
Tibanya Shawn, Shanaya beserta rombongan disambut senja kota Bandung yang indah dan mendamaikan. Shanaya tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya, bisa kembali ke kota ini setelah konferensi pers-nya di London. Karena memang sebenarnya Shanaya masih sangat nyaman berada disana. Sayangnya Sall dan Sanchia tidak ikut di liburan mendadak kali ini, karena harus berangkat ke Spanyol untuk menghadiri pertemuan penting dengan beberapa klan besar disana.
Menempuh perjalanan London, Jakarta dan lanjut ke Bandung yang hampir mencapai 20 jam itu, tampaknya tidak menyurutkan semangat Shanaya untuk segera mencari makanan yang sangat diinginkannya. Mereka dijemput oleh anggota klan Toddestern yang menjaga mansion Knight di Bandung. Bukannya langsung pulang ke mansion, Shanaya malah langsung meminta Shawn untuk menemaninya mencari rujak tumbuk di daerah alun-alun kota Bandung.
Shawn bernafas lega, saat netranya melihat sebuah gerobak yang menjual rujak tumbuk. Segera dihampirinya pedagang rujak itu, dengan tangan yang tidak lepas menggenggam tangan Shanaya.
"Pak, saya beli semua rujak tumbuknya. Tolong dibungkus ya Pak." Ucap Shawn.
"Aduh maaf, tapi rujak tumbuknya habis."
"Habis?"
Perkataan bapak penjual rujak tumbuk itu bagaikan petir yang menyambar bagi Shawn. Terlebih saat dilihatnya wajah Shanaya sudah memberengut karena kecewa, bahkan matanya terlihat mulai berkaca-kaca, membuat Shawn khawatir.
"Ya sudah, terima kasih Pak."
Shawn menarik lembut tangan Shanaya menuju mobil mereka kembali.
"Tidak apa-apa Sweetheart, kita cari lagi ya. Tidak mungkin kan semua rujak tumbuk di seluruh Bandung habis semua." Shanaya mengangguk dan mengulas senyum terpaksanya, lalu masuk kembali ke dalam mobil yang sengaja dikendarai oleh Shawn, untuk mencari rujak tumbuk di tempat lain. Drake pun sudah menyebar anak buahnya, agar mereka bisa segera menemukan apa yang mereka cari.
Akhirnya setelah berkeliling hampir setengah jam, akhirnya Shawn berhasil menemukan gerobak penjual rujak tumbuk yang masih banyak dagangannya di salah satu taman. Bahkan saat Shawn mengatakan kalau dirinya akan memborong semua dagangannya, bapak berusia senja itu tampak terharu dan hampir menangis karena rasa syukurnya.
Shawn tersenyum senang melihat Shanaya yang duduk di bangku taman tepat disebelahnya, begitu lahap memakan rujak tumbuknya. Bahkan rujak beralas daun pisang itu tandas hanya dalam beberapa menit saja.
"Pak tolong satu lagi ya.." Pinta Shanaya.
"Siap Neng.." Jawab bapak penjual rujak bersemangat. Apalagi setelah tahu kalau pembelinya ini sedang hamil muda, setelah Shawn memberikan penjelasan singkat sebelumnya.
"Sweetheart, cukup dua saja ya.. Sisanya nanti kita bungkus. Kalau langsung makan banyak, takutnya kamu sakit perut." Shawn mengingatkan Shanaya, namun dibalas raut memprotes dengan kening berkerut dan netra menatap tajam. Bukannya takut, Shawn justru tersenyum dan mengelus puncak kepala Shanaya karena gemas.
"Kamu seperti kucing yang diganggu saat makan, galak, hihi.." Ucapan usil Shawn langsung dibalas tatapan galak Shanaya.
Bukan hanya Shanaya yang menikmati jajanannya, tapi juga Shawn, Drake dan semua anak buahnya ikut menikmati berbagai jajanan kota Bandung sambil memandangi langit senja dan keriuhan orang-orang yang menghabiskan waktu di taman itu. Jajanan seperti batagor, siomay, cilok, cimol, es pisang ijo, es cendol, es goyobod, basreng, sampai bajigur mereka coba sampai perut mereka penuh. Bahkan mereka semua begitu bersemangat menerima tawaran Shawn untuk membungkus makanan yang masih mereka inginkan.
Tentunya pemandangan ini cukup menyita perhatian banyak orang yang berada di sekitar taman itu. Bukan cuma wajah bule rupawan Shawn, Shanaya dan juga Drake yang membuat banyak orang terpana, tetapi juga wajah para anggota klan Toddestern yang juga berwajah asing rupawan lengkap dengan pakaian hitam formal mereka. Lucunya wajah dan penampilan mereka, begitu kontras dengan apa yang mereka lakukan, yaitu jajan sambil duduk santai di pinggir jalan.
Setelah menghabiskan 3 porsi rujak tumbuk, akhirnya Shanaya menyerah dengan memegang perutnya yang terasa penuh. Lagi-lagi Shawn tersenyum sambil mengelus puncak kepala Shanaya, lalu mengecupnya sekilas karena gemas.
