
Pemandangan kamar bernuansa maskulin yang didominasi warna hitam dan abu-abu adalah pemandangan pertama yang Shanaya lihat saat membuka mata dari tidur lelapnya. Shanaya segera turun tergesa dari atas tempat tidur, lalu keluar dengan langkah lebar berniat mencari keberadaan sang ibu kandung.
Shawn yang baru saja tiba di ujung tangga hendak melihat keadaan Shanaya, sedikit terkejut melihat Shanaya yang berjalan cepat ke arahnya.
"Sayang, kenapa?" Tanya Shawn seraya mendekat ke arah Shanaya.
"Dimana Mamaku?" Jawab Shanaya tidak sabar.
"Mommy ada di kamarnya, apa kamu ingin bertemu dengan Mommy? Aku baru saja selesai menjenguk Mommy." Shanaya mengangguk menanggapi perkataan Shawn.
"Ayo kita ke kamar Mommy." Shawn mengulurkan tangannya ke arah Shanaya, namun Shanaya enggan menerima uluran tangan Shawn. Berusaha memaklumi sikap Shanaya yang menjaga jarak darinya, Shawn tersenyum serta memberi kode agar Shanaya mengikutinya.
Shawn dan Shanaya masuk ke dalam kamar orangtuanya yang pintunya sedikit terbuka. Shawn mengedarkan pandangan ke segala arah mencari keberadaan Sall, namun Daddy-nya itu ternyata tidak ada di dalam kamar.
Berbeda dengan Shawn, rupanya pandangan Shanaya langsung terfokus pada sosok ibu kandungnya, yang terbaring lemah di atas tempat tidur, lengkap dengan berbagai alat medis penunjang kehidupan yang menempel di tubuhnya.
"Ma..ma.." Shanaya gegas mendekat, menatap wajah cantik yang terlihat sangat pucat itu.
Shawn menghampiri Shanaya, mengelus bahunya yang mulai bergetar menahan tangis. Perlahan tangan Shanaya menggenggam tangan Sanchia yang begitu dingin.
"Kenapa keadaan Mama bisa seperti ini?" Luruh sudah air mata Shanaya, hatinya begitu sakit melihat perempuan yang sudah melahirkannya terbaring lemah tidak berdaya dihadapannya.
"Coba panggil Mommy, Sayang.. Seperti biasa kamu memanggil Mommy." Bujuk Shawn yang dibalas ekspresi heran Shanaya.
'Papa bilang aku memanggil ibu kandungku dengan sebutan Mama, sejak kapan aku memanggil Mommy?' Shanaya bertanya-tanya dalam hati.
"Hmm, Mommy..?" Ucap Shanaya lirih. Namun tiba-tiba ujung jari telunjuk tangan kanan Sanchia bergerak, membuat Shawn dan Shanaya begitu terkejut.
"Jari Mommy bergerak Sayang.." Shawn terlihat begitu antusias melihat respon Sanchia yang tidak terduga, Shanaya pun tampak tersenyum di sela-sela tangisnya.
"Mommy, bangunlah.. Aku putrimu, datang menjengukmu." Lagi-lagi jari Sanchia bergerak merespon perkataan Shanaya.
"Mommy bangunlah.. Aku sungguh merindukanmu. Tidakkah Mommy ingin memeluk dan mencium putrimu ini? Tolong bangunlah untukku.." Shanaya mengeratkan genggaman tangannya dan sesekali mencium lembut pipi Mommy-nya. Hingga pemandangan yang sangat tidak terduga membuat Shawn dan Shanaya membelalakan matanya.
"Shawn, Mommy menangis.."
Sanchia terlihat meneteskan air mata dari sudut matanya yang tertutup, membuat air mata Shanaya pun mengalir lebih deras lagi.
"Mommy, tolong bangunlah untukku.. Aku ingin Mommy sembuh. Aku mencintaimu Mom.." Lirih Shanaya yang kemudian kehilangan tenaganya.
Shawn memeluk tubuh Shanaya yang melemas, genggaman tangan Shanaya pun terlepas diikuti kesadarannya yang menghilang.
*************************
Dokter baru saja selesai memeriksa keadaan Shanaya dan memasang jarum infus di punggung tangan Shanaya yang pingsan beberapa saat yang lalu. Ternyata fisik Shanaya memang begitu lemah karena tidak makan dan kurang istirahat, terlebih saat ini Shanaya merasa berada di bawah tekanan karena diculik oleh Shawn, yang dikiranya orang jahat.
Setelah selesai dengan tugasnya, Dokter pribadi keluarga Knight itu segera meninggalkan kamar Shanaya dengan diantar Drake yang berada di depan pintu. Tinggallah Sall dan Shawn yang duduk di kursi yang diletakkan tepat di samping tempat tidur, menatap sendu Shanaya yang terbaring di atas tempat tidurnya.
