
Euhhhh, lenguh Cindy, Cindy perlahan membuka kedua matanya, setelah matanya terbuka sempurna dia pun melihat sekeliling ruangan, "dimana ini?" Gumam Cindy, Cindy berusaha mengingat-ingat kejadian tadi, dimana tadi ada yang memukul tengkuknya dari belakang.
"Astaga,,,!" Pekik Cindy setelah mengingat semuanya, Cindy langsung melompat turun dari tempat tidur yang saat ini iya tiduri, dia melihat seluruh tubuhnya yang masih menggunakan pakaian lengkapnya.
"Bajuku masih utuh, dan aku tidak merasakan apapun, lalu apa yang terjadi padaku" gumam Cindy lagi, dengan suara lirihnya, dia mencari keberadaan tasnya dan mengecek seluruh isinya, hasilnya sama, tidak ada yang hilang, Cindy melihat ponselnya dan banyak sekali panggilan dan pesan dari suaminya.
"Ya tuhan,,, apa yang harus aku katakan pada kak Ziko, kalau aku cerita kan lucu, orang tidak terjadi apa-apa padaku," monolog Cindy, Cindy bergegas keluar dari kamar hotel itu dan segera berjalan menuju parkiran, karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tanpa Cindy sadari ketika keluar kamar ada seseorang yang memotret dirinya dan mengirim gambar itu pada seseorang.
"Sial!!! Kemana dia sampai jam segini belum pulang!" Ziko terus berjalan kesana kemari menunggu Cindy pulang, Ziko sudah menyuruh sebagian anak buahnya untuk mencari Cindy, namun tetap saja tidak membuahkan hasil, dia hanya mendapat laporan jika Cindy trakhir kali masuk ke resto bintang lima yang tidak jauh dari rumahnya.
"Ini yang aku takuti, musuhku dimana-mana, bagaimana jika ada yang berubat jahat pada istriku," Ziko terus berusaha menelfon Cindy, namun sayu-sayu dia mendengar suara mobil berhenti didepan rumahnya, Ziko langsung bergegas keluar setelah mendengar suara mobil sang istri.
"Sayang astaga, dari mana saja kamu" Ziko langsung memeluk Cindy setelah dia melihat seluruh tibuh istrinya tidak ada luka atau yang lainnya, "aku mencemaskanmu sayang, bahkan aku menelfon tapi tidak diangkat," Terlihat jelas wajah cemas suaminya disana. Entah kenapa Cindy sangat merasa buruk melihat wajah cemas suaminya.
"Maafkan aku kak, aku tidak dengar suara ponsel berdering tadi, karena aku lagi asyik sama Clara," bohong Cindy, Cindy tidah tahu harus memberi tahu suaminya dengan cara apa, dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi, tau tau dia sudah berada disebuah kamar, bahkan Cindy yakin tidak ada yang melecehkan dirinya.
"Maafkan aku kak," batin Cindy.
"Sudah lupakan tidak masalah, yang terpenting kamu baik baik saja sekarang sayang, ayo kita istirahat," Ziko membawa Cindy masuk kedalam kamarnya smabil memeluk pundak sang istri, tidak lupa pula dia selalu mencium punggung tangan istrinya, Ziko bersyukur istrinya baik-baik saja, bahkan dia berfikir sampai mana-mana tadi, kerumah Clara namun Clara juga belum pulang, itu tandanya mereka masih bersama, pikir Ziko.
Cindy yang merasakan perlakuan hangat suaminya merasa tidak enak, dia merasa bersalah, andai saja dia tidak menolak keinginan suaminya yang menyuruh orang menjaganya, ini tidak akan terjadi, pikir Cindy.
Waktu bergulir begitu cepat tidak terasa sudah 1bulan berlalu.
semenjak kejadian itu Cindy tidak pernah keluar rumah, dia selalu pulang pergi bersama Ziko, tentu saja Ziko sangat senang melihat istrinya yang manja padanya, dan selalu menurut padanya.
