Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-21



"lepaskan tanganku!! aku bisa jalan sendiri!" teriak Jesica, " kurang ajar sekali Ziko memperlakukan aku seperti ini" umpat Jesica, Jesica memperbaiki bajunya yang sedikit berantakan, "sepertinya aku harus mencari cara lain, agar Ziko kembali lagi padaku" Jesicapun berlalu dari sana dengan amarah yang membuncak, dia tidak terima di perlakukan seperti ini, apa lagi dulu dia selalu di banggakan oleh Ziko, tapi lihat sekarang, dia menyeretnya keluar dari ruangannya.


"hey kenapa kamu disini di jam kerja, apa bosmu tidak marah?" Tesha heran melihat Cindy yang masuk ketempat kerjanya dengan wajah lesu.


"biarkan saja, dia tidak akan tahu kalau aku kesini, kan dia sedang bermesraan dengan kekasihnya,"


Ujar Cindy dengan raut wajah cemberutnya.


"apa kekasih tuan Ziko disini, Apa mungkin wanita Cantik tadi yang hampir terpleset gara gara aku ya" gumam Tesha.


"apa?" tanya Cindy yang melihat Tesha seperti bergumam.


"tidak! lupakan, ngomong ngomong kenapa kamu sewot."


"siapa yang sewot, aku hanya lagi malas ngapa-ngapain, eh pesananku sudah kamu antar keruanga pak Ziko?"


"tuh lagi disiapkan Dila," tunjuk Tesha pada Dila yang sedang membuatkan minumannya.


"sini biar ku bantu" Cindy berjalan menghampiri Dila, "Dil ambilkan nampan itu saja, yang ini sedikit kotor," bohong Cindy, ketika Dila mengambil nampan yang lain, Cindy segera menambai garam pada minuman keduanya, "makan tuh garam, asin asin ndah" Cindy segera mengaduknya dan pura pura bersiul sambil memainkan kukunya.


"aku apa kamu yang mengantarnya?" tanya Dila, pada Cindy, Dila pikir Cindy berniat mengambil minuman sang bos, itu sebabnya dia keruanga OB, pikir Dila.


"tidak kamu saja, aku kesini hanya untuk berkunjung sebentar," mana mau Cindy mengantar minum untuk sang suami yang jelas sedang bermesraan dengan kekasihnya, "dari pada makan hati, lebih baik aku disini," batin Cindy, Cindy membuat minuman dan duduk bersama Tesha di sana.


tidak lama Dila sampai di ruangan Ziko, "permisi pak, saya mengantarkan minum."


"saya tidak pesan minum, bawa pergi!"


"tapi kata bu Cindy an-"


"apa ini dari Cindy?"


"bukan pak, tapi bu Cindy yang menyuruh saya mengantar minum kemari, atas pesan bu Jesica."


"taruh di meja, dan yang 1itu taru di meja sofa."


"baik tuan, saya permisi."


"tunggu dulu, suruh Cindy keruangan saya."


"baik tuan, ada lagi?" Ziko hanya mengibaskan tangannya tanda tidak ada yang iya perlukan lagi, Dilapun segera berlalu dari sana untuk menyampaikan pesan sang CEO.


"Cin, kamu disuruh keruangan Pak bos."


"aku?" tunjuk Cindy pada wajahnya sendiri, "untuk apa, kan minumannya sudah di antar kesana."


"mana ku tahu, cepat sana, atau kamu akan kena marah nanti kalau lama," Dila dan Tesha mendorong Cindy untuk segera berlalu dari sana.


"is kalian ini, sudah sudah hentikan, aku bisa kesana sendiri," Cindy berjalan menuju ruangannya sendiri, dan tidak berniat keruangan sang suami, "sebaiknya aku disini saja, dari pada disana makan hati" gumam Cindy sambil membuka laptonya kembali, untuk menyelesaikan pekerjannya.


"dia bahkan tidak kesini, lihatlah justru dia sibuk dengan laptopnya," kesal Ziko, baru kali ini ada yang mengabaykan perintahnya, dan itu istrinya sendiri, Ziko segera menelfon Cindy lewat telfon kantornya, "kesini sekarang atau aku seret!" Ziko langsung menutup telfonnya tanpa menunggu jawaban Cindy.


sedangkan Ziko melihat kelakuan Cindy justru lucu sendiri, "untuk apa dia merias wajahnya, apa dia akan pergi kencan, tapi mana mungkin, ini kan masih jam kerja," Ziko melihat jam di pergelangan tangannya.


