
WARNING..!!
Ada sedikit adegan dewasa, mohon bijak memilih bacaan. Bocil harap menyingkir ya..
*************************
Dinginnya angin malam kota Bandung, membuat Shawn dan Shanaya tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama di rooftop Hotel Knight, setelah makan malam romantis mereka. Apalagi pihak hotel sudah memberitahukan, kalau kemungkinan akan turun hujan, sehingga Shawn dan Shanaya memilih kembali ke kamar setelah mengisi perut dan menikmati suasana romantis yang di suguhkan.
Setelah keduanya mengganti gaun malam dengan pakaian tidur, Shawn mengajak Shanaya berbaring di atas tempat tidur. Kedua insan yang baru mereguk indahnya pernikahan itu saling memandang dalam diam. Tangan mereka saling menggenggam dengan lengkungan terukir indah di kedua sudut bibir mereka masing-masing.
"Apa kamu bahagia?" Pertanyaan lembut Shawn dibalas anggukan mantap oleh Shanaya.
"Iya aku sangat bahagia, Sayang.. Terima kasih juga untuk hadiahnya, kalungnya cantik sekali." Ucap Shanaya seraya memegang kalung berlian yang baru diberikan Shawn saat dinner romantis mereka tadi. Shawn tersenyum puas, karena Shanaya terlihat menyukai kalung pemberiannya. Padahal saat akad nikah, Shanaya sudah menerima cukup banyak perhiasan dari Shawn, termasuk salah satu maharnya berupa seperangkat perhiasan berlian berharga fantastis.
"Sama-sama Sayang.. Kecantikanmu membuat kalung itu tampak lebih indah saat kamu pakai." Pujian Shawn membuat pipi Shanaya merona seketika. Tangan Shawn terulur memegang liontin kalung Shanaya yang tepat berada di atas belahan dada Shanaya. Namun detik berikutnya, tangan nakal Shawn mulai bergerak perlahan menyusuri dada dan leher Shanaya, seraya mengikis jarak diantara tubuh mereka.
Cup..
Shawn melabuhkan bibirnya tepat di bibir Shanaya, pagutan penuh gairah itu langsung bersambut. Keduanya saling memeluk erat, namun sebelah tangan Shawn begitu bersemangat menjelajah bukit kembar Shanaya secara bergantian, membuat Shanaya mengejang dan mengeluarkan suara-suara manisnya.
Lidah Shawn mulai menari-nari di bagian atas tubuh Shanaya, meninggalkan banyak sekali jejak kepemilikan berwarna merah keunguan. Shawn bukan hanya memburu dan memberikan kenikmatan, namun juga ada kepuasan tersendiri saat tanda-tanda kepemilikan itu tercetak di beberapa bagian tubuh istrinya.
'Kamu adalah milikku Sayang, hanya milikku..' Ucap Shawn dalam hati.
*************************
Pagi hari yang cerah dengan cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui jendela kamar, membangunkan Shawn dan Shanaya dari tidur lelap mereka. Namun Shawn yang memeluk tubuh Shanaya dari belakang, terlihat enggan melepas pelukannya, saat Shanaya hendak melepas tangan Shawn dari perutnya.
"Good morning Sayang.. Aku kira kamu belum bangun." Ucap Shanaya seraya memiringkan kepalanya ke belakang.
"Aku sudah bangun, tapi aku masih agak mengantuk Sayang." Ujar Shawn dengan suara seraknya.
"Sayang, bangun yuk... Kita mau sarapan di kamar atau ke restaurant saja?" Tanya Shanaya.
"Disini saja Sayang, aku malas turun." Jawab Shawn tanpa membuka matanya.
"Baiklah.. Tapi aku ada perlu dengan Keiva siang ini, boleh kan aku menemuinya?" Menanggapi pertanyaan Shanaya, Shawn tidak lantas setuju. Sesungguhnya sangat berat untuknya, tidak melihat wajah istrinya meskipun hanya sebentar saja.
"Hmm.. Sebenarnya ada urusan apa Sayang? Aku ikut ya.." Tawar Shawn sambil menciumi tengkuk Shanaya, hingga Shanaya kegelian, meskipun coba ditahannya.
"Ini urusan perempuan Sayang, kamu tidak boleh ikut." Jawab Shanaya diselingi tawa kecilnya.
"Haaah.. Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya." Pinta Shawn yang terdengar seperti rajukan.