"kak hari ini aku tidak bekerja ya, rasanya aku malas bekerja kak," rengek Cindy, Cindy merasa badannya sakit semua, entah kenapa tubuhnya merasa lemas, padahal biasanya tidak seperti ini, meskipun setiap malam mereka malakukan kegiatan panas.
"Baiklah, jika butuh sesuatu telfon kakak ya, apa perlu kita kedokter?" Ziko duduk disisi istrinya yang tengah berbaring, Ziko memeriksa suhu tubuh Cindy tapi tidak panas.
"Tidak usah kak, tidak perlu kedokter, aku hanya malas ngapa-ngapain saja," Cindy bangun dari tidurnya dan kepalanya dipindah pada pangkuan sang suami, Cindy ingin Ziko mengelus kepalanya, Ziko yang mengertipun menuruti keinginan Cindy.
"Apa kakak dirumah saja sayang, sepertinya kamu tidak ingin kakak tinggal," goda Ziko.
"Tidak!" Tolak Cindy dengan tegas, Cindy yakin jika suaminya dirumah dia tidak akan istirahat, malah akan semakin lelah.
ZIko yang mendengar penolakan sang istri bukannya marah, justru Ziko tertawa terbahak-bahak, entah kenapa menjaili istrinya menjadi kesenangan tersendiri untuk Ziko, karena Ziko paling suka ketika istrinya cemberut.
"Iya kak hati-hati," Cindy bangun dari pangkuan suaminya dan menyalami Ziko, tidak lupa pula dia memberi kecupan sayang di kedua pipi Ziko, dimana itu dibalas ciuman panas dari Ziko di bibir sang istri.
"Eumm, sudah kak," lenguh Cindy, "nanti kakak telat," Cindy mendorong tubuh Ziko agar menghentikan ciumannya, Cindy takut kebablasan.
"Ok baby, kakak berangkat dulu," Zikopun berlalu dari sana, bahkan senyumnyapun tidak surut dari wajah Ziko.
Setengah jam berlalu, Ziko sudah sampai dikantornya, seperti biasa, dia masuk dengan wibawanya dan wajah tegasnya, berbeda ketika dirumah, akan selalu manis dan humor dengan istrinya.
"ada apa pak tua kesini," ketika Ziko masuk kedalam ruangannya, dia melihat sang ayah yang sudah berada diruangannya sedang membaca koran.
"Apa jam kantor sudah dirubah jadi jam 9 masuknya?" Bukan menjawab tuan Anderson justru membicarakan hal lain, sebenarnya Anderson tidak masalah, karena dia mendapat laporan dari ART Ziko jika Cindy sedang mode tidak ingin ditinggal, hanya saja Anderson ingin saja menggoda sang anak, karena lama dia tidak bercengkrama dengan anaknya.
Memang ya, ngajak bicara ala tuan Anderson kayak ngajak berantem, namanya saja sama-sama kaku, jadi susah nyairin suasananya.
"Ada apa kesini?"
"Mamah Nisa meminta kalian main kerumah, sekalian papah mau melihat keadaan kantor," tanpa menjawab Ziko langsung menuju kemeja kerjanya dan memberikan maps berisi laporan kantor pada papahnya.
"Kalau sudah segeralah pulang, aku mau bekerja."
"Apa kamu mengusirku anak muda?"
"Tidak," jawab Ziko dengan tegas, mana berani dirinya mengusir pemilik prusahaan.
My wife
"Kak aku kangen..."
Ziko yang mendapat pesan dari istrinya tersenyum merekah, dan tuan Anderson bisa melihat itu, tuan Anderson yakin itu pasti dari sang menantu.
"Ehemm, kenapa menatapku" ketika Ziko tersadar papahnya memperhatikan dirinya dia langsung menetralkan kembali expresinya.
Tuan Anderson tidak menjawab, dia hanya terkekeh melihat tingkah anaknya, sungguh dia bersyukur Cindy hadir dalam hidup putranya, karena setelah menikah dengan Cindy Ziko banya berubah, bahkan setiap weekend Ziko selalu berkunjung kemansion utama.
"pagi"