
Cindy keluar dari toilet dan langsung memberikan hasilnya pada sang dokter, dia bahkan gemetar saat menyerahkan hasilnya.
"Sudah saya duga, selamat ya Nyonya, anda akan saya rujuk ke dokter kandungan supaya bisa di periksa lebih lanjut lagi."
"Baik dok terima kasih," Cindy diantar ke dokter kandungan oleh Perawat, sepanjang jalan dia membayangkan reaksi suaminya, suaminya pasti akan sangat bahagia, mungkin saja suaminya akan meloncat loncat, Cindy tersenyum sendiri membayangkan hal itu.
"Silahkan Nyonya, langsung masuk saja, kebetulan pasien dokter Kenny sudah habis," sang perawat membukakan pintu untuk Cindy, setelah mendapat persetujuan dari dokter obgyn.
"selamat siang nyonya Anderson."
"pagi dok."
"kita langsung saja ya nyonya, Silahkan berbaring Nyonya disana," perawat membantu Cindy untuk berbaring.
Cindypun berbaring dan perawatpun memberikan Gel pada perut Cindy, "lihat ini Nyonya, janin anda sehat, dan kandungannya sekarang berjalan 4minggu nyonya," terang dokter obgyn itu. "ini kemungkinan kembar nyonya kalau dilihat dari kantonf bayinya, karena ada dua, "bisa dipastikan setelah 2bulan Nyonya" jelas sang dokter itu lagi.
Cindy meneteskan airmatanya dia merasa bersyukur atas apa yang dia dapatkan hari ini. "terima kasih yaallah" batin Cindy
"Ingat Nyonya, kehamilan yang baru berkembang tidak boleh melakukan aktifitas terlalu berat, dan jangan kecapek,an ya Nyonya," pesan Dokter itu pada Cindy, Cindy mengangguk sangat antusias, "selamat ya Nyonya" lanjut sang dokter.
"Baik dok, terima kasih" Cindy segera keluar dari ruangan sang dokter, kini tujuannya adalah kantor Ziko, suaminya, rasanya Cindy sudah tidak sabar membagi kebahagian bersama suaminya, namun Cindy tidak lupa pula juga menebus vitamin yang diresepi oleh dokter.
Sedangkan dikantor Ziko, ada seorang wanita yang tengah menyamar agar bisa masuk ke prusahaan Anderson grup, dia meminjam id pegawai disana, setelah membayar cukup mahal tentunya, kini Jesica tengah berjalan menuju ruangan Ziko.
"Pagi sayang,,," sapa Jesica pada Ziko yang tengah sibuk dengan berkas ditangannya.
ZIko langsung mengangkat wajahnya dan memberi tatapan menghunus setelah tahu siapa wanita didepannya ini, berani sekali dia kemari, pikir Ziko
"Tunggu sayang, aku ada sesuatu yang penting, ini kejutan untukmu."
"Saya bilang keluar!" Bentak Ziko lebih keras lagi dari sebelumnya.
"Ok, tapi terima ini dulu," Jesica berjalan mendekati Ziko dan berdiri disebelah Ziko, yang berada dikursi kebesarannya, sambil menyerahkan amplop ditangannya, "satu hal lagi, aku tunggu malam ini di apartement kita dulu," bisik Jesica di telinga Ziko, Jesica dengan berani mencium pipi Ziko dan berlalu dari sana, bahkan dia tidak pedulu tatapan tajam yang seperti belati itu.
Jesica keluar dengan senyum kemengannya, kali ini Ziko akan kembali padanya, Jesica yakin itu, "kamu hanya akan kembali padaku sayang," gumam Jesica.
"Aku bahkan tidak peduli apa yang ingin dia berikan padaku," tanpa ada niatan membukanya Ziko langsung membuang begitu saja amplop yang Jesica berikan.
"Siang bos, tadi ada nenek lampir didepan, untuk apa?" Devan masuk kedalam ruangan Ziko dan duduk begitu saja dihadapan bosnya.
Ziko mengedihkan bahunya, tidak usah membahas yang tidak penting, dia hanya mengatarkan itu" tunjuk Ziko pada tong sampah didekat meja Ziko.
"Apa itu?"
"Entah, tidak penting juga," jawab Ziko, Ziko masih fokus dengan berkas ditangannya, karena dia ingin segera pulang menemui sang istri, meskipun dia bosnya, tapi kerja tetaplah kerja, dia harus bertanggung jawab.
Devan mengambil berkasnya, sebelum membuka dia membolak balikkan amplop itu, "siapa tahu isinya uang," kelakar Devan, akhirnya Devan membukanya.
"Astaga!!" Teriak Devan, "ini tidak benar" Devan langsung memasukkan kembali amplop itu dan mengembalikannya ketong sampah.
"Apa?"
"Lupakan," Devan mengambil kembali amplop itu dan ingin membawanya keluar, biar Ziko tidak melihat, pikir Devan, tapi naas amplopnya keburu direbut oleh Ziko, karena Ziko penasaran setelah mendengar teriakan Devan.