"Sudah kenyang ya?" Pertanyaan Shawn dibalas Shanaya dengan anggukan.
Pandangan Shawn beralih pada bapak penjual rujak tumbuk yang masih melayani anak buah Shawn yang ikut menikmati segarnya rujak tumbuk buatan si bapak.
"Pak, sudah dibungkus semua?" Tanya Shawn.
"Sebentar lagi Sep, punten lami.." Jawab bapak penjual rujak, membuat Shawn bingung.
"Sweetheart, kenapa bapak itu memanggilku Sep? Memang artinya apa?" Bisik Shawn di telinga Shanaya.
"Mungkin panggilan dalam bahasa sunda, Honey. Aku hanya tahu akang, aa, teteh, hmm.. apa lagi ya.."
Shawn dan Shanaya masih membahas beberapa kata dalam bahasa sunda yang mereka ketahui, sampai perkataan bapak penjual rujak tumbuk menghentikan obrolan mereka.
"Sudah semua Sep.. Ini rujak beubeuknya." Dua kantong plastik besar yang disodorkan bapak penjual rujak tumbuk kepada Shawn, langsung disambut Drake.
"Biar saya saja yang pegang Pak."
"Oh iya Sep.." Kali ini giliran Drake yang kebingungan mendengar panggilan dari bapak penjual rujak.
"Oh iya, nama bapak siapa?" Shawn bertanya sembari mencari-cari sesuatu dari dalam handbag-nya
"Nama saya Rohman, Sep.."
"Ini buat bapak.. Besok bapak datang ke rumah saya ya, nanti bapak dijemput anak buah saya disini. Ada sedikit hadiah buat bapak." Netra Pak Rohman membulat sempurna menerima segepok uang berwarna merah dari Shawn. Tangannya bahkan bergetar hebat memegang betapa tebalnya tumpukan uang itu.
"Sep.. Tapi ini banyak sekali." Mata Pak Rohman berkaca-kaca.
"Tidak Pak. Justru saya berterima kasih sekali sama Pak Rohman. Mungkin bapak tidak sadar adanya bapak dan dagangan bapak ini, bisa memberikan istri saya kebahagiaan yang tidak bisa saya berikan secara langsung." Ucap Shawn, yang diangguki Shanaya disertai senyum tulus pada suaminya.
"Benar kata suami saya Pak, kalau tidak ada bapak dan rujak tumbuk buatan bapak yang sangat enak ini, mungkin saya tidak akan bisa tidur malam ini. Terima kasih banyak ya Pak." Pak Rohman tersenyum haru mendengar perkataan Shawn dan Shanaya.
"Justru saya yang harus lebih berterima kasih Sep.. Neng.. Semoga bayi dalam kandungannya selalu sehat, menjadi anak soleh soleha seperti orangtuanya. Asep dan Neng juga, semoga selalu bahagia ya.." Doa Pak Rohman begitu tulus.
"Aamiin.. Terima kasih ya Pak doanya." Jawab Shawn dan Shanaya bersamaan.
Setelah bersalaman dan pamit pada Pak Rohman, Shawn dan Shanaya pulang ke mansion mereka. Di perjalanan pulang keduanya tidak henti menyunggingkan senyum.
Shawn tersenyum sekilas pada Shanaya, lalu kembali memandang jalan dihadapannya.
"Modal usaha Sweetheart.. Aku ingin membelikan Pak Rohman sebuah tempat untuknya berjualan. Tapi meskipun Pak Rohman sudah berjualan di tempat yang bagus, aku ingin Pak Rohman tidak menghilangkan ciri khasnya yang menggunakan gerobak dorong. Agar ibu hamil seperti kamu yang inginnya rujak tumbuk yang menggunakan gerobak, masih tetap mau makan disana, hehehe.." Shanaya ikut tertawa mendengar penjelasan Shawn. Namun terselip rasa kagum di hati Shanaya terhadap Shawn, atas kepedulian suaminya itu pada seorang pedagang kecil seperti Pak Rohman.
"Aku sangat bersyukur memiliki suami sepertimu Honey. Aku memang sudah terbiasa melihatmu terlibat aktif dalam acara-acara amal yang sangat besar. Aku juga bersyukur karena dididik oleh orangtua yang berjiwa sosial tinggi. Tapi melihatmu melakukan hal yang sederhana namun begitu dihargai oleh Pak Rohman, membuatku terharu Honey."
"Mungkin bagi kita uang segitu bukanlah apa-apa, tapi bagi Pak Rohman pastinya begitu disyukuri. Dan Pak Rohman tidak tahu, justru akulah yang lebih bersyukur bertemu dengannya. Kalau tidak ada Pak Rohman, kamu tidak bisa menikmati makanan yang kamu inginkan Sweetheart. Kamu bisa menangis dan tidak tidur semalaman. Tentunya hal itu akan membuatku sedih dan merasa bersalah karena tidak bisa memberikan apa yang kamu mau. Melalui tangan Pak Rohman, kamu bisa sebahagia itu, dan aku sangat bersyukur dan berterima kasih. Jadi benar kan, tidak selamanya kebahagiaan bisa dibeli dengan uang." Hati Shanaya terenyuh, diciumnya pipi Shawn sekilas, hingga menarik lengkungan di kedua sudut bibir Shawn.
