Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-69



Tidak lama Cindy sampai dipantai dan diikuti Ziko dibelakangnya, Cindy berjalan cepat menuju kedua buah hatinya yang tengah menangis, "Maafkan Mommy sayang," Cindy mengambil Azzura yang berada dalam gendongan Genta, sedangkan Azzam di gendong oleh babysitternya, "maafkan Cindy kak, karena meninggalkan anak-anak."


"Tidak masalah dek, ayo segera bersiap untuk pulang," Genta sama sekali tidak menatap Ziko, dia melewati Ziko begitu saja, dengan membawa Azzam dalam gendongannya.


"Biarkan aku yang menggendong Azzam," Ziko memberanikan diri untuk menghadang Genta, tanpa takut sedikitpun, karena Ziko merasa dirinya punya hak atas putranya.


Sedangkan Genta menautkan kedua alisnya, "siapa kamu, hingga ingin menggendong Azzam."


"Aku Dadynya," tidak ada keraguan Sedikitpun ketika Ziko mengatakan jika dia adalah Dadynya.


Genta menatap sang adik, tanda dia butuh jawaban, sedangkan Cindy yang mengertipun mengangguk, akhirnya Genta menyerahkan Azzam pada Ziko.


"hati-hati," ujar Genta ketika memberikan Azzam pada Ziko, dan ajaibnya Azzam sama sekali tidak menangis ketika di gendong oleh Ziko.


Kini mereka semua tengah berjalanan pulang, Ziko ikut mobil Genta, karena dia akan tinggal dirumah sang istri, Sedangkan Rena dan Devan pulang ketempat masing-masing, namun sebelum itu Rena sudah menjelaskan segalanya pada Cindy dan meminta maaf, Cindypun merespont baik dan memaafkan Rena.


"aku ingin bicara," ketika semua sudah masuk kedalam rumah, Ziko memberanikan diri menghentikan langkah Genta yang juga akan masuk kedalam rumah itu, Ziko tidak ingin berlarut-larut.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Genta tanpa menoleh.


"Apa kita bisa duduk? Karena banyak yang ingin aku katakan, katena tidak nyaman rasanya jika berdiri."


Tanpa kata, Genta berjalan menuju kursi yang berada didepan rumah itu, dia duduk disana sambil menunggu Ziko ingin mengatakan apa.


"Segeralah, karena aku masih banyak pekerjaan!" Genta kesal karena melihat Ziko yang diam saja  sejak tadi, sedangkan Ziko bingung harus memulai dari mana.


"Aku ingin minta maaf atas semua perbuatanku, selama ini aku sudah salah, sebagai kakaknya Cindy, aku ingin minta izin pada anda, untuk membawa Cindy kembali kekota J, karena bagaimanapun dia masih sah sebagai istriku," Ziko menatap Genta sangat lekat, dia menunggu jawaban Genta.


"Keputusan ada di tangan adikku, namun jika suatu saat kamu melukainya lagi, tanganku sendiri yang akan membunuhmu!" Genta berdiri dan kembali masuk kedalam rumah untuk menemui Cindy, dia ingin bertanya pada adiknya itu, bagaimana kelanjutan rumah tangga sang adik.


Genta pria yang santai, dia tidak pernah memaksakan kehendak, bagi Genta, jika Cindy bahagia maka dia akan ikut bahagia, toh adiknya tau yang baik dan tidak bagi hidupnya, pikir Genta.


"Apa kakak boleh masuk?" Terlihat Cindy tengah menidurkan kedua buah hatinya, ketika Cindy mengangguk, Gentapun masuk, Genta mengelus kepala Cindy dengan sayang, apapun akan Genta lakukan jika itu bisa membuat sang adik bahagia dan melupakan luka hatinya selama ini.


"Apa ini dek?" Genta tidak ingin basa-basi, karena yang dia ajak bicara bukanlah remaja labil, dia langsung pada intinya, "apa kamu yakin akan kembali padanya?"


"Hey,,, kakak tidak masalah sayang, jadi jangan hawatir, jika kamu ingin bersamanya kembali, kakak tidak masalah, jika dia berulah lagi, kembalilah pada kakak, karena kakak akan selalu berada disisimu, jangan pernah berfikir tidak ads tempat pulang."


Genta membawa Cindy kedalam pelukannya, dia tidak akan ikut campur terlalu jauh atas hubungan adiknya, meskipun Genta Kecewa pada Ziko, tapi Genta sadar, adiknya sangat membutuhkan pria itu di sampingnya, meskipun dia bisa memberikan segalanya pada Cindy, tetap saja Ziko punya peran penting dalam hidup adiknya.


Suami dan istri ada kisahnya sendiri, dimana tidak akan bisa di gantikan dengan orang lain, meskipun orang itu sedarah.


Sedangkan dari balik pintu, Ziko melihat dan mendengar percakapan keduannya, "aku berjanji sayang, hidup ini hanya akan untukmu,"  gumam Ziko, Zikopun berlalu untuk kembali keruang tamu, setelah mengikuti Genta tadi kelantai atas, tanpa sepengetahuan pria itu.


"Tuan, anda ingin minum apa?" Terlihat ART disana tengah melintas untuk kembali kedapur, dan membuatkan makan malam untuk seluruh isi rumah, dan tidak sengaja melihat Ziko tengah duduk di ruang tengah sendirian.


"Kopi saja bik"


"Tidak bik, buatkan saja teh hijau," larang Cindy, terlihat Cindy menuruni tangga bersama Genta, dan tidak sengaja mendengar perkataan Ziko, Cindy melarang Ziko minum kopi sejak dulu, karena pria itu memiliki sakit lambung.


Cindy dan Genta berjalan menuju Ziko berada, Genta duduk disusul Cindy di sampingnya, Ziko yang melihatnya merasa kesal, karena Cindy tidak duduk disampingnya.


"kenapa?" tanya Cindy, ketika melihat raut wajah kesal sang suami.


"tidak!"


Cindy hanya mangguk-mangguk tanda mengerti.


"Setelah makan malam Aku akan pulang, aku titip Cindy dan kedua keponakanku, ingat janjimu padaku, jika kamu berulah lagi, habis kamu ditanganku." Ujar Genta pada Ziko dengan disertai tatapan mematikannya, dimana itu membuat Ziko menelan selavinanya dengan kasar.


"Sungguh tatapan yang menakutkan, aku seorang mafia, tapi mengapa tatapan matanya lebih seram dariku" batin Ziko, dengan tatapan yang juga tidak kalah tajamnya dengan Genta.


Cindy yang menyadari itu hanya menghebuskan nafasnya panjang, sungguh dia ingin sekali rasanya menggeplak keduanya secara bergantian, namun justru Cindy memilih beranjak untuk membantu bibik didapur, itu lebih baik, pikir Cindy.


"Sayang mau kemana?" Ziko ikut berdiri ketika melihat sang istri juga berdiri, mana mau Ziko ditinggal berdua dengan Genta.


"Mau masak makan malam, kakak duduk saja dulu, nanti kalau sudah aku panggil untuk makan malam." Cindy kembali berjalan, tanpa menghiraukan Panggilan Ziko.


"Lebih baik aku ikut istriku saja," batin Ziko, Zikopun berdiri dan berjalan menyusul sang istri, sedangkan Genta yang melihat itu hanya menggeleng, Gentapun beranjak dan pergi kekamarnya untuk tidur.