
Gemuruh emosi terpancar jelas disertai kepalan tangan dan rahang yang mengeras tatkala sepasang netra biru Shawn menatap salah satu rekaman CCTV di ruang tamu mansion Alrico. Perempuan yang dicintainya terlihat dipeluk mesra oleh Sheran musuh besarnya. Yang membuat Shawn semakin marah adalah reaksi Shanaya yang sama sekali tidak menolak pelukan Sheran itu.
'Shanaya.. Kenapa kamu tidak menolak pelukan laki-laki itu? Apa kamu percaya kalau dia adalah tunanganmu?' Emosi Shawn.
Sebenarnya saat ini Shawn dan ratusan anak buahnya sudah berada di dalam mobil mereka masing-masing, tidak jauh dari mansion Alrico. Tepat malam ini, Shawn berniat membawa lari Shanaya dari mansion Alrico, karena merasa misinya untuk meyakinkan Shanaya dan membawanya pergi secara baik-baik tidak akan membuahkan hasil.
"Jika tidak malam ini, Shanaya akan semakin percaya pada kebohongan Alrico dan Sheran. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku harus bisa membawa Shanaya malam ini. Sekalipun Shanaya akan berbalik membenciku.' Tekad Shawn dalam hati.
Saat sedang memantau kondisi mansion dari rekaman CCTV dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang, Shawn menerima panggilan telepon dari Sall.
"Hallo.. Ada apa Dad?"
"Son, kenapa kamu meminta banyak anggota klan untuk pergi ke Dubai? Apa kamu sedang menjalankan misi? Kenapa kamu tidak bercerita pada Daddy?" Shawn hanya tersenyum mendengar pertanyaan Sall yang lebih mirip cecaran.
"Maafkan aku Dad, sebenarnya aku hanya tidak ingin menambah beban pikiran Daddy, Daddy sudah cukup sibuk dengan urusan perusahaan dan juga merawat Mommy. Cukup berikan aku restu, agar misi kami malam ini bisa berhasil. Aku akan memberikan kejutan special jika misi ini berhasil." Perkataan Shawn bukannya menciptakan kelegaan untuk Sall, namun justru membuat pikiran Sall semakin penuh tanya.
"Apa maksudmu Son? Jangan menyembunyikan apapun dari Daddy. Daddy sungguh khawatir akan keselamatanmu."
Shawn paham sekali dengan nada bicara Daddy-nya yang terdengar sangat cemas padanya. Setelah duka kematian Shanaya dan koma-nya Sang Istri yang sangat lama, Sall memang berubah sangat overprotective pada Shawn. Sall sungguh takut kehilangan orang yang dia sayangi untuk kesekian kalinya.
"Tapi Son, kenapa kamu meminta Arthur untuk mengirimkan semua dokumen identitas Shanaya? Apa yang sedang kamu rencanakan Son?"
"Percaya padaku Dad.. Aku tidak akan mengecewakan Daddy." Ucap Shawn yakin.
Terdengar helaan nafas yang cukup panjang dari Sall, kali ini Sall memutuskan untuk mempercayai Putranya dan tidak mendesak Shawn untuk bercerita lebih jauh lagi. Meskipun Sall diam-diam mencari informasi dari orang-orang kepercayaannya, tentang misi yang akan dilakukan Shawn di Dubai saat ini.
Shawn melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan tepat jam 12 malam, setelah menutup panggilan telepon dari Sang Daddy.
"Bersiaplah.. Semua penghuni mansion sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Bergeraklah sesuai formasi dan strategi yang aku susun. Aku tidak mau mendengar kata gagal." Ujar Shawn pada Drake yang kemudian meneruskannya pada semua anak buahnya yang sudah siap di posisinya masing-masing.
Shawn, Drake dan ratusan anak buahnya bergerak bersamaan menerobos sistem keamanan mansion yang sudah mereka lumpuhkan. Tidak lupa dengan pakaian serba hitam dan topeng yang menjadi identitas Klan Toddestern.