"Okay.. Ya sudah, aku akan memesan sarapan untuk kita, lalu mandi. Jadi tolong lepaskan pelukannya Sayang." Ucap Shanaya diikuti elusan di tangan Shawn yang memeluknya.
"Biar aku saja yang memesan sarapan, kamu mandi saja." Jawab Shawn seraya melepas pelukannya. Shanaya tersenyum lalu mendaratkan ciuman sekilas di bibir Shawn.
"Thank you My Hubby" Ungkap Shanaya.
"You're welcome My Lovely Wife.." Jawab Shawn, lalu mencium bibir Shanaya dengan gemas, sebelum Shanaya beranjak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Hingga beberapa saat kemudian, Shanaya yang sudah berada di kamar mandi, berteriak memanggil Shawn.
"Sayaaaaang.."
Shawn yang masih dalam posisi tidurnya, seketika beranjak turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.
"Ada apa Sayang?" Nada suara Shawn terdengar begitu panik, memandang Shanaya yang berdiri menghadap cermin besar dihadapannya.
"Apa ini Sayang? Kenapa aku terlihat seperti macan tutul begini?" Protes Shanaya.
Shawn segera mengikuti arah pandang Shanaya, namun raut paniknya tiba-tiba berubah senyuman jahil disertai kekehan kecil.
"Itu jejak kepemilikan Sayang.. Agar semua orang tahu, kalau kamu sudah ada pemiliknya." Perkataan Shawn langsung dihadiahi pukulan di lengan Shawn.
"Aduh.. Kenapa kamu memukulku?" Protes Shawn sedikit menghindar.
"Tenang Sayang, aku akan meminta Drake membelikan baju bermodel halter neck ya. Sekarang kamu mandi saja." Solusi dari Shawn segera diangguki Shanaya, sebelum akhirnya Shawn keluar dari kamar mandi.
*************************
Menjelang waktu makan siang, Shanaya terlihat berjalan-jalan bersama Keiva di sebuah mall yang tidak terlalu jauh dari Hotel Knight. Ternyata tujuan Shanaya menemui Keiva adalah untuk meminta ditemani membeli sesuatu untuk mensukseskan moment pentingnya bersama Shawn. Sebenarnya Shanaya malu meminta bantuan Keiva, tapi Shanaya sama sekali tidak mengetahui dimana bisa mendapatkan barang yang dibutuhkannya itu. Sehingga mau tidak mau, Shanaya harus meminta bantuan Keiva, meskipun sepupunya itu tidak henti tersenyum jahil, bahkan menggoda Shanaya dengan kata-kata usilnya.
"Shanaya, sepertinya lingerie bermotif macan ini sangat cocok untukmu, apalagi kalau kamu menggodanya dengan auman seksi, haha.." Shanaya memukul pelan dahi Keiva yang penuh dengan ide-ide konyol itu. Ya itulah resikonya, meminta Keiva untuk menemaninya membeli beberapa lingerie.
"Bagaimana dengan motif jaring-jaring berwarna merah ini, kamu pasti terlihat sangat hooot di mata Shawn, haha.." Shanaya hanya menggelengkan kepalanya menanggapi ide gila Keiva.
Akhirnya setelah berkeliling kurang dari 30 menit, akhirnya Shanaya memutuskan membeli 10 lingerie dengan warna, model dan motif yang berbeda. Jika Shawn menyukainya, maka Shanaya akan memenuhi salah satu sudut walk in closetnya dengan koleksi lingerie yang lebih bervariasi. Karena Shanaya ingin menyenangkan suaminya itu, meskipun sejujurnya Shanaya merasa begitu malu untuk mengenakan pakaian kurang bahan itu di depan Shawn nanti.
"Keiva, aku ke toilet dulu ya. Kamu langsung ke restaurant korea saja.." Ucap Shanaya yang langsung diangguki Keiva.
"Baiklah, aku pesankan makanan favoritmu ya." Shanaya mengangkat jempolnya menanggapi perkataan Keiva, lalu keduanya berjalan ke arah yang berbeda.
Di dalam toilet perempuan, Shanaya berpapasan dengan beberapa pengunjung mall yang memiliki tujuan yang sama sepertinya. Shanaya bergegas masuk ke dalam salah satu bilik toilet, yang posisinya berada paling ujung. Saat akan keluar, tiba-tiba tubuhnya didorong masuk kembali ke dalam bilik toilet oleh seorang pria yang membuat Shanaya membelalakan matanya.
