
Matahari terbit.. Itulah yang dipandangi Shawn pagi ini dari balkon kamar hotelnya yang super mewah. Tapi bukan itu yang menjadi fokus pikirannya saat ini, melainkan seorang gadis bertopeng yang memiliki nama yang sama dengan apa yang dipandangi Shawn pagi ini. Sehrish, yang berarti Matahari Terbit.
Semalaman penuh, Shawn tidak bisa memejamkan matanya karena terus memikirkan sang gadis yang dia temui di acara pesta semalam. Shawn sempat terkejut, saat gadis cantik itu diperkenalkan sang Tuan Rumah, Mr. Ali, sebagai putri tunggalnya yang akan menjadi pewaris klan mafianya. Namun Shawn tidak menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin hanya datang sekali itu, Shawn segera menemui Mr. Ali dan minta diperkenalkan dengan putrinya yang berhasil mencuri perhatiannya.
Keyakinan hati Shawn yang mengatakan kalau gadis itu adalah Shanaya, sangatlah kuat. Informasi dari Drake yang mengatakan kalau Sehrish baru diperkenalkan kepada kalangan bawah tanah sejak 6 bulan yang lalu, menambah kecurigaan Shawn, kalau Sehrish adalah Shanaya. Meskipun terlihat jelas kalau Sehrish sama sekali tidak mengenal Shawn. Dugaan Shawn sementara ini, Shanaya mengalami amnesia atau dicuci otaknya agar tidak mengingat masa lalunya.
Drrtt.. Drtt.. Drtt...
Shawn masuk ke dalam kamarnya, lalu menyambar ponsel yang berbunyi di atas nakas. Sebuah panggilan masuk dari Sall segera diangkatnya tanpa membuang waktu.
"Iya Dad.."
"Son, bagaimana pestanya tadi malam? Kapan kamu akan kembali ke London?" Tanya Sall to the point.
"Pestanya menyenangkan. Tadinya aku akan pulang besok Dad, tapi sepertinya aku harus mengundur kepulanganku Dad." Jawab Shawn dengan otak dipenuhi wajah Sehrish.
"Kenapa Son?" Suara Sall terdengar khawatir.
"Aku hanya ingin berlibur sedikit lebih lama lagi Dad.. Tidak apa-apa kan?" Terdengar helaan nafas lega di seberang sana mendengar pertanyaan Shawn.
"Tentu saja. Bersenang-senanglah Son.. Tidak perlu memusingkan urusan klan dan perusahaan untuk saat ini. Daddy doakan agar kamu segera bertemu dengan gadis impianmu. Mungkin saja seorang gadis Dubai bisa membuat hatimu terpikat Son." Ujar Sall yang seketika membuat Shawn tertawa renyah.
"Bisa jadi Dad.. Sepertinya aku benar-benar bisa menemukan jodohku disini." Jawab Shawn seraya membayangkan wajah Shanaya yang cantik dan ceria.
*************************
Shawn bergegas menuju Pantai Jumeirah, saat Drake memberinya informasi, kalau seorang gadis yang begitu mirip dengan Shanaya, terlihat berjalan-jalan di pinggir Pantai Jumeirah ditemani beberapa orang pengawal.
Netra biru Shawn berbinar bahagia dibalik kacamata hitamnya. Wajah tampannya pun mengulas senyum yang sangat lebar meskipun terhalang masker. Bisa melihat kembali wajah gadis yang sangat dicintainya adalah anugerah terindah yang Shawn dapatkan pagi ini.
Ingin rasanya Shawn langsung berlari mendekat dan memeluk tubuh Shanaya dengan erat, namun Shawn harus mengetahui lebih dulu fakta mengenai Shanaya yang menurutnya sengaja diubah menjadi Sehrish. Terutama motif Mr. Ali, yang Shawn duga kuat sebagai dalang dibalik semua tragedi ini. Shawn tidak mau gegabah, tapi juga tidak ingin bergerak lambat. Karena bisa saja dia kehilangan kesempatan penting untuk menyelamatkan Shanaya dan membawanya pulang.
Tatapan Sehrish yang Shawn yakini adalah Shanaya, terlihat sendu memandang hamparan pantai biru yang indah. Sesekali Sehrish memungut kerang-kerang kecil, tidak peduli gaun pantainya basah terkena ombak yang menyapu pasir pantai.
