Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 74 Kepulangan yang Tertunda



Di pagi yang dingin, sepasang netra berwarna hazel, tampak sendu memandangi hujan salju yang turun di luar jendela ruang keluarga di sebuah mansion. Bukan karena tidak suka melihat pemandangan serba putih yang terlihat menyejukkan itu, tapi rasa khawatir karena pemberitahuan akan adanya badai salju yang diperkirakan akan terjadi malam ini di beberapa kota di Inggris, termasuk London. Lebih parahnya lagi, bukan hanya satu hari, tapi badai salju itu kemungkinan akan berlangsung selama beberapa hari.


Shanaya yang sedang menunggu kepulangan Shawn dari Indonesia, tentu saja mendadak waswas mendapat pemberitahuan akan datangnya badai salju itu. Karena hampir semua penerbangan dari dan menuju London juga beberapa kota besar di Inggris, kemungkinan akan dibatalkan karena cuaca buruk. Tidak terkecuali Shawn dan anak buah, yang seharusnya sudah dalam perjalanan menuju London dengan menggunakan private jet-nya.


Usia kandungan Shanaya sudah menginjak usia 9 bulan, dirinya sudah bersiap menunggu kelahiran sang jabang bayi. Shawn yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah, begitu menjaga dan perhatian terhadap istri juga calon bayinya. Namun karena ada urusan perusahaan yang sangat penting, membuatnya terpaksa harus terbang ke Indonesia.


Shawn berjanji pada Shanaya, hanya memerlukan waktu 5 hari untuk menyelesaikan urusannya di Jakarta dan Bandung. Itupun sudah termasuk perjalanan pergi-pulang Indonesia-Inggris.


Tapi saat di Jakarta, Shawn sempat dihadapkan pada kejadian tidak terduga, saat dirinya dimintai bantuan Jeffran, sepupunya, untuk menyelamatkan istrinya yang menjadi korban penculikan. Tentu saja Shawn langsung membantu Jeffran tanpa pikir panjang. Untungnya, penyelamatan istri Jeffran yang bernama Jillian itu, tidak memerlukan waktu yang lama. Shawn tetap dapat menyelesaikan urusannya sesuai waktu yang dijadwalkan. (Kalau penasaran sama cerita penculikan istri Jeffran yang bernama Jillian, bisa mampir ke Pernikahan dengan Perusak Impianku Eps. 32).


Namun karena badai salju yang kemungkinan datang nanti malam di London, rencana kepulangan Shawn pun kemungkinan besar akan tertunda. Shanaya sudah menghubungi Shawn, tapi panggilan teleponnya tidak diangkat, pesannya pun belum dibalas.


"Honey, aku khawatir.. Bisakah kamu menghubungiku secepatnya?" Lirih Shanaya sembari mengelus perutnya yang besar.


"Shanaya apa yang kamu lakukan disana? Pakai baju hangatmu, bajumu terlalu tipis Sayang." Kehadiran Mommy Sanchia mengalihkan atensi Shanaya dari pikirannya dan juga salju-salju di luar sana.


"Iya Mom.. Nanti aku pakai baju hangat." Jawab Shanaya tidak bersemangat.


"Kamu kenapa Sayang? Apa Shawn sudah dalam perjalanan kembali dari Indonesia?" Tanya Sanchia, lalu memapah Shanaya untuk duduk di atas sofa.


"Aku tidak tahu Mom. Memang seharusnya Shawn sudah dalam perjalanan menuju London, tapi pemberitahuan akan adanya badai salju nanti malam, membuat banyak penerbangan dibatalkan. Aku tidak tahu apakah kepulangan Shawn juga batal atau tidak, karena Shawn tidak mengangkat panggilanku."  Keluh Shanaya.


"Tenang ya Sayang, pasti Shawn akan segera mengabarimu." Sanchia mengelus lembut lengan Shanaya, agar putrinya yang sedang khawatir itu bisa sedikit tenang. Meskipun dirinya juga cukup khawatir, akan keadaan putra sekaligus menantunya itu.


*************************


7 jam lebih cepat dari waktu London, Inggris..


