Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King
Episode 68 Hati-hati Menjaga Hati



Menjelang petang, Shawn dan Drake baru selesai melakukan virtual meeting di ruang kerja Shawn, dengan jajaran management perusahaan di Inggris. Saat ini di London, baru menjelang jam makan siang, karena rentang waktu yang berbeda sekitar 6 jam.


Sebagai seorang CEO Knight Group Company, mengharuskan Shawn untuk tetap profesional dan bertanggung jawab pada pekerjaannya, meskipun dirinya tidak bisa datang ke perusahaan secara langsung saat ini. Terlebih posisinya sebagai Ketua Klan Toddestern juga menuntutnya untuk selalu sigap menjaga klannya. Hingga Shawn selalu memantau keadaan klannya melalui orang-orang kepercayaannya dari kejauhan.


Namun selama meeting kali ini, Shawn memperhatikan ada yang berbeda dari Drake. Asisten sekaligus sahabatnya itu tampak tidak fokus memperhatikan jalannya meeting. Berkali-kali Shawn menegur Drake yang kedapatan melamun saat berjalannya meeting. Bahkan Drake tidak menanggapi Shawn, saat Shawn memintanya mengcollect data monthly report dari semua department di perusahaan.


"Drake, ada apa sebenarnya? Kenapa hari ini kamu terlihat tidak fokus? Seperti sedang memikirkan sesuatu.." Shawn yang duduk berhadapan dengan Drake, menyesap americano-nya dengan tatapan mengarah pada Drake yang juga mulai menyesap minuman yang sama.


"Tidak ada.. Aku hanya sedikit tidak bersemangat." Jawab Drake, masih enggan terbuka pada Shawn.


"Hmm, apa ada masalah dengan Keiva? Kemarin kamu tampak bersemangat datang ke Bandung, tapi sekarang kamu bilang tidak bersemangat. Apa kamu belum bertemu dengan Keiva?" Drake sedikit terkejut karena ternyata Shawn bisa menebak perubahan sikapnya ada hubungannya dengan Keiva. Drake memang sudah bercerita pada Shawn dan Shanaya tentang dirinya yang sudah berpacaran dengan Keiva. Kedua suami istri itu bahkan sangat mendukungnya. Tapi ternyata hubungan yang bahkan belum seumur jagung itu, sudah bermasalah saat ini.


"Aku tidak akan menemui Keiva, karena sepertinya dia tidak mengharapkan kedatanganku." Jawaban datar Drake membuat Shawn memicingkan matanya, tidak mengerti dengan alasan perkataan Drake barusan.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Tanya Shawn tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Drake menghela nafas panjang, sebelum akhirnya memutuskan bercerita tentang kejadian di Hotel Knight 2 malam sebelumnya pada Shawn.


Giliran Shawn yang menarik nafas panjang, setelah mendengar cerita Drake tentang Keiva dan Briley.


"Memang si kembar itu selalu membuat kacau semua hal." Keluh Shawn yang malah memancing senyum Drake. Karena apa yang diucapkan Shawn juga mengarah pada Bradley, saudara kembar Briley yang juga sering membuat Shawn kesal, saat dulu mendekati Shanaya.


"Drake, lebih baik kamu temui Keiva. Tanya perasaannya secara langsung, supaya kamu juga tidak bertanya-tanya terus tentang apa yang Keiva rasakan sebenarnya. Kamu sudah menjadi pacarnya, kamu juga berhak mendapat penjelasan tentang kedekatannya dengan Briley." Mendengar ucapan Shawn, Drake malah menggeleng cepat.


"Sejujurnya aku tidak siap, jika dia mengatakan kalau dia menerima perasaan Briley dan meminta putus denganku." Shawn sedikit terhenyak dengan penuturan Drake yang jelas terlihat sangat putus asa disertai raut sendunya. Shawn baru menyadari kalau ternyata Drake memiliki perasaan yang begitu besar terhadap Keiva.


"Tapi apa kamu akan tetap menebak-nebak seperti ini? Kamu tidak akan pernah tenang, dan terus memikirkan sesuatu yang belum tentu juga seperti yang kamu kira, Drake."


"Hmm, iya aku tahu.. Tapi saat ini aku belum siap menerima keadaan terburuk. Aku baru saja merasa bahagia, karena  perasaan yang aku pendam bertahun-tahun, akhirnya berbalas juga. Tapi ternyata kenyataannya tidak berjalan sesuai harapan." Drake kembali menyesap americano-nya.


"Pikirkan baik-baik, kamu tidak bisa selamanya menghindar. Hadapilah, meskipun kamu tahu ada kemungkinan terburuk. Belum tentu hasilnya seburuk yang kamu kira.. Semangat Drake.." Drake hanya tersenyum dan mengangguk samar, mendengar nasehat bijak Shawn.


Tiba-tiba pintu ruang kerja Shawn terbuka tanpa didahului ketukan sebelumnya. Seketika muncullah wajah Shanaya yang memberengut ke arah Shawn.


"Honey, aku mau makan di cafe yang sedang viral di Bandung. Katanya ada berbagai macam dessert yang sangat special, aku mau mencobanya." Shawn langsung mengangguk menanggapi permintaan Shanaya. Shawn bahkan langsung berdiri menghampiri Shanaya yang masih berdiri di depan pintu.


"Baiklah, ayo kita makan apapun yang kamu mau." Ucap Shawn yang langsung membuat Shanaya berbinar senang.


"Asyiiiik.. Ayo berangkat sekarang saja Honey." Shanaya menarik pelan tangan Shawn keluar dari ruang kerjanya.


