Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 27 Kematian Shanaya



Shawn bersama Dawson dan sekitar 20 orang anak buahnya, bergegas menuju sebuah villa pribadi yang terletak di pinggir laut X yang sepi, menggunakan 5 helicopter super senyap. Sementara puluhan anak buahnya yang lain, menggunakan mobil van beriringan menuju tempat yang sama. Mereka tetap mengatur waktu agar bisa tiba secara bersamaan, karena mereka akan menyerang villa itu dari semua arah sekaligus.


Semula Shawn berencana menjalankan Plan A, dengan menyambut mereka di penthouse, namun sekitar beberapa belas menit yang lalu, Shawn mendapat kabar kalau ada 4 buah helicopter super senyap yang mengudara melewati laut X Copenhagen dan mendarat di rooftop sebuah villa pribadi yang tidak diketahui siapa pemiliknya.


Dawson bahkan sudah memastikan kalau penumpang dari salah satu helicopter itu adalah Shanaya. Hingga akhirnya Shawn memutuskan untuk menuju villa itu, karena menganggap Shanaya pasti disekap disana selama Sheran dan anak buahnya menyerang mereka ke penthouse. Namun penthouse-nya pun dijaga ketat oleh ratusan anggota klannya, dipimpin langsung oleh Drake, Sall dan juga Sanchia.


Villa mewah itu berdiri di atas tebing yang berada tepat di pinggir laut X yang berarus deras. Shawn dan beberapa anak buahnya sengaja turun menggunakan tali dari helicopter di area sudut halaman belakang villa. Mereka tidak mendaratkan helicopter mereka di atas rooftop villa, karena akan menarik perhatian. Lagipula area rooftop sudah penuh oleh 4 helicopter milik Sheran dan anak buahnya. Mungkin hanya tersisa space untuk satu helicopter saja disana.


Anak buah Shawn yang menggunakan jalur darat sudah tiba dan menyusup ke dalam villa dari segala arah, setelah menerobos sistem keamanan villa. Mereka pun segera menjalankan tugasnya mencari keberadaan Shanaya.


Namun alangkah terkejutnya Shawn dan semua anak buahnya saat melihat pemandangan didalam villa. Aula lantai 1 tampak berantakan, seperti telah terjadi pertempuran sebelumnya. Bahkan beberapa anak buah Sheran tampak bergelimpangan di atas lantai dengan tubuh bersimbah darah.


"Oh shiiiitt.. Ternyata ada musuh lain yang mungkin mengincar Shanaya." Shawn bergegas berlari menaiki anak tangga menuju lantai 2. Dia dan anak buahnya mencari keberadaan Shanaya di semua sudut villa.


"Boss, ada helicopter yang datang dari arah utara." Ujar anak buah Shawn yang melihat kedatangan helicopter melalui jendela lantai 2.


"Naik ke rooftop.." Shawn diikuti beberapa anak buahnya segera menaiki lift menuju rooftop. Sesampainya disana, Shawn melihat helicopter itu sudah kembali mengudara. Namun terlihat jelas didalamnya ada 2 awak helicopter berkacamata hitam dan gadis yang sangat dicintainya. Shanaya duduk bersandar di dekat jendela dalam keadaan mata terpejam dengan tangan terikat dan mulut disumpal kain.


"Shanayaaaa.."


Shawn dan anak buahnya bergegas menaiki 5 helicopter mereka yang mendekat dan mendarat bergantian di atas rooftop. Mereka bermaksud mengejar helicopter yang sudah mengudara jauh di depannya.


Namun tiba-tiba saja helicopter yang ditumpangi Shanaya meledak dengan dahsyatnya tepat di atas laut. Bahkan helicopter itu benar-benar hancur dengan api dan kepulan asap yang tebal disekitarnya.


Netra Shawn tidak berkedip menyaksikan pemandangan mengenaskan dihadapannya. Seolah tidak percaya dengan penglihatannya saat ini. Hingga beberapa detik kemudian, teriakan miris bercampur kesedihan tampak keluar dari mulutnya.