Matahari beranjak turun, diiringi sekumpulan awan putih di langit yang mulai berubah jingga. Suasana menjelang sore di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tampak cukup ramai oleh kumpulan manusia.


Diantara kumpulan manusia itu, ada Shawn, Drake dan anak buahnya yang bersiap kembali ke London. Namun rencana kepulangan mereka terpaksa harus dibatalkan karena akan adanya badai salju di London dalam beberapa jam mendatang.


"Shawn, kita benar-benar tidak bisa terbang ke Inggris sampai beberapa hari ke depan. Semua penerbangan menuju Inggris dilarang dan dibatalkan." Mendengar penuturan Drake, Shawn terlihat lebih gusar dari sebelumnya. Dirinya sudah berjanji kepada Shanaya untuk segera kembali. Apalagi Shawn begitu khawatir pada istrinya yang kehamilannya sudah memasuki bulan ke-9.


"Pantau terus Drake, begitu ada pemberitahuan keadaan sudah membaik, kita kembali ke London. Selama kita belum bisa kembali ke London, kita menginap di Jakarta."


"Okay Shawn.." Ujar Drake mengiyakan.


************************


Di salah satu kamar hotel bintang 5 di Jakarta, Shawn yang baru saja mengabari Shanaya tentang penundaan kepulangannya ke London, segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Tapi bel kamar yang berbunyi, membuatnya urung memejamkan mata, dan segera beranjak membukakan pintu.


"Hai Drake, masuk.." Ujar Shawn, begitu melihat Drake saat membukakan pintu.


"Thanks Shawn.." Drake masuk dan duduk di sofa, tepat berhadapan dengan Shawn yang duduk lebih dulu.


"Drake, apa kemarin ada sesuatu yang terjadi?" Shawn bertanya sembari mengulas senyum tipis. Mengerti arah pertanyaan Shawn, Drake tersenyum lebar.


"Untuk itulah, aku kesini.. Aku ingin berterima kasih Shawn.. Berkat kamu, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku mau, Shawn.." Ungkap Drake tulus.


Sehari setelah menyelesaikan misi penyelamatan Jillian, istri Jeffran dari penculikan, Shawn, Drake dan juga anak buahnya langsung menuju Bandung untuk menghadiri pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari beberapa cabang perusahaan Knight Group Company yang ada di Bandung.


Program CSR Knight Group Company sangat mendukung program pengentasan kemiskinan di Kota Bandung. Program itu diantaranya pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat yang membutuhkan, pembangunan tempat ibadah dan sekolah, pemberian beasiswa bagi anak-anak berprestasi serta kurang mampu dari jenjang Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, pemberian dana bantuan dan fasilitas bagi masyarakat miskin dan banyak lagi. Sehingga Program CSR itu sangat diapresiasi Pemerintah Daerah dan langsung dihadiri Gubernur dan jajarannya. Sehingga Shawn yang menerima undangan secara langsung dari Perwakilan Pemerintah Daerah merasa wajib untuk hadir dalam acara tersebut.


Acara pembukaan program CSR secara simbolis yang dilaksanakan di salah satu gedung pemerintahan itu baru selesai pada sore hari. Shawn, Drake dan orang-orang kepercayaannya dijamu di Restaurant yang ada di Knight Apartment oleh jajaran management-nya.


Alangkah terkejutnya Drake, saat melihat Letta, gadis yang dicintai dan dirindukannya, berada dalam jajaran Staff pengelola apartemen itu. Tanpa rasa ragu dan malu, Drake segera mengajak Letta keluar menuju cafe yang tidak jauh dari lokasi apartemen. Meskipun tingkahnya itu menjadi tontonan jajaran management dan staff Knight Apartment.


Di salah satu sudut cafe, Drake dan Letta tampak duduk bersebelahan menikmati secangkir cafe latte, seraya mengulas senyum bahagia yang tidak dapat mereka sembunyikan.


"Bagaimana kabarmu Letta? Kamu terlihat sangat keren sekarang." Kekehan kecil Drake disambut tawa Letta.