"Bangunlah Sayang, Daddy begitu merindukanmu putriku.. Namun Daddy sedih, karena ingatanmu yang hilang. Apalagi saat ini kamu begitu membenci Daddy. Padahal kamu selalu bilang, kalau Daddy adalah laki-laki pertama yang kamu cintai dan tidak akan pernah kamu lupakan. Semoga ingatanmu segera kembali ya Sayang.. Daddy mencintaimu." Sall mencium lembut kening Shanaya setelah mengungkapkan perasaannya. Shawn yang sedari tadi hanya diam, kini mengelus lembut punggung Daddy-nya, berusaha memberi ketenangan.
"Shawn jaga Shanaya ya, Daddy mau melihat keadaan Mommy-mu. Daddy sungguh bersyukur, Mommy sudah bisa merespon perkataan Shanaya. Mungkin selama ini Mommy menunggu kedatangan Shanaya untuk membangunkannya. Semoga Mommy segera bangun ya."
"Aamiin.. Mungkin yang dibilang Daddy benar, Mommy menunggu kedatangan Shanaya untuk membangunkan Mommy. Aku yakin Mommy akan segera bangun Dad."
"Iya Son.."
Lalu Sall segera kembali ke kamarnya, meninggalkan Shawn yang kini beralih duduk di tepi tempat tidur Shanaya. Dengan tatapan penuh kesedihan, Shawn mengelus lembut pipi Shanaya.
"Shanaya Sayang.. Aku ingin memanggilmu dengan nama itu, nama asli yang diberikan Daddy dan Mommy.. Jadi tolong, ingatlah semua hal yang kamu lupakan. Jangan biarkan perkataan-perkataan bohong Alrico, Papa gadunganmu itu meracunimu. Kamu adalah Shanaya Zarine Knight, Putri dari Sall Sherwyn Knight dan Sanchia Arelia Knight. Dan satu lagi informasi penting yang harus kamu tahu, kamu adalah calon istri dari Shawn Salazar Knight."
Cup..
Sebuah kecupan lembut dilabuhkan Shawn di bibir Shanaya, sebelum sebuah ketukan mengalihkan perhatian Shawn. Tanpa membuang waktu, Shawn segera membuka pintu yang ternyata di ketuk oleh Drake sahabat sekaligus asisten pribadinya.
"Ada apa Drake?" Tanya Shawn penasaran.
"Sorry Shawn.. Ada beberapa laporan penting tentang perusahaan juga klan yang harus segera aku sampaikan. Aku juga mau menyampaikan hasil penelitian obat yang selama ini diminum Shanaya, bisakah kita bicara di ruang kerjamu?" Jawab Drake dengan ekspresi seriusnya.
"Baiklah.. Ayo kita ke ruang kerjaku." Ajak Shawn mendahului langkah Drake, setelah menutup pintu kamar Shanaya.
Perlahan netra cantik Shanaya terbuka, sesungguhnya Shanaya sudah sadar sejak beberapa puluh menit yang lalu. Namun dia berpura-pura tertidur untuk mendengar pembicaraan Shawn dan Sall.
Shanaya sungguh tidak menyangka, dia akan mendengar ungkapan hati Sall yang dia anggap sebagai perusak kebahagian Papa dan Mamanya. Justru dia mendengar apa yang tidak pernah diduganya sama sekali, yang kini berhasil menggoyahkan apa yang diyakininya selama ini. Apalagi perkataan Shawn semakin mendukung apa yang dikatakan oleh Sall sebelumnya.
'Siapa aku sebenarnya? Siapa sesungguhnya yang harus aku percayai? Kenapa semuanya membuatku semakin bingung.. Apa Shawn dan laki-laki yang bersama Mama itu sedang memerankan sebuah drama agar aku jatuh ke dalam perangkapnya?' Shanaya masih bertanya-tanya dalam hati, saat tiba-tiba netranya terpaku pada deretan photo berukuran besar yang tergantung di dinding kamar itu.
Dengan kasar, Shanaya mencopot jarum infus yang terpasang di punggung tangannya, tidak peduli darah mulai mengalir ke sela-sela jarinya.
'Apa-apaan ini.. Ada banyak photoku bersama Mama, Shawn dan juga laki-laki itu. Bahkan sejak aku kecil, remaja hingga dewasa? Bukankah aku selama ini selalu tinggal bersama Papa? Aku sama sekali tidak pernah tinggal dengan mereka. Apa mereka sengaja merekayasa photo-photo ini untuk mengelabuiku?'
Shanaya memaksa otaknya untuk mengingat kenangan apapun di masa lalunya, namun kepala Shanaya mendadak sakit karena berpikir terlalu keras. Seketika dia berjongkok seraya memegangi kepalanya yang seakan mau meledak.
Tiba-tiba pintu kamar Shanaya terbuka, Sall yang melihat putrinya berjongkok di lantai sambil memegangi kepalanya merasa panik. Sall ikut berjongkok di depan putrinya dengan kedua tangan memegangi lengannya.
"Shanaya.. Apa yang terjadi Sayang?"
Shanaya refleks mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki yang berada dihadapannya. Laki-laki dengan netra berwarna hazel sama sepertinya. Anehnya bukan kebencian yang Shanaya rasakan saat menatapnya, namun perasaan yang sulit didefinisikan. Perasaan dimana dirinya ingin sekali menghapus raut cemas dan sedih di wajah laki-laki itu.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️