"Shanayaaaa.." Shawn bahkan tanpa sadar hendak menceburkan dirinya ke tempat dimana sisa-sisa ledakan itu jatuh. Beruntung Dawson segera menahan tubuh Shawn, karena arus kencang laut X sudah pasti akan ikut menenggelamkan Shawn bersama sisa-sisa ledakan itu.


"Shanaya.." Kali ini suara Shawn terdengar begitu lirih dan bergetar, diiringi pandangan buram karena air mata sudah memenuhi kelopak matanya.


*************************


7 hari berlalu sejak insiden meledaknya helicopter yang ditumpangi Shanaya, namun Shawn masih menolak kenyataan bahwa gadis yang dicintainya sudah tiada. Sekalipun hasil dari pencarian mereka, tidak ditemukan adanya bukti-bukti kalau Shanaya dibawa melalui jalan lain.


"Boss, tidak ada jalan rahasia dari villa itu yang memungkinkan Nona Shanaya dibawa melalui jalan lain. Menurut hasil rekaman CCTV di sekitar villa pun, tidak ada pergerakan mencurigakan dari mobil atau helicopter yang mungkin membawa Nona Shanaya lebih dulu sebelum kita datang." Jelas Dawson.


Shawn mendengarkan semua penjelasan anak buahnya, tapi pikiran dan hatinya seolah menghadirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Lebih tepatnya harapan kalau Shanaya masih hidup di suatu tempat, meskipun entah dimana.


Di ruang kerjanya, netra Shawn tampak meneliti hasil laporan Tes DNA yang sudah terlihat kusut untuk kesekian kalinya. Sungguh hati dan pikirannya masih belum percaya, kalau sisa bagian tubuh berupa kulit yang sudah hangus terbakar dan berhasil ditemukan tim SAR klannya, jelas membuktikan DNA yang sama dengan Shanaya. Sisa bagian tubuh yang ditemukan timnya itu, terombang-ambing begitu jauh dari area ledakan, 3 hari setelahnya. Mungkin karena arus laut yang kuat, menghempaskannya cukup jauh dari tempatnya semula.


Hasil tes DNA bukannya membuat Shawn percaya Shanaya sudah meninggal, pikiran Shawn justru semakin liar menduga-duga, kalau gadis yang saat itu berada dalam helicopter, adalah seseorang yang dipakaikan topeng wajah yang sangat mirip dengan Shanaya. Lalu dalang utama dari segala kejadian ini juga sudah melakukan rekayasa DNA agar Shawn percaya kalau Shanaya sudah benar-benar meninggal. Karena mereka seolah begitu terang-terangan menunjukkan proses kematian Shanaya, agar Shawn bisa percaya karena melihatnya secara langsung.  Otak canggih Shawn dan hatinya tentu tidak bisa dengan mudah menerima kenyataan dihadapannya, namun dirinya harus bekerja keras menemukan bukti-bukti yang bisa menuntunnya menemukan keberadaan Shanaya.


Saat insiden itu terjadi, keadaan di penthouse pun ternyata sangat tidak terduga. Sheran dan ratusan anak buahnya menyerang penthouse Knight dari beberapa arah. Tapi tentu saja mereka dibuat kewalahan dengan sambutan Sall dan Drake beserta anggota klan Toddestern yang jauh lebih banyak, bahkan pertempuran berdarah diantara dua klan itu berhasil dikuasai klan Toddestern. Hingga akhirnya Sheran dan anak buahnya yang tersisa memilih mundur meskipun tujuan utama mereka untuk membawa Seira tidaklah berhasil.


Namun Seira yang dijaga ketat oleh Sanchia dan beberapa pengawal, berhasil dibawa lari oleh sekumpulan pria bertopeng dan berpakaian serba putih, berbeda dengan anggota klan Toddestern dan anak buah Sheran yang berpakaian serba hitam. Bahkan Sanchia yang sempat membantu anak buahnya melawan orang-orang itu, mengalami luka yang sangat serius di bagian kepala dan beberapa bagian tubuhnya. Hingga membuatnya mengalami koma dan belum sadarkan diri sampai saat ini.