"Berkat kamu Kak Drake.. Terima kasih, karena sudah banyak membantuku. Kini kehidupanku sudah semakin membaik. Uang yang Kak Drake berikan dulu, sudah aku gunakan untuk melunasi semua utang-utangku, sekarang aku sudah tidak lagi dikejar-kejar rentenir. Kak Drake juga memberiku kesempatan untuk bekerja di Knight Group Company dengan gaji yang sangat besar. Padahal aku cuma fresh graduate tanpa pengalaman. Sekarang aku sudah bisa menyewa rumah yang layak, bisa mengirim uang untuk ibu di kampung, dan tidak pernah lagi kekurangan makanan dan pakaian. Kamu benar-benar membuat semua impianku jadi nyata Kak Drake." Penjelasan Letta justru membuat Drake tidak mengerti.


"Letta, apa maksudmu kalau aku memberimu kesempatan bekerja di Knight Group Company?" Kali ini pertanyaan Drake yang membuat Letta mengerutkan kening karena heran.


"2 bulan yang lalu, aku dipanggil interview tepat setelah aku lulus kuliah. Padahal aku merasa tidak mengirimkan lamaran kerja kesini. Tapi aku tetap datang dengan membawa berkas lamaran lengkap. Saat itu aku bersaing dengan banyak sekali kandidat. Tapi syukurlah ternyata aku lolos. Saat hari pertama bekerja, Bu Masya, General Manager HRM Knight Apartment langsung mengucapkan selamat padaku karena sudah lolos seleksi dengan hasil terbaik. Padahal tadinya Bu Masya merasa ragu dengan kemampuanku, meskipun aku adalah orang yang direkomendasikan Kak Drake secara langsung kepada CEO Knight Group Company."


Mendengar penjelasan Letta yang panjang lebar, barulah Drake mengerti kalau ada campur tangan Shawn dalam hal ini. Drake mengulas senyum haru, karena tanpa bercerita pun, Shawn ternyata sudah tahu mengetahui tentang Letta yang disukainya.


'Terima kasih Shawn, ternyata kamu sengaja mendekatkan Letta padaku.' Batin Drake.


"Hmm, Letta.. Apa kamu mau menjadi pacarku?" Tanya Drake tanpa basa-basi, tidak ingin melewatkan kesempatan karena besok dirinya akan kembali ke London.


Letta membelalakan matanya, tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Drake. Meskipun terakhir kali mereka bertemu, Drake sudah menyatakan suka padanya.


"Kak Drake, aku merasa tidak layak untukmu. Meskipun sekarang kehidupanku sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi jarak denganmu masih terlalu jauh. Kak Drake adalah orang penting di Knight Group Company. Sementara aku hanya staf biasa di salah satu cabangnya."


"Ya ampun Letta, hanya karena itu kamu menolakku?" Drake menggenggam tangan Letta dan menatap mata Letta begitu dalam. Hingga Letta mengangguk ragu seraya mengatupkan bibirnya.


"Aku cuma seorang Personal Assistant, Letta.. Aku bukan seorang CEO." Tegas Drake berusaha meyakinkan Letta agar tidak menolaknya.


"Aku bertanya tentangmu pada Bu Masya, dan menurut beliau Kak Drake adalah Personal Assistant dari CEO tertinggi Knight Group Company yang memiliki puluhan perusahaan raksasa  di banyak negara. Bahkan posisi Kak Drake lebih tinggi dari Direktur semua perusahaan cabang Knight Group Company."


"Letta, tolong jangan jadikan hal itu alasan untuk menolakku. Cukup jawab, apakah kamu menyukaiku atau tidak. Jika kamu menyukaiku, maka terima aku menjadi pacarmu. Tapi jika tidak, aku akan menerima jika kamu menolakku." Pilihan tegas dari Drake sama sekali tidak mengurangi raut bingung di wajah Letta.


"Aku.. Aku sebenarnya.. menyukaimu, tapi.." Perkataan Letta yang belum selesai segera dipotong oleh Drake.


"Tidak ada tapi. Hari ini kita resmi berpacaran.." Tegas Drake seraya memeluk erat Letta dan melabuhkan ciuman di pelipis Letta. Sementara Letta hanya tersenyum malu, tidak berani menatap Drake yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️