"Drake ikutlah.." Ujar Shawn yang diangguki Drake dengan malas. Sesungguhnya Drake sedang tidak ingin pergi kemana-mana, tapi menemani dan menjaga keselamatan Shawn dan Shanaya adalah bagian dari tugas utamanya sebagai asisten Shawn juga anggota Klan Toddestern.


**************************


Suasana cafe yang dimaksud Shanaya begitu ramai dipenuhi anak-anak muda yang berasal dari Kota Bandung bahkan luar kota. Shawn sedikit tidak nyaman, karena tidak suka dengan suasana yang terlalu berisik dengan keriuhan canda tawa para pengunjung cafe. Untung saja cafe itu mempunyai private room yang diperuntukkan bagi pengunjung sejenis Shawn, yang ingin menikmati makanan dan suasana cafe tanpa terganggu privacy-nya. Sehingga Shawn dan Shanaya memutuskan makan di private room.


Shawn sebenarnya sedikit merasa khawatir dengan keadaan Drake yang sedang tidak baik-baik saja, tapi dia juga mengerti kalau Drake enggan mengganggu kebersamaan dan tentunya keromantisan Shawn dan Shanaya.


Tapi setidaknya Shawn tidak khawatir, karena cafe ini tidak menyediakan minuman beralkohol meskipun menyediakan sebuah mini bar. Shawn sempat tahu, kalau Drake pernah mabuk saat patah hati ditolak Keiva. Dan Shawn pun berpikir kalau Drake akan melakukan hal yang sama, jika minuman jenis itu ada dihadapannya.


"Baiklah.. Ajaklah beberapa pengawal untuk menemanimu, atau kamu bisa berkenalan dengan banyak gadis cantik disana." Ucapan Shawn itu, rupanya memancing rasa kesal Shanaya. Tiba-tiba Shanaya menarik tangan Shawn agar segera masuk ke dalam private room yang sudah mereka pesan, lalu menjewer telinga Shawn setelah menutup pintu terlebih dahulu.


"Aduh.. Kenapa kamu menjewer telingaku Sweetheart." Protes Shawn dengan mengelus telinganya yang terasa panas.


"Kamu berani ya memuji gadis-gadis itu cantik, didepanku." Shanaya duduk di atas sofa seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Seketika netra Shawn membola menyadari kesalahan besar apa yang sudah dia lakukan.


"Maafkan aku Sweetheart, aku bukan memuji gadis-gadis itu, hanya sedang memberi saran pada Drake agar dia tidak bosan." Shawn berusaha membela dirinya dengan tangan mengelus pelan lengan Shanaya.


"Kalau sekedar memberi saran, tidak perlu mengatakan cantik juga kan? Lagipula, kenapa kamu memberikan saran seperti itu pada seseorang yang sudah mempunyai kekasih? Aku tahu, sebenarnya kamu sudah memperhatikan gadis-gadis itu sejak masuk ke cafe ini kan?" Shawn mulai pusing memikirkan cara meyakinkan istrinya itu. Bahkan perdebatan diantara mereka baru berhenti, setelah makanan yang mereka pesan akhirnya datang, mengalihkan perhatian Shanaya dari kemarahannya.


'Akhirnya.. Selamat..Selamat..' Batin Shawn seraya mengulas senyum. Namun ternyata kelegaan Shawn itu tidak berlangsung lama.


"Ingat.. Masalah kita belum selesai." Ujar Shanaya dengan mengacungkan sepotong marshmallow toast with ice cream, yang ditusuk dengan garpu.


'Aduh mati aku.. Setelah hamil, istriku ini semakin cemburuan dan galak.. Aku harus lebih menjaga perasaan Shanaya, dan tentunya lebih hati-hati menjaga mulutku.' Batin Shawn, tanpa sadar memukul bibirnya.


Mendadak sosok CEO dan Ketua Klan mafia yang dingin dan menakutkan itu selalu berubah saat berhadapan dengan istrinya. Untung saja Shanaya tidak pernah menunjukkan kekesalan atau bersikap kekanak-kanakan yang bisa mempermalukan Shawn didepan anak buahnya. Tapi Shanaya hanya bersikap seperti itu saat mereka sedang berdua saja.


*************************


Drake menikmati ice cream sandwich dengan pandangan tidak lepas dari gadget-nya. Namun tiba-tiba arah pandangnya beralih saat telinga sensitifnya menangkap suara yang sangat dikenalnya.


Beberapa saat kemudian, netra Drake bertatapan dengan mata sipit Keiva yang terlihat mematung karena tidak menyangka akan kehadiran Drake dihadapannya. Namun berbeda dengan Keiva, Drake terlihat mengulas senyum sinis pada Keiva, terlebih saat pandangan mata Drake mengarah pada tangan Keiva yang tampak digenggam erat oleh Briley yang berdiri disebelahnya.


"Drake.." Lirih Keiva.


Drake memilih berdiri, lalu berjalan dengan langkahnya yang lebar melewati Keiva begitu saja. Tidak peduli dengan panggilan Keiva padanya. Apalagi Drake sempat melihat kalau Briley terus menahan tangan Keiva yang meminta dilepaskan, hingga Keiva tidak bisa menyusulnya ke parkiran cafe.


Drake memutuskan masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukannya keluar dari area cafe. Entah kemana tujuan Drake saat ini, yang jelas dia ingin menjauh dari seseorang yang sudah membuat hatinya sakit.


'Jadi ini jawabanmu.. Inilah akhirnya..' Lirih Drake dalam hati.


*************************


Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.


Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️