Sebuah sentuhan di kepala Shawn, menyentak Shawn dari kesedihannya. Ditatapnya wajah Sall yang terlihat sendu memandangnya.


"Son.. Are you okay?" Tanya Sall lirih. Shawn seketika memeluk Daddy-nya dengan erat.


"No.. I'm not okay Dad." Pertama kalinya di sepanjang sejarah hidup Shawn, dia menumpahkan air matanya, terlebih dihadapan sosok Daddy-nya yang sangat diseganinya. Sall pun ikut menumpahkan kesedihan yang selama beberapa hari ini coba ditutupinya.


Sesungguhnya Sall pun tidak percaya kalau Shanaya sudah tiada, dia pun memiliki banyak kemungkinan lain dalam pikirannya. Kesedihannya pun semakin bertambah, karena Sanchia sang istri yang sangat dicintainya pun masih belum sadar dari komanya.


Tapi mungkin hal itu sudah jalan terbaik dari Tuhan, karena Sanchia pasti akan merasa sangat hancur, saat mengetahui kalau putri tercintanya sudah meninggal dengan sangat mengenaskan.


*************************


MANSION KNIGHT - LONDON, INGGRIS


3 bulan kemudian..


Shawn terbangun di atas tempat tidur Shanaya, setelah meratapi rasa kehilangannya seraya memeluk baju Shanaya semalaman. Kantung matanya tampak hitam, karena Shawn tidak pernah tertidur nyenyak dalam waktu 3 bulan ini. Semalam dia hanya tertidur kurang dari 2 jam, itupun tidak sengaja tertidur karena badan dan hatinya sudah terlalu lelah. Sosok Shawn yang tegar dan dingin menjadi begitu rapuh, saat dirinya sendirian di kamar Shanaya. Sungguh rasa rindunya pada Shanaya benar-benar tidak bisa tertahan.


Sebuah pusara bertuliskan nama Shanaya Zarine Knight memang sudah terpahat di taman belakang mansion keluarga Knight. Tapi Shawn sekalipun tidak pernah mengakui, kalau adiknya sudah meninggal. Baginya, sisa-sisa bagian tubuh yang dikuburkan disana, bukanlah milik Shanaya, melainkan orang lain.


Sebuah ketukan terdengar di luar pintu kamar Shanaya, diikuti Sall yang masuk dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh dan dua piring waffle.


"Son.. Ayo kita sarapan."


Shawn mendudukkan dirinya, setelah melipat rapi baju Shanaya yang semula dipegangnya.


"Aku belum lapar Dad. Aku akan makan setelah mandi dan menjenguk Mommy." Jawab Shawn, yang langsung ditanggapi gelengan kepala Sall.


"Mommy-mu sudah cantik, Daddy sudah membersihkan tubuhnya dan memakaikan baju santai favoritnya. Daddy berharap Mommy-mu segera sadar dan sehat kembali." Pandangan Sall terlihat menerawang, lalu Shawn menggenggam erat tangan Daddy-nya.


"Aamiin.. Semoga aku juga bisa segera menemukan Shanaya. Agar Mommy tidak perlu bersedih, karena mengira putri kesayangannya benar-benar sudah meninggal." Kali ini Sall hanya diam mendengar perkataan Putranya. Sebenarnya dia pun sungguh tidak percaya kalau Shanaya sudah meninggal, tapi upaya pencarian yang selalu berakhir sia-sia, membuat Sall semakin putus asa.


"Son.. Ada yang ingin Daddy katakan padamu." Ucap Sall lirih.


Shawn memfokuskan pandangan dan pendengarannya, menunggu kalimat selanjutnya dari Sang Daddy. Sementara Sall menarik nafas panjang, sebelum memulai ceritanya.


"Sebenarnya.. Kamu dan Shanaya bukanlah saudara kandung." Shawn bergeming, raut wajahnya nampak tidak berubah, tapi perkataan Sall jelas bagaikan petir di siang bolong bagi Shawn.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️