"Kamu benar Honey.."
*************************
Menjelang jam 9 malam, Shawn dan Shanaya sudah terlelap di kamar pribadi mereka. Rasa lelah membuat mereka memutuskan beristirahat lebih cepat. Berbeda dengan Drake yang berangkat menuju Hotel Knight untuk memberikan kejutan special untuk kekasihnya, Keiva. Memang Drake sengaja tidak memberitahu Keiva kalau dirinya akan kembali ke Bandung. Drake juga meminta Shanaya dan Shawn untuk melakukan hal yang sama, agar rencananya tidak gagal.
Sebuket mawar merah dan sebuah kotak perhiasan yang dimasukan ke dalam kantong jasnya sudah siap melengkapi kejutan Drake malam ini. Raut wajahnya begitu bahagia dan bersemangat saat menyusuri koridor hotel yang menuju ke ruang kerja Keiva. Namun tiba-tiba langkahnya berhenti saat dilihatnya Keiva sedang berdiri berhadapan di depan pintu ruang kerjanya, dengan seorang laki-laki yang sangat Drake kenal.
Sayup-sayup Drake masih bisa mendengar pembicaraan mereka, karena jarak yang tidak terlalu jauh. Beruntung posisi mereka tidak bisa melihat secara langsung kedatangan Drake dari arah samping. Drake memilih bersembunyi di dekat persimpangan koridor hotel, agar dua orang manusia itu tidak menyadari kehadirannya.
"Terima kasih ya Keiva.. Sudah menemaniku makan malam dan mendengarkan ocehanku yang sedang patah hati ini."
"Sama-sama Briley.." Jawab Keiva disertai ulasan senyum.
"Hmm, Keiva.. Aku baru menyadari kalau hanya kamulah yang paling mengerti aku, dari kita kecil sampai saat ini. Ada suatu perasaan yang baru aku sadari, kalau hanya kamulah yang bisa membuatku nyaman dan merasa dipedulikan. Aku.. menyayangimu Keiva.." Ungkapan hati Briley berhasil membuat Keiva terdiam, tidak menyangka kalau akhirnya ucapan itu bisa keluar dari mulut Briley.
Di sudut lain, Drake merasakan sesak di hatinya. Pikirannya berkecamuk, menebak-nebak isi hati Keiva yang mungkin saat ini sedang bersorak kegirangan karena perasaan yang dipendamnya sejak lama, akhirnya berbalas.
"Keiva.. Aku tahu, kamu mungkin terkejut dengan pengakuanku ini. Kamu juga mungkin hanya menganggapku sebagai sahabat, tapi aku serius dengan apa yang aku ungkapkan.. Aku ingin kita bukan hanya sebagai sahabat saja, aku ingin kamu menjadi kekasihku, Keiva.."
Selang beberapa detik, Keiva masih belum mengeluarkan sepatah katapun. Hingga sebuah panggilan masuk menginterupsi obrolan mereka.
Drake sengaja berjalan menjauh, untuk menelepon Keiva. Sejujurnya Drake merasa takut kalau Keiva akan menerima perasaan Briley. Tapi sebagai seseorang yang sudah resmi menjadi kekasih Keiva, Drake ingin menguji perasaan dan juga kejujuran kekasihnya itu.
"Hallo.."
"Hallo Babe, sedang apa?"
"Aku baru selesai makan malam, mau ke ruang kerja untuk mengerjakan beberapa laporan." Ekspresi Drake masih biasa, karena Keiva setidaknya masih mengatakan yang sebenarnya.
"Oh begitu.. Kamu sendirian?"
"Iya.." Jantung Drake bagaikan dihantam batu, karena Keiva ternyata sudah berani membohonginya.
"Aku pikir kamu sedang bersama laki-laki lain.."
"Tentu saja tidak.." Tanpa sadar Drake mengukir senyum sinisnya, saat mendengar ucapan Keiva.
"Apa ada yang ingin kamu ceritakan Babe?"
"Hmm, tidak ada.."
"Baiklah, aku tutup dulu ya.. Bye.."
"Iya, bye.."
Setelah menutup panggilan teleponnya, Drake bergegas kembali ke tempatnya semula, untuk kembali menguping pembicaraan Keiva dan Briley.
"Telepon dari siapa Kei? Tanya Briley penasaran.
"Teman.."
Jawaban singkat Keiva seketika membuat hati Drake berdenyut, rasa kecewa muncul tanpa bisa ditahan.
'Ternyata tidak diakui itu rasanya sesakit ini.' Lirih Drake dalam hati.
Drake memilih pergi meninggalkan tempat itu, setelah terlebih dahulu membuang buket bunga mawarnya ke tempat sampah.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️