
"Kenapa kakak terus melihatku sejak tadi, apa ada yang aneh denganku" tanya Cindy dengan Heran, suaminya sejak tadi tidak usai memperhatikan dirinya, dari Cindy keluar kamar mandi hingga usai mengeringkan rambut, Cindypun melihat dirinya dicermin, sepertinya tidak ada yang aneh, pikir Cindy
"Kamu selalu cantik sayang, entah kenapa setiap melihatmu seperti ini, cintaku seperti bertambah, bahkan berlipat-lipat"
Ya, Ziko selalu jatuh Cinta pada setiap tingkah istrinya, itu sebabnya Ziko mudah jatuh cinta pada Cindy saat itu, walaupun hanya sebentar bersama Cindy, tidak bisa dipungkiri jika Cindy memiliki keunikan sendiri dalam pandangan Ziko, entah apa itu.
"Kakak mau apa?" Cindy bertanya saat melihat Ziko mendekatinya, tiba-tiba Ziko melingkarkan tangannya diperut sang istri.
"Sejak kita bertemu, kita belum melakukannya lho sayang, kakak sangat Rindu hal panas kita di-masalalu" bisik Ziko dengan lirihnya, hingga membuat Cindy meremang, Cindy melepas belitan sang suami.
"Kita nikah dulu lagi saja ya kak, walaupun hanya ijab, setidaknya aku tidak ragu saat akan berhubungan, karena kita pernah berpisah lama sebelumnya" lirih Cindy, yang masih bisa didengar jelas oleh Ziko.
Ya, itulah yang membuat Cindy selama ini selalu menghindari suaminya, karena dia merasa mereka sudah berpisah, sebenarnya Cindy ragu meminta untuk ijab kembali, namun demi memantapkan hatinya dia memberanikah diri untuk kembali melakukan ijab kobul.
"Dengan senang hati sayang, ayo" Ziko langsung membawa Cindy kebawah untuk menemui kedua orang tuanya.
"Kakak apa yang kakak lakukan, setidaknya kita rencanakan dulu, buat apa menemui mamah sama papah" Cindy berusaha melepas cekalan tangan suaminya, namun usahanya gagal karena Ziko sangat kuat memegangnya, meskipun tidak menyakiti tangan sang istri.
"Kita lihat saja nanti sayang," tidak lama Ziko sampai ditaman belakang, dimana kedua orang tua Ziko tengah bersantai.
"Mah, pah, aku ingin bicara," terlihat kedua orang tua Ziko langsung menoleh setelah mendengar suara putranya.
"Ada apa anak muda?" Bukan mamah Nisa yang bertanya, melainkan Tuan Anderson, sedangkan mamah Nisa menunggu, apa yang ingin putranya ini bicarakan.
"Siapkan sore ini juga, aku akan ijab kembali dengan istriku," tanpa basa-basi Ziko langsung pada intinya.
"Apa kamu sudah gila, meminta ijab kembali seperti meminta krupuk, ada persiapan yang harus kita lakukan Ziko!" Geram tuan Anderson, anaknya ini selalu saja tidak sabaran jika butuh sesuatu.
"Gunakan kekuasaanmu orang tua."
"Kak!"
"Apa sih sayang, benarkan, aku hanya meminta ijab, bukan meminta bulan dan bintang, apa susahnya, lagian dia punya kuasa untuk melakukan hal itu" tunjuk Ziko pada tuan Anderson dengan dagunya.
"Kamu juga punya kuasa, mengapa meminta papah yang melakukan semua ini, lakukan saja sendiri"
"Kan anda bapaknya."
Walaupun Ziko dan tuan Anderson saling berdebat, namun keduanya memiliki rasa sayang yang tinggi satu sama lain, dan perdebatan ini bentuk dari kedekatan mereka, lebih tepatnya cara berintraksinya.
"Sudah, apa masih mau lanjut, dan kamu Ziko, apa tidak bisa duduk dulu dan bicara baik-baik," tegur mamah Nisa, dimana itu langsung membuat Ziko duduk dihadapan kedua orang tuanya, disusul Cindy disampingnya.
"Apa benar kalian akan ijab kembali" tanya mamah Nisa sambil memandang kedua insan dihadapannya ini secara bergantian.
"Iya mah, agar Cindy mantap untuk menjalani rumah tangga ini, karena bagaimanapun kami sudah lama berpisah"
"Kalau aku agar segera mantap-mantap denganmu sayang, itu sebabnya aku ingin ijabnya hari ini juga," batin Ziko tanpa berani mengutarakan langsung.
"Kalau begitu, satu minggu lagi kalian akan melakukan ijab kembali" putus mamah Nisa.
"Tidak! Ziko inginnya sore ini juga, titik" sela Ziko tanpa mau diganggu gugat, "minta bantuan papah"
Mamah Nisa langsung memandang tuan Anderson, tidak lama dia mendapat anggukan dari suaminya, mamah Nisapun menghembuskan nafasnya panjang, "baiklah, sekarang kalian bersiap, biar papah yang mengurus semua ini."
"Mamah yang terbaik, terima kasih mah" puji Ziko, Ziko beranjak untuk keluar mencari sesuatu bersama sang istri.
"Papah tidak?"
"Tidak!"
"Anak ini" geram tuan Anderson, yang melihat Ziko sudah menjauh dari mereka.
"Apa papah yakin akan melakukan hari ini juga?" Ulang mamah Nisa, karena ini sudah jam 1siang.
"Tentu saja sayang, apa mamah meragukan kemampuan papah?" Tuan Anderson mendekati mamah Nisa.
"Tentu saja tidak, papah memang yang terbaik," usai mengatakan itu, mamah Nisa segera beranjak dan ikut masuk, bisa panjang urusannya jika membiarkan hal ini terjadi.
Sedangkan tuan Anderson tertawa terbahak-bahak, melihat istrinya yang sengaja menghidar, tuan Anderson mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang, tidak lama telfon itupun usai, dan tuan Anderson ikut masuk menyusul sang istri, yang entah sudah dimana.
"Permisi,,,"