan, setiap apapun harus lewat anda terlebih dahulu sebelum tanda tangan dengan orang lain, mengerti!"
"Baik tuan."
"Baik Nona."
"Dan ya sus, nanti kakak akan datang siang hari, biarkan mereka nanti bermain dengan papinya," ujar Cindy dengan senyum lembutnya.
Ya tiga tahun berlalu, banyak sekali perubahan dalam diri Cindy, Cindy menjadi wanita lebut, tidak urakan, dan selalu tersenyum lembut pada siapapun yang ia ajak bicara, hingga sering membuat para pemuda mengartikan lain, bahkan banyak yang mengira jika Cindy masih gadis, karena wajahnya yang sangat imut, namun Cindy sama sekali tidak menghiraukan jika digoda para pemuda, bahkan beberapa pebisnis yang cukup kaya, apa lagi para ibu sosialita lengganan butiknya yang tidak sedikit ingin menjadikan Cindy sebagai menantu.
Cindy segera keluar setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8pagi, walaupun Cindy bosnya, tetap saja dia harus konsisten agar karyawannya juga tidak seenaknya. kedua babysitter itupun menuju kamar anak kembar yang masih lucu-lucunya itu dan mulai memandikannya, setelah sang Nyonya berangkat kerja, karena kedua anak kecil itu sudah masuk playgroup satu bulan lalu.
Ya, Setelah kandungan Cindy berumur 2bulan, ternyata Cindy mengandung anak gemeli, yaitu anak kembar, Cindy sangat bahagia, ternyata dia mempunyai anak kembar, susuatu yang tidak dia sangka, namun juga ada rasa takut, Cindy takut tidak bisa merawat anaknya dengan baik, mengingat dirinya tidak punya siapa-siapa yang akan membantunya, namun setelah mendapat dukungan dari kedua mantan mertua dan kakaknya dia yakin akan mampu membesarkan anak kembarnya.
Cindy menetap di sebuah kota kecil, dan berbekal usaha, sebuah butik sesuai profesinya yang seorang disainer, dari usaha sederhana itu, kini Cindy memiliki anak buah yang cukup banyak, karena usahanya yang maju pesat, apa lagi dia juga berjualan online, jadi yang tidak tahupun menjadi tahu, hingga dari online itu juga banyak yang datang langsung kebutik Cindy.
"Nona kita itu sangat Cantik dan baik hati, laki-laki mana yang tega menerantarkan wanita sebaik itu ya," ujar Lili sang babysitter, kedua babysitter itu kini tengah menunggu anak kembar Cindy yang masih belajar di playgruop, anak kecil yang diberi nama Azzam dan Azzura itu oleh kedua mantan mertuanya.
Ya, selama ini Cindy tahunya mereka sudah berpisah, karena Cindy telah tanda tangan surat percerai-ian sebelum pergi, namun tanpa Cindy tahu, sebenarnya surat itu tidak sampai pada Ziko, karena kedua mertuanya tidak ingin keduanya berpisah, hingga surat cerai itu masih ditangan mamah Nisa, Apa lagi mamah Nisa tahu, kalau Cindy hamil anak putra sambungnya itu.
"Iya, semoga saja Nona kita akan menemukan jodoh yang terbaik, dan menyayangi Azzura dan Azzam," timpal Neni, Babysitter Azzam.
Waktu sehari tidak terasa, tahu-tahu sudah jam4 sore, Cindy tidak jadi pulang malam, karena dia sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, Rencananya Cindy akan pulang cepat dan akan menghabiskan waktu bersama kedua buah hati, beserta kakaknya, Cindy segera bersiap untuk pulang, tidak lupa dia juga menyuruh asistennya untuk menyelesaikan online yang masih berjalan hingga sekarang, karena paket akan diambil jam 5sore oleh kurir.
"Mimi pulang,,," ujar Cindy ketika memasuki rumah dan melihat kedua buah hati berserta kakaknya tengah bermain didekat Sofa, Cindy berjalan kearah dapur dan menyuruh ART itu untuk menyajikan roti yang iya beli ketika jalan pulang, mengingat ada sang kakak yang akan berkunjung.
"baru pulang sayang?" Genta berdiri dan mengacak-acak rambut sang adik yang begitu iya sayangi, bahkan Genta akan selalu meluangkan waktu untuk adik dan dua keponakannya ini, begitupun kedua nenek mereka, tuan dam Nyonya Anderson, karena Genta ingin membalas semua kebaikan kedua orang tua Cindy dengan cara menjaga Cindy.
"kakak apa kabar, bagaiaman urusan kantor, apa kakak sangat sibuk?" Cindy duduk disusul Genta disampingnya.
"seperti biasa, kapan kamu akan menggantikan kakak? Kakak harus kembali ke australia karena disana juga butuk kakak dek."
Ya, Genta juga punya prusahaan disana yang harus dia urus, setiap satu bulan sekali Genta akan terbang kesana, Genta akan menetap jika Cindy sang adik siap memimpin prusahaan keluarganya.
"apa kakak tidak bisa menunggu Azzam besar dulu? Aku tidak suka kak dunia bisnis," Cindy menghindari semua yang berurusan dengan kantor karena tidak ingin mengingat tentang Ziko sang mantan suami.