Shawn pun sudah membuat semua camera CCTV mansion itu menjadi mode pause, tanpa mematikannya. Sengaja agar camera CCTV tidak merekam kedatangan Shawn dan anak buahnya, namun juga tidak membuat penjaga mansion Alrico curiga, karena camera CCTV yang tiba-tiba mati.
Shawn masuk bersama Drake dan beberapa anak buahnya dari pintu belakang mansion, sedangkan sisanya menerobos dari berbagai arah. Shawn langsung menuju kamar Shanaya yang menjadi tujuan satu-satunya.
Namun alangkah terkejut dan marahnya Shawn, saat dilihatnya Sheran sedang duduk di tepi tempat tidur dan memandang Shanaya yang tertidur lelap. Sheran berdiri dari duduknya, tidak menyangka akan kedatangan tamu yang sangat tidak diharapkannya.
"Shawn Salazar Knight?" Ucap Sheran pelan, namun masih terdengar jelas oleh Shawn.
Shawn segera membuka topengnya, menampakkan seringai sinis pada Sheran yang mulai bersikap siaga.
"Sheran M. Laurent.. Sudah cukup drama konyol yang kamu dan Papamu perankan. Cara kalian benar-benar sangat pengecut dengan menculik, menghilangkan ingatan dan menipu Shanaya seperti ini." Perkataan Shawn cukup menohok hati Sheran, karena dia pun membenarkan apa yang dikatakan Shawn barusan.
"Aaaaa.." Shanaya berteriak kencang saat peluru milik Sheran bersarang di perut dan dada Shawn.
Shawn meringis menahan sakit, sebelum menembak paha dan lengan Sheran, hingga pistol yang dipegang Sheran terhempas ke lantai.
"Shanaya.. Ikutlah denganku Sayang." Shanaya menggelengkan kepalanya menolak permintaan Shawn. Dia malah menghampiri Sheran yang jatuh terduduk di atas lantai dan mengkhawatirkan keadaannya.
"Sheran, bertahanlah.. Kamu akan baik-baik saja."
Pemandangan dihadapannya tentu saja sangat menyakiti Shawn. Shanaya lebih memilih menghampiri Sheran dibanding dirinya yang terluka lebih parah.
"Shawn, ayo kita pergi.. Keberadaan kita sudah diketahui, kita mulai terdesak." Drake yang tiba-tiba masuk, segera berbisik di telinga Shawn.
Shawn segera menarik tangan Shanaya yang sedang menekan paha dan lengan Sheran dengan selimut.
"Aku tidak mau." Shanaya berontak, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Shawn. Namun tentu saja Shawn tidak berniat melepas cengkeraman tangannya kali ini. Meskipun Sheran juga menahan pergerakan Shawn dengan sisa-sisa tenaganya.
Shawn mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam saku celananya dan langsung membekap mulut Shanaya. Beberapa saat kemudian, Shanaya tiba-tiba kehilangan kesadarannya. Sementara Drake dan beberapa anak buahnya segera mengikat tubuh Sheran di atas tempat tidur, sebelum akhirnya menyusul Shawn yang berjalan keluar dengan menggendong tubuh Shanaya.
*************************
Di sebuah kamar yang terasa asing, Shanaya terbangun dengan rasa pusing di kepalanya. Diedarkan pandangannya ke segala arah dan berusaha mengingat apa yang sudah terjadi padanya beberapa waktu lalu.
'Aku seperti sedang berada di dalam sebuah private jet. Lalu apa yang terjadi padaku sebenarnya?' Tanya Shanaya dalam hati.
Tiba-tiba seorang pelayan masuk tanpa mengetuk pintu, dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Baguslah anda sudah bangun Nona. Ini saya bawakan makanan dan minuman untuk anda." Ujar sang pelayan seraya meletakkan nampannya di atas meja.
"Dimana aku?" Tanya Shanaya.
"Kita sedang dalam perjalanan menuju Birmingham Nona."
"Apaaa?"
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️