Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-54



Drezttt


Ponsel Cindy berdering, tertera disana nama kakak sepupunya Genta, Cindy mengeser ikon berwarna hujau itu dan mendekatkan bendah pipik itu ke daun telinganya.


"iya kak?" tanya Cindy setelah telfonnya tersambung dengan Genta, sang kakak.


"dek kamu pulang sekareng!" terdengar suara panik Genta dari balik telfon itu.


"ada apa kak? Jangan membuatku takut, mamah, papah baik-baik saja kan kak?" dari suara Genta, Cindy sudah bisa menebak jika ada sesuatu yang terjadi.


"pulang dek!" Genta langsung menutup telfonnya, sedangkan Cindy semakin panik, dia segera menggeret kopernya keluar, Cindy tidak pamit pada ARTnya, dia langsung pergi begitu saja, selain dalam keadaan panik dia juga tidak ingin saja harus berat pergi ketika melihat ARTnya bersedih, bagaimanapun mereka sangat dekat selama ini.


Kini Cindy sedang berada didalam taksi, butuh 5jam perjalanan untuk bisa sampai kerumahnya dikota B, Cindy melihat jalanan kota yang sudah mulai sepi.


Sedangkan dihotel DM Ziko terus melihat kesana kemari mencari keberadaan Cindy, 15 menit lagi acara akan dimulai, namun Cindy sama sekali tidak terlihat disana, "hey kamu, kemarilah," panggil Ziko pada Dila yang melintas didekat Sang CEO.


"saya pak?" tanya Dila sambil melihat kekiri dan kekanan, siapa tau bukan dirinya pikir Dila.


"Dimana Cindy?" tanpa menjawab pertanyaan Dila, Ziko langsung bertanya pada intinya, karena Ziko tidak suka basa-basi, apa lagi pada karyawannya kecuali Devan dan Jay.


"sudah pulang pak, tadi pamit pada saya dan Elvin," jelas Dila pada Ziko.


"pulang!" ulang Ziko lagi, dan diangguki oleh Dila.


"sial!" Zikopun berlalu mencari keberadaan Devan, dan menyuruh Devan untuk menuntaskan acaranya, karena moodnya sedang buruk setelah tau istrinya tidak berada dipesta itu.


"tidak mau! ini kan acaramu, kenapa harus aku yang mengurusnya," tolok Devan dengan tegas, setelah mendapat perintah dari Ziko, Devan menatap Jay agar mau membantunya, namun Jay malah membuang wajahnya karena Jay tidak ingin terlibat diantara keduanya itu, apa lagi dia ada urusan yang lebih penting dari ini.


"sialan, awas kamu Jay, bukan aku kalau tidak bisa membalikkan keadaan" umpat Devan dalam hatinya.


"ok kalau begitu bo-"


"auww perutku kenapa sakit sekali, sebentar ya Zik, Jay, aku akan ketoilet dulu, sungguh rasanya mulas sekali perutku ini," potong Devan ketika melihat Jay akan berlalu dari sana, Devan pun langsung meninggalkan kedua sahabatnya itu dengan sedikit berlari, Devan tersenyum penuh kemenangan karena berhasil lolos dari keduanya.


Jay menggeram melihat akal licik Devan, hanya Jay yang tahu akal bulus Devan, mau tidak mau akhirnya Jay yang mengurus semuanya, sedangkan Ziko pamit pulang duluan pada Jay, dia akan kembali ke apartementnya, tidak lupa Ziko juga pamit pada Rena.


waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, Cindy kini sudah sampai dihalaman rumahnya, disana hanya terlihat security yang menjaga ruamah, mengingat ini memang masih tengah malam.


"iya mang, mamah sama papah ada?" tanya Cindy sambil berjalan masuk menuju pintu utama, halaman yang luas lumayan jauh untuk berjalan masuk.


"Tuan dan Nyonya sedang dirumah sakit Nona"


"apa yang terjadi Mang? Siapa yang sakit," Cindy menghentikan langkahnya yang baru separuh jalan, dia melihat penjaga itu dengan alis menyatu.


Belum juga mang asep menjawab, terlihat mobil memasuki rumah yang cukup besar itu, Cindypun menoleh dan dia segera menghampiri mobil itu dengan setengah berlari setelah tahu siapa orangnya.


"kak apa yang terjadi, kenapa mamah sama papah berada dirumah sakit?" tanya Cindy dengan derai air mata yang membanjiri kedua pipinya.


"tenanglah dek, ayo kita kerumah sakit sekarang, maafkan kakak, kakak tidak bisa menjelaskan disini," Genta menuntun Cindy agar masuk kedalam mobil, tidak lama Gentapun menjalankan mobilnya untuk menuju rumah sakit.


Keduanya tidak ada yang berbicara, Cindy dengan pikiran yang kacau, dia terus berfikir apa yang terjadi, sedangkan Genta tidak ingin memberi tahunya.


selang setengah jam mereka berdua sampai disebuah rumah sakit yang cukup besar, Genta menggenggam tangan Cindy agar ikut dengannya, Cindy hanya menurut kemana kakaknya akan membawa dirinya.


Cindy diam mematung didepan sebuah ruangan, tiba-tiba Cindy terduduk dilantai dengan tangis yang sangat memilukan, tanpa bertanya Lagi Cindy sudah tau keadaan kedua orang tuanya sekarang, seluruh tubuh kedua orang tuanya dipenuhi alat-alat, yang Cindy sendiri tidak tahu fungsinya.


"kak apa yang terjadi kak,,," lirih Cindy dengan suara lirihnya yang cukup menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


"papah dan mamah kecelakaan dek, saat akan mengunjungimu kekota J, polisi sedang menyelidiki kasus ini dek," Genta membawa Cindy kedalam pelukannya, sungguh Genta tidak Tega melihat Cindy yang seperti ini, Genta tidak bisa berbuat banyak, yang bisa dia lakukan hanya memberikan bahunya pada sang adik.


"hik hik hik,,, kenapa tidak Cindy saja kak yang berada disana, kenapa harus mereka," suara Cindy tenggelam dalam isak tangisnya, "kenapa kak, kenapa semua ini harus terjadi sama Cindy, Apa salah Cindy kak?" racau Cindy dengan keadaan yang sudah tidak bisa dibendung lagi, Cindy terus menangis hingga suaranya serak, bahkan Cindy terus memukuli lantai itu demi mengurangi sesak didadanya.


"sabar dek, semuanya akan baik-baik saja, ada kakak disini yang akan menemanimu," Genta terus mengelus kepala Cindy


Tinnn,,,, terdengas suara monitor yang berbunyi dari ruangan Kedua orang tua Cindy, "kak ada apa, apa yang terjadi," panik Cindy, Cindy berdiri dan mengikuti ketiga dokter yang memasuki ruangan kedua orang tuanya.


"dok ada apa ini?" tanya Genta yang juga ikut merasa panik, karena banyak sekali dokter dan prawat yang masuk keruangan Om dan Tantenya.


"tenang tuan kami akan memeriksanya."


Genta berjalan kesana kemari, sedangkan Cindy terus berdiri dan melihat kedua orang tuanya yang sedang diperiksa oleh dokter dari balik kaca pintu itu, Cindy menangis dalam diam melihat keadaan kedua orang tuanya.


"mah tolong jangan seperti ini, bangun mah, ada Cindy disini" gumam Cindy dalam hatinya, Cindy sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri, dia terus melihat dokter dan prawat yang masih memeriksa keadaan orang tuanya.