Tok tok tok,,, "permisi pak."


"hem masuk!" terlihat disana Cindy memasuki ruangan Ziko, Ziko melihat penampilan Cindy dari atas sampai bawah, sedangkan Cindy justru celingak celinguk mencari keberadaan Jesica, "apa yang kamu cari!" Cindy yang terkejut langsung menegakkan tubuhnya.


"ah tidak pak hanya melihat lihat saja," bohong Cindy, "ada apa ya pak, bapak memanggil saya, apa ada yang anda butuhkan?"


"duduk disana," tunjuk Ziko pada sofa yang ada diruangannya, Cindy melihat kearah yang di tunjuk Ziko, dan dia melihat jus yang tadi, wajahnya langsung pias.


"emm tidak perlu pak disini saja, jika tidak ada yang bapak perlukan saya akan kembali keruangan saya, karena masih banyak yang harus saya selesaikan," Cindy berbalik dan menuju pintu untuk keluar.


"duduk atau tidak akan bisa keluar dari ruangan ini!!" ancan Ziko, Cindy langsung menghembuskan nafasnya panjang, mau tidak mau Cindypun berbalik dan berjalan menuju sofa untuk duduk, Zikopun berdiri dan berjalan menghampiri Cindy yang sudah duduk di sofa, Ziko tidak lupa membawa kopi yang di bawakan OB tadi, "apa kamu yang menyuruh OB untuk bawakan aku kopi?"


"bukan, aku hanya di suruh bu Jesica dan aku meminta tolong pada OB untuk membawakan kemari."


"Emmm, terima kasih," Cindy melongo mendengar ucapan terima kasih dari Ziko suaminya, apa dia salah dengar pikir Cindy, sedangkan Ziko langsung meminum kopinya, tiba tiba Ziko langsung menyemburkan kopinya yang terasa sangat asin, "apa apaan ini!"


"ada apa?"


"kamu bilang ada apa, apa kamu sengaja mengerjaiku!!"


"tidak! Mana berani," bohong Cindy, Cindy tahu betul apa yang membuat Ziko matah.


Ziko segera berjalan menuju mejanya dan menelfon Devan, "suruh OB yang mengantar minum kesini tadi, untuk keruanganku sekarang!!"


"tunggu kak! kakak mau apa, kenapa OB itu disuruh kemari?" panik Cindy, Cindy tidak ingin temannya terkena masalah akibat dirinya, dia sudah membuat orang orang di masalalu menderita, mana mau dia mengulang kesalahannya lagi.


"tentu saja untuk memecatnya, berani sekali dia memberiku meniman asin seperti ini," berang Ziko.


"kak jangan,,," Tanpa sadar Cindy memegang tangan Ziko, Ziko yang melihat kepanikan diwajah Cindy sudah bisa menebak siapa yang mengerjainya.


"mari kita bermain kucing kecil," batin Ziko dengan senyum liciknya, "tidak bisa! Aku akan tetap memecatnya, karena dia sudah teledor!"


"kak se-sebenarnya i-itu, em apa itu anu."


"Aem aem apa? Yang jelas kalau bicara," Ziko mati matian menahan senyumnya agar tidak kelepasan tertawa, dia ingin tahu sejauh mana Cindy berani padanya.


"kak, Cindy minta maaf sebelumnya, sebenarnya,,, em, itu, Cindy yang memasukkan garam kedalam minuman kalian," ujar Cindy dengan suara yang sangat pelan, namun tetap saja Ziko bisa mendengarnya, melihat mereka yang berdiri begitu dekat.


"apa? Kurang jelas, keraskan sedikit suaramu itu."


"aku yang sudah memasuki garam kedalam minum kakak dan kekasih kakak." ujar Cindy dengan suara yang cukup keras, meskipun tidak teriak.


"Nih, habiskan," Ziko memberi Orange juice itu pada Cindy, agar Cindy meminumnya, biarkan saja, karena Cindy sudah berani mengerjai dirinya.


"gak!" Cindy langsung menolaknya, mana mungkin Cindy meminumnya, yang jelas jelas sangat asin itu.