Shawn sedang mencari kesempatan untuk bisa mendekati Sehrish, namun penjagaan dari para pengawal Sehrish membuatnya enggan. Terlebih Mr. Ali pasti memantau pergerakan Sehrish atau mungkin juga Shawn dari kejauhan.
Selang 10 menit kemudian, Sehrish dan para pengawalnya tampak berjalan menuju Hotel BAA. Shawn mengikutinya dari belakang secara diam-diam, berharap ada kesempatan untuknya mendekati Sehrish. Rupanya Tuhan merestui niatnya itu. Karena setelah Sehrish menaiki lift ke lantai 20, Sehrish terlihat meminta para pengawalnya untuk pergi, sementara dirinya berjalan masuk ke sebuah area kolam renang yang sepertinya private.
Shawn meminta Drake dan tim andalannya untuk membantunya menerobos masuk ke dalam area kolam renang itu. Serta meretas dan merekayasa CCTV hotel agar tidak merekam dirinya saat masuk kesana. Tentunya hal itu sangatlah mudah bagi Drake dan timnya, hingga akhirnya Shawn bisa masuk kesana tanpa hambatan sedikitpun.
"Aaaa.." Sehrish berteriak kencang, mendapati Shawn yang merebahkan dirinya di atas pool chair yang terletak di pinggir kolam renang.
"Who are you? How dare you, enter my private pool. (Siapa kamu? Beraninya kamu masuk ke kolam renang pribadiku)." Ujar Sehrish penuh emosi, seraya memegang erat bagian depan bathrobe-nya agar tidak terbuka. Shawn berdiri dan memasang raut pura-pura terkejut setelah melepas kacamata hitamnya.
"I was looking around, and I was in here before you came here, but you didn't see me. I really didn't know that this pool area is a private pool. I'm so sorry. (Aku sedang melihat-lihat hotel ini, dan aku sudah masuk kesini sebelum kamu datang, tapi kamu tidak melihatku. Aku sungguh tidak tahu kalau area kolam renang ini adalah kolam renang pribadi. Aku sungguh minta maaf)." Ucap Shawn dengan nada penuh penyesalan.
Sehrish bergeming mencerna perkataan Shawn yang terdengar jujur, namun netra dan otaknya sedang berusaha memastikan, apakah laki-laki dihadapannya ini adalah laki-laki yang menabraknya semalam.
'Apa laki-laki bermata biru ini adalah laki-laki yang dikenalkan Papa padaku? Ketua Klan mafia Toddestern dari Inggris? Semalaman aku memikirkannya, karena merasa begitu tidak asing dengan mata birunya. Dan pagi ini, aku kembali bertemu dengannya.' Monolog Sehrish dalam hati.
"Cantik sekali.." Puji Shawn dengan pandangan melihat ke arah kolam renang, padahal sesungguhnya Shawn memuji gadis yang sedang sibuk bermonolog di sebelahnya.
"Kamu bisa berbahasa Indonesia?" Tanya Sehrish lalu sedikit mendekat ke arah Shawn. Tentu saja Shawn tersenyum senang dengan reaksi Sehrish. Shawn mendudukkan dirinya di atas pool chair, yang kemudian diikuti Sehrish.
"Tentu saja Nona Sehrish. Lalu kenapa Nona bisa berbahasa Indonesia?" Shawn berusaha bertanya senormal mungkin, meskipun Shawn sebenarnya begitu penasaran mendengar jawaban Sehrish.
"Papa bilang kalau Mamaku adalah seorang perempuan keturunan Indonesia-Korea. Sedangkan Papaku keturunan Spanyol-Arab. Jadi aku bisa berbahasa Indonesia dengan lancar." Shawn mengerutkan keningnya begitu mendengar jawaban Sehrish yang terdengar agak janggal.
"Maaf, kenapa Papamu yang bilang? Apa kamu tidak pernah bertemu dengan Mamamu?" Shawn menelisik lebih jauh kisah tentang Sehrish.
"Papa dan Mama sudah berpisah karena kesalahpahaman, dan ingatanku tentang Mama hilang karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Hingga Papa-lah yang menceritakan semua hal yang sudah aku lupakan itu." Jawab Sehrish gamblang. Namun tiba-tiba Sehrish membekap mulutnya dengan mata membulat memandang Shawn.
"Kenapa Nona Sehrish?" Tanya Shawn penuh tanya.
