
"Apa sudah mengobrolnya?" Terlihat Clara baru saja kembali kemeja tempatnya bersama Cindy dan Dika, dia duduk dan melihat keduanya secara bergantian, "ada apa dengan kalian?" Selidik Clara, karena Clara bisa melihat raut kecewa diwajah Dika, dan Clara meyakini jika Dika sudah mendengar apa yang ingin dia dengar.
"Permisi,,, maaf Nona pesananya," terlihat waiter menyajikan makanan dimeja mereka, "silahkan dimakan Nona, tuan" ujar waiter sambil tersenyum.
Clara dan Cindy makan dengan lahapnya, namun tidak dengan Dika, nafsu makannya menguar begitu saja, Dika hanya terus mencuri pandang pada Cindy, yang sama sekali tidak melihat kearahnya.
Tidak lama mereka selesai makan malamnya, dimana hanya Clara dan Cindy yang banyak berbicara, karena Dika hanya sesekali menimpali.
"Cin setelah ini kita akan kemana?" Tanya Clara sambil mengelap mulutnya dengan tissu yang tersedia disana.
"Kita ketaman kota bagaimana?" Bukan Cindy yang menjawab tapi Dika, karena Dika tidak ingin membuang kesempatan bersama Cindy, mumpung mereka bisa bertemu, pikir Dika, meskipun ini untuk trakhir kalinya.
"Maaf Cla aku harus segera pulang, kak Ziko melarangku untuk pulang terlalu malam," karena memang Ziko meminta Cindy untuk tidak terlalu malam pulangnya,
"Ok, ayo kita pulang," Clara berdiri dan bersiap untuk pulang, namun dia berhenti mendengar perkataan Cindy.
"Kamu sama Dika dulu saja Cin, aku bisa pulang sendiri, have fun ya kalian, bay" Cindy berdiri dari duduknya, tanpa menunggu jawaban Clara dan Dika Cindy segera berlalu dari sana dengan sedikit tergesa- Gesa.
Namun bukannya menuju pintu keluar, Cindy membelokkan tubuhnya ke toilet karena dia merasa perutnya mulas sekali, "prasaan tadi aku tidak makan pedas," gumam Cindy.
"Huff akhirnya,,," lega Cindy setelah keluar dari toilet.
Bugh
"Auww" teriak Cindy, tidak lama Cindy kehilangan kesadarannya, Cindy terkulai lemas dalam dekapan pria yang sudah memukul tengkuknya dari belakang.
"Akhirnya kita bisa membawanya, cepat hubungi bos kalau target sudah di tangan," lapor anak buahnya, "akhirnya kita akan mendapat uang yang banyak" terdengar tawa 3orang dikamar itu setelah menurunkan Cindy ditempat tidur king size itu, tidak lama mereka semua keluar dan meninggalkan Cindy di kamar Sendirian, karena mamang tugas mereka hanya menculik Cindy saja.
Selang 1jam bos yang mereka maksudpun datang, dia berjalan ketempat anak buahnya semua berada, "dimana dia?"
"Good,,," sengum iblis terbit diwajahnya.
"
kalau begitu kami perisi Nona," pamit anak buah itu.
"Tunggu," orang itu mengeluarkan beberapa uang dan memberikan pada orang suruhannya itu.
"Terima kasih bos,"
"Pergilah, dan tutup mulut kalian."
Orang itu mengambil ponselnya dan menelfon seseorang, "sekarang tugasmu, lakukan dengan bersih, ingat disini banyak CCTV."
"Ok baby," jawab orang itu dari sebrang sana.
"Mari kita lihat, seberapa hancur dirimu Ziko Anderson," senyum licik itu terbit di kedua bibir musuh Ziko selama ini, nyawa harus dibayar dengan nyawa.
"Sudah Ka, lupakan Cindy, dia sudah menjadi istri orang," setelah kepergian Cindy beberapa saat lalu, Dika menjadi murung, karena harapannya untuk bersama wanita pujaannya hancur, apa lagi tidah ingin bersahabat dengannya.
"Sungguh aku mencitainya Cla, sangat," Dika tidak menyangka jika cintanya selama ini tidak berarti apa-apa bagi Cindy, Dika juga tidak mungkin menyalahkan Cindy, karena memang mereka dulu menjalin hubungan saat masih remaja, hanya saja Dika kecewa dengan dirinya sendiri, mengapa harus begitu dalam mencintai Cindy.
Clara tidak menjawab, dia hanya melihat Dika tanpa bisa berbuat banyak, selain menemani pria itu patah hati, Clara juga berharap semoga Dika akan segera menemukan kebahagian meskipun tidak dengan Cindy ataupun dirinya.
"Aku yakin Ka, kamu akan menemukan wanita yang baik, dan akan mampu membahagiakanmu," Clara tersenyum sambil memegang tangan sahabatnya itu.