"She..Sheran.." Suara Shanaya sedikit terbata karena terkejut juga takut.
"Hallo My Fiance (tunanganku)." Ujar Sheran, lalu memangkas jarak dengan memeluk Shanaya. Shanaya berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Sheran malah semakin erat.
"Lepaskan aku.. Berhentilah menipuku, aku bukan tunanganmu. Aku juga sudah menikah sekarang. Pergilah sebelum aku berteriak dan membuat keributan." Ancaman Shanaya hanya dibalas kekehan Sheran.
"Tidak apa, aku hanya tinggal mengatakan kalau kita adalah pengantin baru yang sedang mencoba hal-hal gila di tempat umum, hingga kamu berteriak karena terlalu menikmatinya." Wajah Sheran yang terlihat mesum, membuat Shanaya jijik. Dengan sekuat tenaga, Shanaya berusaha melepaskan diri dari Sheran, tapi usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Lepaskan aku, kamu sungguh kurang ajar.." Lagi-lagi Sheran terkekeh, tidak peduli dengan perkataan Shanaya.
"Aku kecewa karena kamu menikah dengan Shawn, padahal aku sungguh mencintaimu."Lirih Sheran, namun berhasil membuat Shanaya tercengang.
"Tapi aku tidak peduli, aku akan merebutmu dari Shawn." Tekad Sheran terpancar kuat dari matanya yang berubah tajam memandang Shanaya.
"Berhenti berkata omong kosong Sheran, kamu tak akan bisa merebutku dari suamiku." Ujar Shanaya, lalu menghadiahi senjata milik Sheran dengan tendangan, hingga Sheran meringis menahan sakit. Memanfaatkan keadaan, Shanaya segera membuka pintu dan berlari keluar dari toilet sekuat tenaga.
Tujuannya adalah restaurant dimana Keiva berada. Tapi sesampainya disana, Shanaya segera mengajak Keiva kembali ke Hotel Knight, setelah membayar semua pesanan Keiva tanpa memakannya terlebih dahulu.
Di perjalanan kembali ke Hotel Knight, Shanaya bercerita pada Keiva tentang apa yang terjadi padanya di toilet tadi. Keiva tentu saja merasa terkejut mendengarnya, tapi Shanaya meminta Keiva untuk tidak menceritakan kejadian itu pada siapapun, terutama Shawn. Karena Shanaya beranggapan, kejadian ini hanya akan membuat mood Shawn berubah buruk dan merusak suasana yang sudah membaik. Hingga Keiva setuju untuk menuruti permintaan Shanaya itu.
*************************
Sesampainya di kamar VVIP Hotel Knight yang ditempatinya bersama Shawn, Shanaya tidak menemukan keberadaan suaminya di kamar mereka. Shanaya memutuskan menghubungi Shawn, namun panggilan teleponnya tidak diangkat oleh suaminya itu.
Sambil menunggu kedatangan Shawn, Shanaya memilih membereskan barang belanjaannya di dalam lemari. Malam ini mungkin akan menjadi salah satu moment paling bersejarah bagi pernikahan Shawn dan Shanaya, karena itulah Shanaya begitu berniat membuat semuanya istimewa untuk menyenangkan suaminya.
Ceklek..
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampakkan wajah Shawn yang terlihat datar tanpa ekspresi.
"Sayang, kamu habis dari mana?" Tanya Shanaya.
"Aku keluar, cari angin. Bagaimana harimu? Menyenangkan atau tidak? Apa ada yang ingin kamu ceritakan padaku?" Pertanyaan Shawn sedikit mengejutkan Shanaya, namun Shanaya berusaha untuk terlihat biasa saja di depan Shawn.
"Tadi menyenangkan, aku berjalan-jalan bersama Keiva. Tapi tidak ada yang special, hanya menikmati waktu saja sambil berkeliling mall." Kebohongan Shanaya dibalas senyuman super tipis dan pandangan tajam Shawn.
'Jadi kamu memilih berbohong padaku? Apa berada dalam satu ruangan sempit bersama laki-laki yang bukan suamimu terasa sangat menyenangkan Shanaya? Baiklah, kita lihat sejauh mana kamu akan menutupinya dariku.' Rutuk Shawn dalam hati.
*************************
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️