'Kenapa aku bisa menceritakan semua hal ini pada orang asing? Terlebih laki-laki ini adalah seorang Ketua Klan mafia yang mungkin saja mencari kelemahan Papa.' Rutuk Sehrish dalam hati.
"Apa kamu sedang merutuki kecerobohan kamu yang memberitahu sebuah rahasia pada orang yang baru kamu kenal?" Shawn bertanya lalu membuka maskernya, membuat Sehrish tercengang karena begitu terpesona pada ketampanan Shawn. Wajah yang nyaris sempurna, berpadu mata biru, bibir indah dan rahang yang tegas, sungguh membuat Sehrish lupa bernafas. Terlebih wajah itu terasa sangat familiar di otak Sehrish.
"Sekarang jangan anggap aku orang asing. Perkenalkan namaku Steve.." Shawn mengulurkan tangan yang disambut ragu oleh Sehrish. Shawn tidak sedang berbohong saat ini, Steve adalah nama yang diberikan oleh orangtua kandungnya saat dia lahir. Lengkapnya Steve Salazar Smith.
"Tapi tolong jangan katakan hal ini pada siapapun, termasuk Papamu. Karena kamu pasti tahu kalau aku menggunakan identitas lain untuk bisa datang ke Dubai dan menginap disini. Aku percaya kamu akan memegang rahasia ini dengan baik." Shawn mengelus lembut pelipis Sehrish, dan anehnya Sehrish hanya diam tidak mampu menolak perlakuan Shawn yang begitu manis.
"Apa kamu akan melanjutkan rencanamu berenang? Kalau tidak, sebaiknya kamu segera mengganti kembali pakaianmu Nona Sehrish."
Sehrish tiba-tiba menutup dadanya dengan kedua tangan, setelah menyadari arah pandang Shawn sebelumnya. Shawn sempat menatap sekilas bagian atas bathrobe Sehrish yang menampakkan belahan dadanya, sebelum memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Maaf, aku tidak sengaja melihatnya.." Ucap Shawn penuh sesal, menyadari reaksi Sehrish yang begitu sangat terganggu. Sungguh Sehrish merasa sangat malu saat ini. Baju renangnya yang sangat terbuka, hanya dia pakai saat berenang sendirian. Dia tidak menduga kalau Shawn akan melihat area pribadinya, meskipun tanpa sengaja.
Sehrish menyentakkan kaki saat berdiri dari duduknya, namun tubuhnya nampak tidak seimbang, sehingga akhirnya jatuh ke dalam kolam renang.
"Aaaa.."
Shawn segera meloncat masuk ke dalam kolam renang, memeluk pinggang Sehrish yang hampir tenggelam karena tidak siap terjatuh. Beruntung dalamnya kolam renang itu, hanyalah sebatas dada Sehrish saja.
Pelukan erat dan pandangan netra Shawn yang dalam, benar-benar membuat Sehrish terpesona. Wajah tampan, rambut basah, dan juga lekuk tubuh Shawn yang terlihat menerawang di balik kemeja casual putih Shawn yang juga basah, menambah kesan seksi dari pria penuh pesona itu.
Sesungguhnya Shawn pun sedang mengagumi makhluk indah dihadapannya. Shawn mengabsen setiap sudut wajah gadis yang begitu dirindukannya. Bagian bahu dari bathrobe Sehrish sudah turun, menampakkan bagian belahan dada Sehrish yang sukses menggoda pandangan Shawn. Saat ini pandangan Shawn terlihat bebas, tidak ada pandangan ragu seperti caranya memandang Shanaya dulu. Karena Shawn tahu, kalau perempuan yang saat ini berada dihadapannya bukanlah adik kandungnya, melainkan perempuan dewasa yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
Keduanya saling berpandangan, tidak terganggu buliran air yang satu persatu jatuh dari wajah mereka. Hingga sebuah kalimat indah meluncur dari bibir Shawn, dan berhasil menghipnotis Sehrish seketika.
"I love you.. I love you so much.." Lirih Shawn.
Perlahan, Shawn melabuhkan bibirnya di bibir Sehrish yang ranum. Sementara Sehrish bergeming, tidak menolak maupun membalas ciuman Shawn. Sehrish hanya diam membeku dengan mata yang kemudian terpejam, saat ciuman Shawn berubah lum*tan disertai pelukan yang lebih erat. Shawn seolah meluapkan rasa rindu yang begitu besar terhadap gadis yang berada dihadapannya.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️