Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-49



Selang setengah jam Cindy sudah sampai dirumahnya, dia membersihkan tubuhnya setelah seharian keluar, setelah itu Cindy kedapur menemui bibik yang sedang memasak makan malam.


"Bik, biar aku yang masak, aku ingin memasak untuk kak Ziko," pinta Cindy setelah sampai di dapur.


"Istirahat saja Nyonya, anda terlihat lelah," ART itupun bisa melihat dengan jelas wajah pucat nyonya mudanya, "ini Nyonya ada buah, makanlah."


Terima kasih bik," Cindy menerima buah itu, awalnya dia enggan, tapi ketika mengingat ada janin yang harus iya jaga, akhirnya mau tidak mau Cindy memakannya meski dengan bersusah payah, karena dia ingin janinya tetap sehat, Cindypun berlalu membawa buah itu keruangan tengah sambil menunggu suaminya pulang.


Dentingan jam terdengar begitu jelas ditelinga Cindy, dan waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, karena malam yang sunyi bisa dengan jelas suara apapun terdengar ditelinganya, setelah bibik menyuruhnya makan malam terlebih dahulu, namun di tolak oleh Cindy, karena dia ingin makan dengan suaminya, namun jam sudah menunjukkan jam 11 malam tapi Ziko tidak terlihat sama sekali akan ada tanda-tanda pulang.


"Apa kak Ziko tidak pulang ya, ini sudah sangat larut," Cindy berjalan kesana kemari menunggu sang suami, bahkan dia terus melihat jam yang terus bergulir, akhirnya Cindy memutuskan untuk kembali kekamarnya tanpa makan apapun.


"Apa kak Ziko masih marah padaku" gumam Cindy, kini Cindy terduduk dikasurnya dan tengah memegang hasil tes pecknya. "Aku ingin membagi kebahagian dengannya, tapi seperti semesta tidak menginginkan itu," Cindy menangis sambil memegang tespeknya, akhirnya setelah lama Cindypun tertidur.


Sedangkan Ziko masih dikantornya, dia tidak bergerak sama sekali dari duduknya sejak tadi, Jay yang kini tengah bersama menggeram frustasi, karena bosnya seperti kehilangan aruwahnya, dan hanya tertinggal raganya saja.


"Apa kamu akan terus meratapi nasib disini, ayo pulang temui istrimu, kasian dia diruamah sendiri," Jay menarik tangan Ziko agar ikut dengannya.


"Jangan kayak anak kecil, apa kamu tahu kalau seperti ini terus kamu akan pusing sendiri nantinya," Jay tetap memaksa Ziko untuk pulang, karena dia juga ingin segera pulang, mau tidak mau akhirnya Zikopun pulang, tepat jam1 malam Ziko memasuki rumah sederhana yang iya tempati sekarang.


Ziko terus berjalan menuju kamarnya, disana dia tidak menemukan Cindy, namun Ziko sama sekali tidak peduli, Ziko membersihkan tubuhnya dan segera tidur, karena dia akan berangkat pagi-pagi sekali, agar tidak bertemu Cindy, pikir Ziko 


Denting jam terus berbunyi, hingga waktu pagipun tiba, Cindy melihat didepan rumah, dan mobil Ziko ada, itu tandanya sang suami pulang semalam, Ziko bahagia, dia kini tengah memasak didapurr untuk suaminya, meski harus menggunakan masker, karena dia sangat mual jika mencium aroma bumbu dapur, tapi demi suaminya dia lera.


"Akhirnya matang juga, semoga kak Ziko suka," Cindy menyajikan semua makanan itu di meja makan, diapun bersiap membangunkan Ziko kekamarnya, dia berjalan menuju kamar Ziko dengan harap-harap cemas, dia tidak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan dengan Ziko.


Kini Ziko sudah berdiri didepan pintu kamar Ziko, Cindy ragu untuk mengetuk pintu, setelah lama berdikir akhirnya Cindy mengetuk pintu itu, manun saat tangannya hampir saja mencapai pintu, pintu sudah dibuka dari salam.


Kini keduanya sama-sama terdiam, Cindy dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, dan Ziko masih dengan tatapan amarahnya.


"Kak sarapan dulu, tadi aku sudah memasak untukmu kak," ujar Cindy sambil menunduk, karena dia tidak sanggup jika harus mendapat tatapan seperti itu dari suaminya.